Beranda » Pendidikan » Mengaji Ulang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Rabu, 17 Agustus 2022 - 07:45:46 WIB
Mengaji Ulang Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Diposting oleh : Harun AR
Kategori: Pendidikan - Dibaca: 204 kali

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Oleh:  Dr. Mas' ud HMN *)


Adakah Islamisasi Ilmu pengetahuan? Kalau ada, lalu bagaimana penjelasannya Perlu adanya. Membahas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan atau tautan antara Ilmu pengetahuan dan Islam adalah bermula dari pertanyaan apakah ada hubungan Islam dan ilmu pengetahuan? Ada yang mengatakan ada, dan ada yang mengatakan tidak. Pada intinya timbul Perdebatan antara yang mengatakan ada dan tidak.Panjang sekali perdebatannya.
 
Akan tetapi, tidak ada esensi yang signifikan, Apabila Kesimpulannya ternyata ada ilmu kafir dan ada ilmu muslim, tidak akan membawa manfaat. Apa lagi jika ilmu eksakta itu diklaim sebagai ilmunya orang kafir sedangkan ilmu Muslim ialah ilmu social.

Awalnya yang mengatakan ilmu itu hanyalah satu dan netral. Maksudnya tidak ada apa yang dinamakan ilmu islam dan ilmu kafir. Ibarat seperti menyatakan bahwa
bom adalah bahan peledak, mereka menyatakan sama apakah orang islam atau non islam sama saja. Bila ia 
ada di tangan orang kafir dan tangan orang Muslim sama saja sebagai bahan peledak.

Dalam hubungan ini menarik pendapat  Prof. A.Mukti Ali alm. Yang mengatakan tak ada islamisasi ilmu. Karena ilmu itu netral. Dimana saja ia berada.

Pendapat yang mengatakan ilmu netral dan tidak ada islamisasi ilmu pengetahuan itu ditentang oleh Naquib Alatas, seorang ilmuwan dari Malaysia. Ia mengatakan dengan pasti ada. Sebab ilmu itu ada dua, sekurang- kurangnya, yaitu ilmu eksakta dan ilmu social. Yang 
bersifat netral itu adalah ilmu bidang eksakta yang berbeda dengan ilmu social. Demikian Naquib Alatas yang bersikeras dengan pendapatnya yaitu ada islam 
dalam ilmu. Kalau Ilmu itu Islam maka membawa keselamatan, sementara ilmu yang tidak atau jauh dari nilai Islam bisa membuat mudharat. Oleh karena itu ia 
menawarkan Islamisasi ilmu pengetahuan.

Penulis berpendapat, tidak sependapat dengan Naquib Alatas yang memisahkan antara ilmu dan islam. Imu muslim dan ilmu kafir. Yang benar adalah ilmu itu satu. Baik Ilmu eksakta maupun ilmu sosial.Bukankah ada ilmu social science ? Artinya ada ilmu sosial ada juga ilmu ekskta.Contohnya ilmu social ; ilmu psikology dan lain sebagainya . Perlu pembahasan lebih lanjut.Bagi kita ilmu itu perlu dipelajari baik ilmu eksakta maupun ilmu sosial Supaya ilmu itu bermanfaat. Kita memperhatikan 
dunia Islam atau orang muslim cenderung mengembangkan ilmu sosial ketimbang ilmu eksakta padahal ilmu eksakta menjadi pelopor kemajuan disegala bidang. Namun eksistensi keduanya tetap bermanfaat bagi perjalanan hidup manusia. !

Jakarta 14 Agustus 2022

*) Dr Mas'ud HMN adalah Dosen Universitas 
Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) 
Jakarta. Email masud.riau@gmail.com

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)