Connect with us


Nasional

Resonansi CDCC Awal Tahun 2026 Untuk Perbaikan Bangsa dan Perdamaian Dunia

Jakarta Melayutoday.com, – Center For Dialogue And Cooperation Among Civilization (CDCC) sebagai lembaga pengembangan dialog dan kerjasama menngelar Resonansi Awal Tahun 2026 dengan melakukan pembahasan serta evaluasi terhadap berbagai isu penting dalam dan luar negeri serta dampaknya bagi kehidupan politik ekonomi, budaya peradaban serta perdamaian dunia di tengah eskalasi global saat ini dan masa depan.

Resonansi Awal Tahun CDCC yang dikemas dengan menggelar press confrence tersebut berlangsung pada selasa ( 13/1/2026) di Hotel Grand Sahid Jakarta dengan menghadirkan Prof.Dr Dien Syamsyddin, Prof Dr. Didiek J. Rachbini, Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim serta dari jajaran Direktur CDCC.

Founder dan Chaiman CDCC Dien Syamsuddin menjelaskan, bahwa bangsa Indonesia merupakan negara yang majemuk. Kemajemukan menjadi kekuatan untuk kesatuan, persatuan dan kemajuan. Tapi kemajemukan dan kemajuan bisa membawa kepada perpecahan yang akhirnya terjadi kehancuran.

“Atas dasar itulah CDCC berpesan kepada bangsa Indonesia yang majemuk ini agar mendorong kemajemukan kita ke arah kekuatan untuk persatuan dan kemajuan bersama dan jangan sampai kemajemukan kemudian menjadi faktor penderita perpecahan,” pesan alumni dan tokoh Pondok Modern Gontor ini.

Dalam konteks kehidupan beragama Indonesia, kata Tokoh Muhammadiyah ini, telah memiliki dasar Konstitusi yaitu pasal 29 UUD 1945 dengan memberikan kebebasan beragama dan kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Namun penjelmaan dan penerapan dari prinsip kebebasan itu harus diatur agar kebebasan tidak mengarah kepada sebebas- bebasnya sehingga pengaturan negara atau negara perlu hadir dalam konteks ini namun tidak menghilangkan prinsip kebebasan.

Sebab perbedaan agama, suku golongan terutama agama2 yang disebut dengan agama samawi itu mepunyai watak mengembangkan atau menyebarkan diri. Jika ini diserahkan kepada pasar bebas maka disinilah pengaturan oleh negara sangat penting, namun tetap berpegang pada prinsip- prinsip kebebasan tadi dan kita memiliki kesadaran demi kerukunan bangsa serta penyiaran dalam rangka membangun dialog antar agama yang hal ini CDCC telah menerbitkan sebuah buku kecil pada tahun 2018.

Dalam hal lain Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim menyoroti Perkembangan AI yang kian deras saat ini, Sudarnoto mengungkapkan dalam perspektif MUI beberapa waktu lalu pada Munas MUI memang memberikan perhatian terhadap perkembangan AI yang cukup intens melihat perkembangan AI itu sangat riskan. Karena semua orang akan bertanya tentang banyak hal pada AI yang terlebih lagi jika kita ingin belajar tentang masalah- masalah agama langsung dari AI sehingga dikhawatirkan fungsi Kiyai, ustaz dan kitab- kitab kuning di pesantren yang pernah kita pelajari semua bisa- bisa hilang dan tutup kalau tidak kita perhatikan secara serius.

“Perkembangan AI yang semakin dahsyat ini memang perlu kita sikapi dengan baik, dan kami segera akan membentuk tim guna menyusun dan menyiasati atau memanfaatkan AI ini benar2 bisa memberikan manfaat bagi kemaslahatan kita semua,” imbuh Ketua Bidang Luar Negeri MUI Pusat ini.

Menurutnya, pemahaman kita tentang AI itu kan berisikan data2 yang harus kita jaga keaslian khususnya menyangkut ajaran agama hal ini perlu disadari dengan arif dan bijaksana.

