Connect with us


Lipsus

Silaturrahim IJMI Ke Bukit Lebah Lokasi Unik bagi Mereka yang Ingin Uzlah

 

 “Subang, Jawa Barat, Melayutoday.com,- Kabupaten Subang sudah populer di provinsi Jawa Barat dengan destinasi wisatanya yang cukup naturalis. Aneka ragam wisata unggulan mulai dari pemandian air panas alami, kebun teh, hingga curug (air terjun) yang memukau.”

Lokasi populer meliputi Sari Ater Hot Spring Resort, Kebun Teh Ciater, Asstro Highlands, Flora Wisata D’Castello, serta curug eksotis seperti Curug Cijalu dan Cibareubeuy.

Destinasi alam, khususnya di wilayah Ciater, menawarkan udara sejuk karena berada di lereng Gunung Tangkuban Perahu.

( Sudarman Tiwong,  M. Harun, Amrul, Erizal dan Ghufron Falahuddin siap menuju Tanah Uzlah, Bukit Lebah Subang)

Nuansa sejuk nan rimbun yang dikelilingi pepohonan hijau segar disitu ada tempat bernama bukit lebah, tempat ini diberi nama tanah uzlah yang bernaung dibawah Majelis Gerakan Akhir Zaman ( Gaza). Tanah Uzlah disetting bagai perkampungan ekslusif namun dilengkapi dengan masjid bernama Masjid Al- Mahdi. Tempat tinggal atau rumah mereka diberi nama Saung. Saung- saung yang dibangun dengan bahan kayu  dan beratap serta berdinding dari bahan asbes itu menjadi rumah tinggal.

Silaturrahim Jajaran Pengurus dan Anggota Ikatan Jurnalis Muslim Indonesia ( IJMI)

bersama sang pendiri dan Ketua Majelis Gaza, Raden Diki Candra Purnama cukup menyenangkan, dia mengajak orang- orang disekitarnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui jalan UZLAH. Karena menurut keyakinannya bahwa menghadapi  akhir zaman kita perlu memperkuat keimanan atau tauhid murni karena disaat itu manusia menghadapi banyak fitnah dan huru hara.

Di areal lahan seluas 20 hektar yang disewa dari Perhutani tersebut Kang Diki, begitu ia akrab disapa, tinggal di Bukit Lebah bersama 100 orang penduduk dengan aktifitas ibadah, kajian  tafsir mimpi akhir zaman serta berbagai pekerjaan mu’ amalah  seperti: bercocok tanam,  berkebun dan bertani  di seputar Bukit Lebah tersebut.

Kepada sejumlah awak media yang hadir, Kang Diki menjelaskan banyak hal namun dia tidak lupa menjelaskan prihal pendidikan bagi anak- anak yang tinggal disana, di Bukit Lebah yang dikelola oleh Majelis Gaza adalah sebagai berikut:

Menurutnya, anak- anak Ditekankan untuk mempelajari Alquran, Tahfiz quran, tadabbur dan memahami arti maknanya. Karena di perkampungan uzlah yang didirikan sejak 5 tahun lalu tersebut memiliki ciri khas pendidikan agar anak didik bisa menjadi pejuang.

 

Raden Diki Candra Purnama, Founder dan Ketua Majelis Gaza sedang berdialog bersama Pengurus IJMI di Masjid Al- Mahdi, Tanah Uzlah, Bukit Lebah  Subang  ( Senin, 16 Pebruari 2026).

” Selain itu anak- anak dididik dengan disiplin, hal ini untuk mempersiapkan generasi muda yang siap untuk menghadapi fitnah dajjal. Karena kita saat ini tidak disadari telah masuk ke dalam sistem dajjal sehingga kita hampir kehilangan jati diri sebagai muslim,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kang Diki mengungkapkan bahwa pendidikan di Majelis GAZA tidak mendaftarkan diri kepada pemerintah,  istilah nya pendidikan informal. Atau sekarang dikenal dengan home schooling. Dengan tujuan melahirkan kaum pejuang, karena didalam mubasyirat memberi pesan bahwa di tempat ini ( tanah uzlah) ini harus dijadikan tempat melahirkan para pejuang.

“Tempat uzlah Majelis Gaza belum ada cabang di daerah lain, karena tidak mudah untuk merealisasikan hal ini. Kami Dalam hal ini meraba2 sendiri, berbagai ujian telah kami lalui, tidak mudah membuat uzlah karena uzlah harus berjemaah, uzlah harus saling memperkuat,” imbuh Diki.

Senentara untuk membuat cabang Majelis Gaza dan tempat uzlah bagi kami terlalu berat. Karena orang uzlah itu sudah terputus dengan urusan pekerjaan dan bisnis, yang dilakukan hanyalah pendekatan diri kepada Allah saja.

Terkait kondisi lingkungan tempat uzlah di Bukit Lebah ini, tambahnya, terutama bagi kaum perempuan menghadapi kondisi melalui medan jalan menuju lokasi dengan penuh curam dan terjal, ekstrim kira2 begitu,tentu ada anak2 dan ibu yang hamil dan melahirkan serta orang orang tua. Maka guna menghadapi permasalahan diatas,

Menurut Kang diki, mengatasi hal itu seperti biasa kalau ada yang mau melahirkan kita tentu datang ke rumah sakit yang menangani adalah nakes bidan dll. Begitu juga jika ada kematian kita tetap tangani seperti biasa.

“Karena kami pindah ke tempat uzlah ini baru lima tahun soal kependudukan kita tetap mendaftarkan ke instansi pemerintah setempat karena kita berada di negara Indonesia dan bergerak inklusif ,” pungkasnya. ( M. Harun).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

More in Lipsus