Connect with us


Opini

Sejarah akan Terulang : Ahlul Kitab (Tokoh) dari Zaman ke Zaman, Tidak pernah Percaya pada Para Utusan Allah

Sejarah akan Terulang : Ahlul Kitab (Tokoh) dari Zaman ke Zaman, Tidak pernah Percaya pada Para Utusan Allah

[Akan terulang saat Al-Mahdi, Pembaharu dan nushrah (penolong) al-Mahdi, muncul]

Oleh: Kang Diki Candra*)

Tema ini sangat penting — bahkan menjadi inti dari sejarah kenabian dan perlawanan ahlul kitab sendiri terhadap wahyu.

Mengapa Ahlul Kitab, terutama para tokoh agama, dari masa ke masa justru menolak para utusan Allah (Nabi / Rasul), padahal mereka yang paling tahu tanda- tandanya?

1. Mereka mengetahui kebenaran para nabi, tapi menolaknya karena kedengkian dan hawa nafsu.

“Mereka mengenalnya (Muhammad) sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Tetapi sebagian mereka sungguh menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 146).

Ini menunjukkan bahwa penolakan mereka bukan karena tidak tahu, tetapi karena kesengajaan menolak — ada hawa nafsu, iri, dan kepentingan di baliknya.

2. Karena sombong dan ingin mempertahankan otoritas keagamaan.

“Maka tatkala datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui (sebagai kebenaran), mereka kufur terhadapnya. Maka laknat Allah atas orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 89).

Dalam konteks ini, para ulama Yahudi menolak Nabi Muhammad ﷺ bukan karena tidak mengenal tanda- tandanya, tetapi karena tidak mau kehilangan kedudukan sebagai pemegang otoritas agama di Bani Israil.

3. Karena takut kehilangan kekuasaan dan pengaruh social.

“Sesungguhnya kebanyakan dari mereka ingin mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena kedengkian yang timbul dari diri mereka setelah kebenaran nyata bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 109).

Al-Qur’an menegaskan motif batiniah: kedengkian terhadap datangnya risalah baru yang menggeser posisi mereka sebagai pusat otoritas.

4. Karena disadari atau tidak, mereka menjadikan agama sebagai alat mencari dunia.

“Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali Imran [3]: 187).

“Celakalah orang-orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka lalu berkata, ‘Ini dari Allah,’ untuk memperoleh keuntungan yang sedikit.” (QS. Al-Baqarah [2]: 79).

Ini menunjukkan korupsi ilmiah dan spiritual: mereka memanipulasi teks wahyu agar sesuai dengan kepentingan duniawi dan penguasa.

5. Karena keras hati dan kebutaan batin akibat dosa berulang.

“Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 13).

Penolakan berulang terhadap kebenaran membuat mereka tidak lagi mampu mengenali cahaya, meski secara ilmiah mereka tahu. Ini adalah fenomena mati rasa spiritual (qaswah al-qalb).

Begitu juga apa yang dijelaskan dalam hadits- hadits Nabi Muhammad SAW

1. Semua nabi ditolak oleh para “tokoh agama” di masanya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang nabi diutus oleh Allah melainkan di antara kaumnya ada para pengikut dan musuhnya. Musuh-musuhnya adalah orang-orang yang meniru (pakaian) dan ucapan para nabi, tetapi hati mereka seperti hati syaitan.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar).

Ini menjelaskan pola sunnatullah sejarah: kaum agamawan sering menjadi oposisi utama para utusan Allah, karena mereka meniru agama secara lahir, tapi hatinya penuh riya, cinta dunia, dan kebencian terhadap perubahan.

2. Umat Islam pun akan mengulangi kesalahan Ahlul Kitab.

Nabi ﷺ bersabda: “Kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta..” (HR. Bukhari & Muslim).

Umat Islam pun akan memiliki ulama yang menolak pembawa kebenaran akhir zaman (seperti al-Mahdi), sebagaimana ulama Yahudi dan Nasrani menolak nabi-nabi mereka.

Menurut analisis logika rasional bahwa terjadilah

1. Konflik antara wahyu dan status quo.

Para nabi selalu membawa tajdid (pembaruan) dan tazkiyah (penyucian) yang mengguncang struktur sosial, ekonomi, dan keagamaan yang mapan.

• Ulama resmi sering terikat dengan penguasa dan tradisi.
• Nabi membawa kritik terhadap penyimpangan itu.
Maka, konflik tak terhindarkan: antara agama formal dan agama hakiki.

