Beranda » Warta Daerah » Bincang Dakwah Bersama Pak Bustomi dari Batanghari

Kamis, 08 September 2022 - 03:44:20 WIB
Bincang Dakwah Bersama Pak Bustomi dari Batanghari
Diposting oleh : Harun AR
Kategori: Warta Daerah - Dibaca: 192 kali

Bincang Dakwah Bersama Pak Bustomi dari Batanghari

Jakarta, Melayutoday.com,-Tantangan dakwah di era digital bukan sekadar kemampuan bagaimana menggunakan sarana teknologi. Namun, bagaimana mengajak umat sesuai dengan kondisi yang ada agar nilai nilai Islam mampu terinternalisasi dalam setiap diri dan kelompok, terlebih bagi kaum millenial. Sementara jika kita perhatikan bahwa
Tantangan dakwah di  masa lalu jauh berbeda dengan era digital saat ini. 

Namun bagi *H. Bustomi S.Ag, M.Pd , aktifis dakwah dari Kabupaten Batanghari, Jambi* ini selain keteladanan dari para orang tua dan guru juga bagaimana institusi dakwah dan para da' i bisa melakukan dengan benar sesuai metodologi dakwah Rasulullah Saw, begtu juga kemampuan bersinergi dengan pemerintah setempat.

Ketika Melayutoday.com mencoba berbincang  bersama aktifis BKMT kab. Batanghari ini, ia menjelaskan, Sebenarnya persoalan dan tantangan dakwah sekarang adalah soal peningkatan pengetahuan tentang agama yang melibatkan kaum muda dan milenial.

Sementara ia menegaskan bahwa tantangan dakwah saat ini berbeda sekali dengan era masa lalu. Begitu juga pengaruh pendidikan bagi kaum muda dan milenial. " Bagi saya pengaruh pendidikan anak ada pada tiga faktor yaitu di rumah tangga, di sekolah dan di lingkungan pergaulan," ungkapnya ditengah Rakernas BKMT, di Pondok Gede, Juli 2022 yang lalu.

Sehingga, kata  Bustomi, kita temui kenapa kaum muda kita kerap  sulit diajak untuk melaksanakan ibadah dan kegiatan keagamaan, misalnya sholat.  Karena keteladanan dari kedua orang tua tidak ada. Keteladanan sejak anak usia dini.
.
"Jangan mimpi anak kita rajin shalat Dan sedekah jika tidak melihat kedua orang tuanya melakukan hal tersebut. Jadi intinya keteladan dalam pendidikan keluarga," jelasnya.

Selain itu, tambahnya, kita mempertanyakan, dimana anak kita di sekolahkan. Jika anak kita disekolahkan  di sekolah yang mengajarkan dan mendidik sholat, dipastikan anak kita akan rajin sholat, sebaliknya jika anak kita disekolahkan di tempat yang sekuler maka anak kita akan diwarnai dengan cara hidup dan berprilaku sekuler. Tempat pendidikan akan mewarnai karakter dan kebiasaan anak.

Ditambahkan olehnya, terakhir adalah dengan siapa anak kita tersebut bergaul. Ini tantangan terberat saat ini, terutama bagi kita selaku orang tua.

 "Jadi pepatah lama mengingatkan kita, berteman dengan penjual minyak harum kita ikut wangi tapi jika berteman dengan penjahat dan pencuri minimal kita menjadi saksi," tambahnya.

Selanjutnya, ia mengungkapkan Sebagai da'i di daerah kami sering keluar masuk kampung, kami perhatikan peranan kaum muda tidak cukup banyak aktif di dalam kegiatan keagamaan di masjid masjid, yang kami lihat justru  kebanyakan mereka  orang orang tua yang usianya  sudah di atas 50-an tahun ini tantangan kami sebagai da' i.

Menurut saya, pendekatan dan strategi dakwah bagi kaum muda dan milenial perlu disesuaikan dengan kegiatan anak muda berada, misalnya jika mereka Hobbi olah raga atau kesenian, maka secara perlahan kita ajak mereka melalui pendekatan tersebut. Atau kegiatan diskusi dan kajian kajian keilmuan lainnya. Pendekatan Hobbi dan keilmuan ini sangat relevan bagi kaum milenial.

Begitu juga soal menghadapi tantangan dakwah kedepan, ia selaku da' i di daerah memaknai hadits Nabi Saw,  Barang siapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya ( kekuasaan) , bila tak mampu rubahlah dengan lisannya, bila tak mampu juga maka rubahlah dengan hati ( berdo' a).

Merubah kemungkaran dengan tangan artinya bila dia memiliki kekuasaan, seperti: pemerintah, Bupati, anggota parlemen, polisi atau tentara. 

'Sedangkan kami selaku da' i, ulama dan para mubaligh yang memiliki kemampuan berbicara dengan lisan . Disinilah kita berbuat dan mengajak untuk jalan dakwah melalui majelis taklim dll ," jelas pensiunan pegawai Pemkab Batanghari ini.

Oleh karena itu, tambahnya,  untuk memperkuat dakwah menghadapi tantangan yang berat saat ini dan kedepan, majelis taklim dalam hal ini BKMT perlu memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah. Khususnya Jambi, mayoritas penduduknya Muslim dan ekonomi disana mengandalkan pertanian dan perkebunan . Keterkaitan antara agama dan ekonomi sebenarnya cukup kuat namun seolah antara agama dan ekonomi tiada kaitannya.

"Harapan saya hasil hasil dari rakernas BKMT ini seyogyanya dapat kita sosialisasikan kepada seluruh pelosok negeri,  agar kita menjadi pengurus dan anggota yang aktif di majelis taklim tidak hanya memiliki kepentingan sesaat. Tapi betul betul ingin berdakwah di jalan Allah. Jangan cuma karena uang 100 ribu kita menderita selama lima tahun, mereka hadir ketika mau pemilu," pungkasnya. ( Harun).

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)