Connect with us


Nasional

Produksi Energi Alternatif Berbasis Jerami Akan Diproduksi Massal, Jajaki Kerjasama dengan Timor Leste

Kabupaten Bogor, Melayutoday.com, – Bahan Bakar berbasis jerami yang dikenal dengan nama  Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos), adalah inovasi energi alternatif yang memanfaatkan limbah pertanian jerami menjadi bahan bakar setara bensin/solar (oktan 98.1), ramah lingkungan, dan dapat meningkatkan ekonomi petani melalui konsep “petani tersenyum dua kali”, meskipun produksi massal di Indonesia belum dilakukan karena masih terkendala regulasi, namun kerjasama antar negara sudah dimulai menjajaki kerjasama dengan negara Timor Leste. 

Hal ini diungkapkan Pembina Bobibos, Mulyadi saat konferensi pers pada Jumat ( 26/12/2025) di Kantor Bobibos Gedung Bumi Sultan Jonggol kabupaten Bogor. Menurutnya, Bahan bakar nabati berbasis jerami, Bobibos, bersiap akan memasuki tahap produksi massal di Timor Leste. Meski demikian, Bobibos menegaskan tetap membuka peluang untuk kembali diproduksi secara besar-besaran di Indonesia apabila Presiden Prabowo Subianto atau pemerintah memberikan permintaan resmi yang disertai payung regulasi yang jelas.

“Kesiapan tersebut merupakan bentuk komitmen sebagai kader partai Gerindra. Namun, produksi massal di dalam negeri hanya dapat dilakukan jika jerami telah ditetapkan sebagai bahan baku bioenergi dalam kebijakan nasional seperti Sawit, Aren dan Tebu,” kata anggota DPR RI ini.

Ia menegaskan, kebijakan transisi energi nasional berbahan nabati baru mengatur bioenergi yang bersumber dari sawit, aren, dan tebu. Sedangkan untuk bahan baku Jerami belum masuk dalam regulasi tersebut. Kondisi ini membuat Bobibos memilih untuk tidak melakukan produksi dan distribusi massal di Indonesia, meskipun teknologi telah siap digunakan.

“Kami kader partai pemerintah. Kami harus memberi contoh ketaatan pada regulasi. Tidak mungkin kami memproduksi dan mendistribusikan secara massal tanpa aturan uji ketahanan, sertifikasi, dan standar keselamatan,” kata Mulyadi.

Niat dan kabar baik ini, jelas Mulyadi, kami sebagai anak bangsa dapat berkontribusi buat masyarakat, negara, dan Alam lingkungan sekitarnya.

“Ini energi berbahan dasar nabati, kabar baik yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat, kami tidak akan meluncurkan sebuah produk yang tidak ada uji laboratoriumnya dengan angka rote 98,1 dibanding para meter lain,” imbuhnya.

Ia menguraikan, Jika kami ingin memproduksi massal paling tidak kami punya 3 alasan yaitu : pertama, berbahan baku murah yakni dari jerami, yang pada umumnya jerami itu dibakar. Bahkan petani perlu berterima kasih. Kedua, Pemakaiannya efisien, dengan asumsi pemakaiannya 1 liter itu bisa lebih hemat dibandingkan bbm yang konvensional. Yang ketiga, banyak masa panen dan pasca panen sehingga bernilai ekonomi. Keempat, mengurangi subsidi energi.

Iapun menegaskan, Perlu diketahui bahwa kami bukan energi pengganti tapi energi alternatif asli buatan anak bangsa. Untuk langkah awal Saya ingin meringankan beban masyarakat di di kab Bogor.

Berdasarkan hasil uji di laboratorium dan hasil uji emisi semuanya bisa digunakan untuk energi alternatif. Kami meluncurkan bahan bakar tahu persis bahwa Ini baru tahapan uji hasil laboratorium, uji fungsi dan uji emisi dengan Project yang sangat sederhana. Maka untuk menuju ke produksi massal kami membutuhkan kekuatan regulasi dan memerlukan investasi bernilai besar dan kami memerlukan proteksi.

“Karena kami belum ada regulasi maka Kami belum memproduksi massal. Namun kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dalam hal ini Dirjen Migas dan Dirjen Energi baru dan Terbarukan dan ternyata cluster kami belum diakomodir oleh regulasi.

Terkait kerjasama dengan Timor Leste Mulyadi mengakui, Pemerintah Timor Leste telah memberikan dukungan berupa fasilitas pabrik serta lahan bahan baku seluas 25.000 hektare. Untuk tahap awal, sekitar 5.700 hektare telah disiapkan. Kapasitas produksi masih dalam pembahasan karena bergantung pada volume yang disepakati, ketersediaan bahan baku, serta pembangunan mesin produksi.

“Target kami paling lambat Februari sudah produksi, tapi kami upayakan Januari 2026 sudah mulai. Produksi perdana akan diluncurkan langsung oleh pemerintah Timor Leste dan insyaallahakan disaksikanlangsung oleh Presiden Prabowo Subianto,”pungkas Mulyadi. ( Harun).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

More in Nasional