2. Kebenaran sering datang dalam bentuk yang tidak sesuai ekspektasi.

• Nabi Isa datang tanpa “kerajaan politik” yang mereka bayangkan.
• Nabi Muhammad ﷺ datang dari bangsa Arab, bukan Bani Israil.

Karena bentuk kebenaran berbeda dari yang mereka duga, mereka menolak — inilah ujian fitnah intelektual dan spiritual.

3. Ulama lebih takut kehilangan reputasi daripada kehilangan kebenaran. Secara psikologis, ketika seseorang sudah dikenal sebagai ahli ilmu, maka menerima kebenaran dari pihak lain terasa seperti pengakuan kalah.

Maka, banyak ulama zaman dulu dan kini lebih memilih mempertahankan gengsi dari pada tunduk pada kebenaran.

“Cinta kedudukan dan kekuasaan adalah lebih berbahaya bagi seseorang daripada dua serigala lapar yang dilepaskan ke kandang kambing.” (HR. Tirmidzi).

4. Ilmu tanpa tazkiyah menimbulkan kegelapan. Ilmu yang tidak disertai penyucian jiwa melahirkan kesombongan.

Al-Ghazali menjelaskan: “Yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berilmu tapi sombong terhadap ilmu itu sendiri.” (Ihya’ Ulumiddin, Kitab Ilm). Ulama seperti ini menjadi penghalang kebenaran, bukan pembukanya.

Kesimpulan Filosofis dan Ruhani

1. Penolakan ulama terhadap utusan Allah adalah sunnatullah sejarah — manifestasi dari benturan antara ruh kebenaran dan struktur duniawi agama.
2. Akar utamanya adalah tiga penyakit ruhani: (1) Hasad (kedengkian) terhadap karunia kenabian. (2) Kibr (kesombongan) karena merasa paling tahu. (3) Hubb al-dunya (cinta dunia) yang menutupi cahaya kebenaran.
3. Maka benar sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah para ulama yang menyesatkan.” (HR. Ahmad, Ibn Majah).

Refleksi Akhir Zaman

Penolakan ulama masa kini terhadap tanda-tanda tajdid, ru’ya, dan nubuwah akhir zaman hanyalah pengulangan sejarah. Mereka menolak bukan karena tidak tahu dalilnya — tetapi karena takut kehilangan legitimasi di hadapan umat.

“Dan mereka berkata: ‘Kami telah beriman,’ padahal mereka tidak beriman.” (QS. Al-Baqarah: 8).

Maka kebenaran akhir zaman akan kembali — bukan melalui ulama status quo, tetapi melalui ghuroba, kaum yang dianggap asing, sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (ghuroba).” (HR. Muslim).

Mengapa Pola Penolakan terhadap Utusan Allah Terulang di Setiap Umat, Termasuk Umat Islam.

Allah menetapkan dalam sunnah-Nya bahwa setiap pembaruan risalah akan menimbulkan perlawanan dari dua golongan utama:

• Penguasa (mulk): takut kehilangan kekuasaan.
• Ulama status quo (ruhban/ahbar): takut kehilangan legitimasi dan pengaruh.

“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu para setan (dari) manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS. Al-An’am [6]: 112).

Ini hukum universal (sunnatullah) — semakin tinggi nilai tauhid dan tajdid yang dibawa seorang utusan, semakin keras perlawanan yang muncul dari para penjaga sistem lama.

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa: “Setiap sistem sosial akan mempertahankan dirinya dari perubahan. Ulama, karena bergantung pada struktur politik dan ekonomi, sering menjadi bagian dari sistem itu sendiri.”

Dalam istilah modern, ulama dalam masyarakat pra-modern menjadi “lembaga legitimasi kekuasaan”. Mereka :Mendapat posisi dan nafkah dari penguasa. Takut kehilangan status bila ada nabi atau pembaharu yang membawa sistem baru.
Akhirnya mereka lebih membela sistem daripada membela kebenaran.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyebutkan: “Ada dua golongan yang paling banyak menyesatkan manusia: penguasa yang zalim dan ulama yang jahat. Karena keduanya memiliki kekuasaan, yang satu atas badan, yang lain atas pikiran.”

Ulama seperti ini bukan penjaga agama, tapi penjaga bentuk luar agama. Mereka takut: kehilangan kedudukan ditengah masyarakat juga takut Kepada kemarahan penguasa dan Kepada kehilangan pengikut dan sanjungan. Maka, ketika datang “utusan Allah” atau pembawa kebenaran baru — mereka menjadi musuhnya.

4 November 2025.

Penulis, Kang Diki Candra adalah Ketua Majelis Gaza

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

More in Opini