Connect with us


Budaya

Bupati Siak Dr. Afni Z. Msi sangat Gembira dan Bangga atas Penyelenggaraan Simposium Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu

 

 

 

 

Bupati Siak, Dr. Afni. Z . MSi merasa cukup gembira dan bangga atas terselenggaranya Simposium ini , iapun mengakui sebagai Bupati Siak yang lahir dari gen-Z. Akan membersamai peserta Simposium hingga akhir acara.

Kabupaten Siak, Melayutoday.com, –  Penyelenggaraan Simposium Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu pada Selasa  ( 10/2/2026) di Balairung Datuk Empat Suku, Kabupaten Siak,  Provinsi Riau adalah memomentum penuh historis, karena semakin mempertegas dan memperjelas bahwa Kabupaten Siak memiliki akar sejarah menjadi pusat kebudayaan melayu dan ini suatu keniscayaan yang harus terus dilestarikan supaya generasi muda kedepan mendapatkan pencerahan dan tidak melupakan.

Dia memaparkan sangatlah terhubung dengan kegiatan Simposium seperti ini, karena para orang tua kita masih ada untuk sumber kehangatan, dan penjaga budaya, kalaulah bisa dengan izin Allah swt bisa kiranya kegiatan seperti ini akan kita lestarikan dan akan kita jadikan kegiatan rutin sehingga semboyan “Tidaklah Melayu Hilang di Bumi”.

“Selaku Bupati Siak yang lahir dari gen-Z sangatlah terhubung dengan kegiatan Simposium seperti ini, karena para orang tua                                     

( Foto: Pakar Sejarah, Prof. Anhar Gonggong, Staf Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Pemprov Riau,  Zulkifli menerima CenderaMata dari Bupati Siak D. Afni Z. Msi dan Tokoh Senior Melayu)

kita masih ada untuk sumber kehangatan, dan penjaga budaya, kalaulah bisa dengan izin Allah swt bisa kiranya kegiatan seperti ini akan kita lestarikan dan akan kita jadikan kegiatan rutin sehingga semboyan “Tidaklah Melayu Hilang di Bumi,” jelasnya saat memberi sambutan pembukaan Simposium.

Lebih lanjut, Afni membeberkan prihal  kabupaten Siak yang kaya akan kisah- kisah kesultanan Siak dan bisa kita jaga dan lestarikan hingga kini.

“Saya sangat senang hati dan bangga di hari yang penuh makna menyambut acara Simposium Siak sebagai pusat kebudayaan melayu. Simposium ini bukan sekadar pertemuan ilmiah melainkan sebagai bukti nyata bahwa akar budaya melayu di Siak masih hidup dan berkembang dengan pesat dijaga oleh kita semuanya,” katanya.

Menurut dia, Kiranya apa yang diwariskan sejak era kesultanan Siak Sri Indrapura pada abad ke-17 ketika Sultan Abdul Jali Rahmatsyah membangun kerajaan yang bukan hanya kuat secara politik dan ekonomi tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya para penyair, seniman dan Ahli adat yang itu benar2 akan bisa terjaga hingga berbilang jaman.

“Hari ini sebagai bukti bahwa Siak bukan hanya menyimpan budaya melainkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas melayu yang menunjukkan bahwa budaya melayu disini selalu terbuka dan menghargai keberagaman.”

“Apa yang tidak diwariskan Siak kepada negeri yang bernama Riau dan apa yang tidak diwariskan Siak kepada Indonesia. Sebab kita adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari Republik ini,” papar Ibu Bupati.

“Dalam simposium yang sangat penting ini kami berharap dalam kegiatan ini silahkan narasinya dieksplor dan kita hubungkan sejarah2 itu, saya kira kita perlu narasi dan kita perlu menyusunnya dengan sistematika yang bagus agar generasi kedepan tidak lupa dengan sejarahnya,” harapnya.

Selain para pejabat Pemkab Siak, Pemprov Riau yang hadir juga terlihat beberapa undangan yaitu:  Gunung Sahila, konsulat Jenderal Malaysia, Sultan Langkat Ke-IV Aceh, mantan Gubernur Riau Wan Abu Balar, Ketua panitia simposium Wan Muhammad Yunus, kerabat keluarga kerajaan Siak Sri Indrapura, pimpinan perusahaan, budayawan, Cendekiawan, tokoh2 masyarakat dan perguruan tingggi, tokoh agama, organisasi kemelayuan dan kepemudaan, organisasi wanita, media dll. ( M. Nur).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

More in Budaya