Beranda » Budaya » Opini: Petunjuk Agama

Jumat, 12 Agustus 2022 - 07:25:46 WIB
Opini: Petunjuk Agama
Diposting oleh : Harun AR
Kategori: Budaya - Dibaca: 221 kali
Petunjuk Agama

Oleh Masud HMN*)

Apa petunjuk agama yang kurang sehingga banyak yang tidak sesuai atau keluar dari agama? Padahal fungsi dari agama adalah memperbaiki. Ada  kalimat yang sebenarnya bertentangan terdengar di masyarakat kita seperti;  banyak orang pergi haji ke Mekkah Tapi kenapa maksiat tidak berkurang jumlahnya. Kalimat ini sepertinya paradox (konflik). Yakni lain dalam teori dan prinsip, namun lain lagi dalam pelaksanaan. Atau dalam istilah lain, di mulut dan di hati lain . ’Pecah kongsi antara mulut dan hati .Terjadi kekacauan. 
 
Mengutip istilah kata agama ada dua kata yaitu "a" dan "gama". Dalam pengertian bahasa "a berarti tidak, sedang "gama berarti kacau. Maka agama berarti tidak kacau; Bila tidak kacau tentu ada guidane, ada pengertian atau petunjuk. Oleh karena itu agama dan esensi yang penting adalah petunjuk.

Dalam hubungan itu setidaknya ada arahan dalam 
menjalankan ruang lingkup agama, antara lain dalam ibadat (penyembahan), syariat (hukum ) dan muamlat ( pergaulan antar manusia). Tiga petunjuk tersebut merujuk pada hal penting supaya agama itu berjalan sesuai fungsinya.

Intinya agar tidak kacau dan baik, yakni antara ibadat, syariat dan Muamalat.Maka tautan dengan masalah ibadat mestilah diketahui pelaksanaannya yang disebut dengan rukun dan syaratnya. Agar sesuai dan tidak sembarangan dalam beribadat. Yang disebut rukun berkaitan dengan sunnat, wajib dan harus ada ketentuannya. Demikian juga dengan syariat atau hukum islam. Ada pembatasan hukum. Ada Hal yang dilarang dan ada hal yang dibolehkan. 

Menurut Islam yang terdapat ketentuannya. Seperti nikah atau kawin, tidak boleh saudara sesusuan, orang dalam iddah dilarang nikah sampai habis masa iddahnya’. Hal lainnya muamalat atau pergaulan masyarakat. Contoh 
tolong menolong antar sesama. Dilarang atau tidak boleh jual beli pada sebuah benda, yang haram. Contohnya alkohol. Atau benda dalam tawaran orang lain.

Jika kita melihat Literasi Hukum, Kita harus melihat dalam literasi hukum Islam, dimana terdapat tiga bentuk suruhan atau panggilan.Yang pertama, suruhan Allah. Misalnya pangggilan sholat. Kedua,  panggilan dan suruhan Rasul seperti dakwah amar makruf nahi mungkar.

Dasarmya adalah hadits nabi yang mengatakan Hendaklah kamu berbuat yang baik atau makruf dan 
menjauhi yang mungkar. Ketiga, adalah memelihara akhlak. Ini juga berdasakan hadits, tidaklah aku diutus  kecuali untuk menyempurnakn akhlak manusia.

Jadi kita haruslah memelihara akhlak yang baik atau berakhlak mulia.Tiga literasi ini merupakan lingkup ibadah yang harus dijelmakan sebagai seorang muslim Yaitu ibadah, amar makruf nahi mungkar dan akhlak mulia. Tiga literasi ini atau tiga kunci ini bagaikan harga mati dalam mengatasi persoalan diatas. Menjadi langkah perencanaan kedepan. Sudah seharusnya.

Penutup

Dalam kesempatan ini bagaimna muslim benar benar dapat menjelmakan ibadah. Atau ejawantah dari amar makruf dan nahyi mungkar dan bagaimana pula bergaul 
dengan sesama atau lingkungan yang berbeda.

Penulis berpandapat hal ini penting adanya,  Misalnya kalimat paradoks kerap terjadi antara rajin beribadah di satu sisi namun bersama itu juga maksiat jalan , masih minum tuak, dan yang mungkar lainya berjalan terus, Kita melihat realitas ada yang salah dalam hidup muslim ini yang mestinya harus dirubah dan diperbaiki.Tibalah masanya umat muslim meperbaiki yang salah dan mengindahkan panggilan Islam. Pada literasi pelaksanaan dan panggilan Islam. Mari kita laksanakan. Insha Allah ! 

Jakarta 2 Agustus 202

*) Mas'ud HMN Dosen Pasca Sarjana Universitas 
Muhammadiyah Prof Dr Hamka Jakarta
Email masud,riau@gmail.com

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)