
Petisi Influencer Indonesia untuk Hentikan Genosida di Gaza dan Bebas dari Penjajahan Zionis Israel
PERIHAL: Seruan Mendesak untuk Menghentikan Perang Pemusnahan dan Membuka Akses Bantuan Kemanusiaan ke Gaza
Jakarta, Melayutoday.com, – Petisi para influencer Indonesia ini dinyatakan dalam press conference Senin ( 11/8/2025) di Sebuah cafe di Kemang Jakarta. Petisi ini disampaikan kepada Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri.
Yth. Bapak Sugiono
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia
Yth. Bapak Anis Matta
Wakil Menteri Luar Negeri
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Surat ini disampaikan sebagai bagian dari petisi yang diinisiasi oleh para influencer, aktivis, dan warga negara Indonesia yang peduli, yang menyerukan kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk mengambil tindakan segera dalam merespons genosida dan krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza.
Bapak Pejabat yang Terhormat,
Kami menulis surat ini dengan penuh urgensi dan atas nama nurani rakyat Indonesia yang geram — sebuah bangsa yang telah menyaksikan dengan kemarahan dan kesedihan
mendalam genosida yang terus berlangsung di Gaza. Rakyat Indonesia telah turun ke jalan,
menyuarakan keadilan, dan berdiri teguh membela kemanusiaan.
Namun kini, mereka menuntut lebih dari sekadar kata-kata — mereka menuntut tindakan nyata dari
pemerintahnya. Solidaritas Indonesia yang telah lama terjalin dengan Palestina harus melampaui pernyataan kecaman semata. Di tengah kelaparan massal, pembunuhan yang disengaja, dan serangan langsung terhadap warga sipil, pemerintah kita harus bangkit untuk mencerminkan kejelasan moral rakyatnya. Ikatan antara bangsa kita bukan sekadar simbolik — melainkan berakar pada sejarah, perjuangan bersama, dan martabat kolektif.
Saat bencana kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik yang tak tertahankan, rakyat Indonesia mengharapkan para pemimpinnya untuk bertindak dengan keberanian, memimpin secara regional dan internasional, serta mengambil langkah konkret untuk menghentikan pengepungan, menghentikan pembantaian, dan mendesak akses
kemanusiaan segera. Diam dan tidak bertindak pada saat seperti ini berarti turut bersalah.
Setelah hampir lima bulan penutupan total, Jalur Gaza kini mengalami kelaparan yang direkayasa. Lebih dari 100 warga sipil, termasuk 80 anak- anak, telah meninggal karena
kelaparan dan kekurangan gizi. Krisis ini semakin parah dengan fakta bahwa lebih dari 1.000 warga sipil yang kelaparan telah dibunuh oleh pasukan Israel saat berusaha mengakses bantuan kemanusiaan di titik distribusi. Sistem kesehatan di Gaza telah runtuh, air bersih nyaris tidak tersedia, dan penduduknya terpaksa bertahan hidup dengan dedaunan, pakan ternak, atau bahkan tanpa apapun.

Hingga saat ini, lebih dari 60.000 warga Palestina telah terbunuh, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Kelaparan yang disengaja terhadap populasi sipil — ditambah penghancuran rumah, rumah sakit, dan kamp pengungsi secara sembarangan — merupakan kebijakan sistematis pemusnahan massal.
Di saat seperti ini, diamnya sebagian besar komunitas internasional bukan hanya memekakkan telinga — tetapi juga menghancurkan. Hal ini mengecewakan para korban dan justru memberi keberanian kepada pelaku. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merasa diberi jalan untuk melanjutkan kampanye kelaparan massal dan genosidanya tanpa pertanggung jawaban.
Meskipun dalam kondisi demikian, upaya komunitas internasional untuk menyalurkan bantuan terus dihalangi dengan kekerasan. Pada 27 Juli 2025, kapal sipil Handala, bagian
dari Koalisi Armada Kebebasan (Freedom Flotilla Coalition), disita oleh pasukan Israel di
perairan internasional. Kapal tersebut hanya membawa para pembela hak asasi manusia yang tidak bersenjata dan pasokan bantuan kemanusiaan penting. Sebelumnya, kapal Madelin juga telah dicegat, dan drone Conscience dibom — ketiganya adalah bagian dari misi damai internasional yang berupaya menantang blokade tidak manusiawi terhadap Gaza.
