Beranda » PROFIL » MOU Mantrade ( Malaysia) dan Kikim Group ( Lahat, Indonesia) untuk Pembangunan Jangka Panjang

Senin, 20 Juni 2022 - 11:09:04 WIB
MOU Mantrade ( Malaysia) dan Kikim Group ( Lahat, Indonesia) untuk Pembangunan Jangka Panjang
Diposting oleh : Harun AR
Kategori: PROFIL - Dibaca: 27 kali

Penandatanganan MoU Mantrade dan-Kikim Group Ada Planning Jangka Panjang?  

Jakarta, Melayutoday.com,-Kabupaten Lahat memiliki Kikim Area sebagai calon daerah pemekaran untuk menuju daerah otonomi baru di Sumatera Selatan terus membenahi pembangunan. Sebagai langkah terobosan, Kikim Group melakukan nota kerjasama MoU dengan Mantrade Malaysia yang berlangsung saat  pameran Mega Build Indonesia, di Hall A JCC senayan, (16-19/6/2022).

Prosesi MOU tersebut dihadiri dari pihak Mantrade Malaysia,  Nasir Bin Abd Rahman vice President SD Associates ,Nik Mat Bin Ismail, sementara dari pihak Kikim Group dihadiri oleh Prof  Junaedy Burhan dan Konbes Pol Purn. Rozimi.

Junaedy Prof  Burhan yang didampingi Rozimy dari Kikim Group tersebut mengatakan,
Setiap otonomi baru di Indonesia memerlukan anggaran yang sangat besar, karena itu dianggap membebani APBN.

"Oleh karena itu diperlukan inovasi agar tidak membebani APBN, maka kita coba untuk menciptakan serta menggenjot pendapatan asli daerah ( PAD). caranya dengan menggenjot pembangunan. Solusi dengan Membangun, tentu diperlukan backup dari luar yaitu masuknya investor dengan harapan  pembangunan yang menghasilkan peningkatan PAD," jelas Junaedi Burhan.

Selanjutnya, kata Burhan, untuk inovasi lewat investor yang masuk ke  Kikim area yang dipersiapkan sebagai daerah otonomi baru  itu harus ada Prioritas pembangunan.

" Untuk tahap awal kita prioritaskan membangun PLTA (pembangkit listrik tenaga air) karena setelah kita survei awal ternyata di Kikim area punya potensi lebih kurang dari 7 Sungai , ada satu sungai yang langsung mempunyai potensi 240 MW," ujar Junaedi Burhan 

Kita ketahui bahwa 240 M Watt ini Potensinya luar biasa. Padahal kita punya 7 Sungai di daerah tersebut, salah salah satunya itu Sungai lipsync.

"Kita mulai dari situ dulu, jika Kita berhasil mendapatkan energi hijau atau energi terbarukan dengan 240 Watt, dari energi itu, maka kita akan mendapatkan income sekitar 2,1 triliun pertahun," harapnya.

Dari segi produk energi , apalagi disitu ada tiga sungai yang berpotensi kita bangun, itu juga sangat luar biasa di daerah Lahat arah ke Lubuk Linggau Provinsi Sumatera Selatan sekitar 30 km.

Menurut Junaedy Burhan ada tiga sungai besar sungai lingsing, sungai pangi dan Sungai Cawang. Sungai Cawang potensinya sangat luar biasa.

Jadi sebetulnya, tambah Junaedi, Kikim area sangat kaya, tinggal bagaimana Kita menggali untuk menciptakan inovasi keadaan, yang sekarang sudah dimulai membuat master plannya.

" Saat ini kita sudah dalam tahap awal, direncanakan akan membuat studi kelayakan selama lima bulan, karena setiap Pembangunan diperlukan studi kelayakan, baru dikembangkan membuat master plan baru, lalu tahap clan procurement dan kemudian tahap construction. Studi kelayakan ini hingga selesai membutuhkan waktu sekitar 5 – 6 bulan,"tambah Junaedy Burhan.

Namun, lebih rinci Junaedy mengungkapkan jika tahap pengerjaan contraction lebih lama, maka pengerjaannya juga bisa lebih lama lagi yakni akan memakan waktu 2 sampai 3 tahun.

Terkait berapa tenaga kerja dalam pengerjaan proyek ini, Junaedy mengatakan kita butuh banyak tenaga kerja  sendiri,  mereka yang dari Malaysia juga ada. Karena kita membangun di Indonesia tentu perlu tenaga kerja penduduk setempat tapi perlu diseleksi kompetensinya.

"Waktu pelaksanaan mulai dari studi kelayakan hingga selesai  minimal membutuhkan waktu selama 6 tahun,"pungkas Junaedy Burhan, Ketua Presedium Kikim Group didampingi Kombes pol purn  Rozimi dari Kikim Group. 

Rencana Pemekaran Kikim area menjadi daerah otonomi baru untuk sementara di moratorium. ( Harun).

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)