Prof. Dr. Didiek J Rachbini selaku akademisi dan Rektor Universitas Paramadina memberikan masukan kepada pemerintahan Prabowo Subianto khususnya dalam hal yang terkait dengan perbaikan dan target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen.

Menurutnya, selain iklim politik yang kondusif juga yang harus diperhatikan Disiplin fiskal yang harus dilakukan oleh pemerintah kita karena hal ini ditonton oleh jutaan orang diseluruh dunia. Begitu juga terkait dengan krisis nilai tukar yang hal ini berkaitan dengan devisa.

“Ini perlu diperhatikan dan kedua hal ini merupakan peperangan paling penting yang harus dilakukan oleh pemerintah,” demikian ekonom ini menyampaikan imbauannya.

CDCC juga menyoroti dan menjadi perhatian CDCC yang berkaitan dengan Islam phobia bukan hanya Islam saja tapi agama phobia ( phobia agama) maka pada resonansi awal tahun ini kita akhir akhir ini menyoroti tentang fenomena speak heater atau ujaran kebencian, gejala ini perlu diperhatikan sebab kalau hal ini dibiarkan akan menggoyahkan persatuan dan kemajemukan kita.

“Mengawali tahun 2026 ini dengan disyahkannya UU KUHP dan KUHAP yang baru kita perlu mencermati dan melihat ada pasal2 yang berpotensi membungkam kebebasan berpendapat dan berekspresi,” tandas Dien.

Sedangkan menanggapi Invasi Amerika ke negara Venezuela, tutur Dien Syamsyddin, saya berpendapat itu tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat ditoleransi sebab tidak boleh adanya invasi atau intervensi dari seorang Presiden dari negara manapun ke negara lain, apalagi menangkap dan menculik Kepala Negaranya seperti apa yang terjadi di negara Venezuela.

“Itu jelas merusak dan memasuki serta meruntuhkan segala yang dimiliki negara lain dan secara tidak langsung karena negara itu berdaulat secara politik, jangan sampai itu terjadi terhadap Indonesia sekaligus ini kita pesankan dan wanti- wanti kepada Kepala Negara saat ini untuk tidak berpikir melakukan invansi terhadap kedaulatan negara Indonesia termasuk kedaulatan ekonomi dan kedaulatan politik dll,” pesan Tokoh Muhammadiyah dan MUI ini.

” Selama 20 tahun CDCC meski tidak mengekspos diri namun diam diam melangkah merambah dengan melakukan program kegiatan sesuai dengan tupoksinya baik mempertemukan tokoh2 dari dalam negeri maupun manca negara. Tapi juga personalia CDCC dalam kapasitas dan keahliannya masing-masing mereka aktif melakukan dialog2 dan masukan bagi perbaikan dan perdamaian dunia,”tutur Dien Syamsuddin.

Dien Syamsyddin juga mengabarkan bahwa Para personalia CDCC Juga telah banyak melanglang buana serta ikut pada kegiatan ditingkat internasional seperti Pemuda OKI sedunia serta pertemuan dialog antar peradaban. ” Hal ini membutuhkan pikiran- pikiran besar dan kerja keras kita untuk mewujudkan perdamaian dunia yang sejati dan abadi sesuai dengan amanat UU 1945,” pungkasnya.

Catatan dari Direktur CDCC, pada dasarnya CDCC ini dalam kegiatannya merupakan aktor non state didalam soal diplomasi juga menghimpun sebagai pelopor lintas negara dan lintas agama.

“Kedepan kita akan mengadakan Forum pemuda Asean serta berbagai isu lainnya. CDCC juga sebagai lembaga yang bergerak dalam aspek kebudayaan dan peradaban selain tentunya aspek politik luar negeri dan perkembangan teknologi informasi dan AI. Program CDCC selaku non state aktor atau NGO ada pada tataran dalam memperkuat landasan moral dan membuat wacana moderatisme,” pungkasnya. ( M. Harun).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

More in Nasional