Kami sangat prihatin terhadap pelanggaran hukum maritim dan hukum kemanusiaan internasional yang terus terjadi ini, dan kami menyerukan kepada Republik Indonesia untuk memimpin dengan ketegasan dan kejelasan moral yang dituntut oleh situasi ini.
Secara khusus, kami mendesak Anda untuk:
1. Melakukan tekanan diplomatik langsung dan berkelanjutan terhadap Amerika Serikat dan semua negara pemasok senjata agar segera menghentikan dukungan militer mereka kepada Israel. Kementerian Luar Negeri Indonesia harus meningkatkan retorikanya dan
menggunakan seluruh platform internasional untuk menuntut diakhirinya genosida dan menyerukan gencatan senjata tanpa syarat.
2. Mendesak negara-negara tetangga, khususnya Mesir dan lainnya, untuk
menghentikan blokade terhadap Gaza dan memastikan masuknya bantuan
kemanusiaan secara bebas dan tanpa hambatan — termasuk makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan penting lainnya.
3. Mengecam secara terbuka dan tegas penggunaan kelaparan sebagai senjata perang dan hukuman kolektif terhadap warga sipil, serta menyoroti kejahatan ini dalam setiap forum bilateral dan multilateral.
4. Menuntut pembebasan semua pekerja kemanusiaan internasional yang ditahan secara ilegal dan pengembalian kapal sipil yang disita, termasuk Handala yang dirampas secara paksa di perairan internasional pada 27 Juli 2025, dan Madelin yang telah dicegat sebelumnya — keduanya merupakan bagian dari misi damai yang membawa bantuan dan pembela kemanusiaan tanpa senjata.
5. Memimpin kampanye internasional terkoordinasi untuk meminta
pertanggungjawaban Israel sebagai kekuatan pendudukan, melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Maritim Internasional, dan badan hukum serta diplomatik
terkait lainnya. Indonesia juga harus:
● Mendukung dan bergabung dalam upaya hukum di Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), serta memberikan dukungan politik, hukum, dan logistik untuk perkara yang sedang berlangsung;
●Bergabung dengan the Hague Group — sebuah koalisi luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya yang dibentuk untuk menuntut
pertanggung jawaban Israel, serta secara jelas menyatakan komitmennya untuk mengakhiri impunitas atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

6. Menggerakkan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta negara-negara Arab dan Islam untuk:
Memutus semua hubungan dengan entitas pendudukan; Menutup kedutaannya; Mengusir para duta besarnya; Menghentikan segala bentuk normalisasi;
▪ Mengisolasi rezim apartheid ini sebagai langkah awal yang penting untuk menghentikan kejahatan-kejahatannya. Ini adalah momen penentu bagi moralitas komunitas internasional. Nasib lebih dari dua juta warga Palestina, termasuk hampir satu juta anak-anak, bergantung pada apakah kita bertindak dengan keberanian dan ketegasan.
Kami kembali menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Republik Indonesia atas dukungan yang tak pernah goyah, dan kami percaya bahwa jajaran pemerintahan akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memimpin aksi regional dan internasional di saat yang paling genting ini.
Hormat Kami,
Para penandatangan:
Name
1 Michelle Santoso
2 Rebecca Reijman
3 Felix Y Siauw
4 Teuku Wisnu
5 Bella Fawzi
6 Wanda Hamidah
7 Inara Rusli
8 Melly Goeslaw
9 Annisa Theresia
10 Savitri
11 Nada Sikkah
12 Asma Nadia
13 Lucky Resha
14 Ranty Purnamasari
15 Indadari
16 Ratu Nur Annisa
17 Dodi Hidayatullah
18 Erick Yusuf
19 Pizaro Ghozali Idrus
20 Ares (Habib Ama)
21 Fia Fellow
22 Kumalasari Kartini. ( M. Harun).