Beranda » Ekonomi » Obsesi GERTASI untuk Kemakmuran Petani Indonesia

Rabu, 27 April 2022 - 00:33:17 WIB
Obsesi GERTASI untuk Kemakmuran Petani Indonesia
Diposting oleh : Harun AR
Kategori: Ekonomi - Dibaca: 54 kali

Gerakan Tani Serikat Islam Memajukan Petani Indonesia

Jakarta, Melayutoday.com,-Baru terdengar bahwa Sarikat Islam ( SI) punya sayap petani bernama Gertasi ( Gerakan Tani Syarikat Islam). 

Menurut Ketua Umum Gertasi, Dr. Wahid Erawan, pasang surut Gertasi khususnya di masa orde baru agak sedikit menurun karena Pak Soeharto presiden kita itu dia menggalakkan dengan apa yang dinamakan revolusi hijau. Waktu itu pak Harto menggalakkan revolusi hijau dengan gencar gencarnya,  sehingga petani Sarekat Islam agak tertinggal. Karena kegiatan setiap kelompok tani yang digagas pak Harto cukup bagus. Di masa Soeharto itu pertanian sangat bagus sekali  terutama konsep Swasembada beras.

Hal ini terus berlanjut hingga tahun 80- an, karena revolusi hijau kalau dipaksakan terus maka terjadilah  istilah dalam pertanian of the missing Right. Pertanian  digenjot dengan pupuk kimia pada tahun 2000 an.

Pada tahun 2017 saya dengan Pak Hamdan Zulfa ngobrol kembali untuk membangkitkan bidang pertanian.  "Alhamdulillah sekarang hampir di 28 provinsi sudah terbentuk kepengurusan Gerakan Tani Sarekat Islam ( Gertasi ) dan ada kegiatan kegiatannya," jelas Wahid di sela sela Buka Bersama Keluarga Besar SI bersama Anak Yatim, Selasa ( 26/4/2022) tadi malam.

Gerakan Tani Sarikat Islam memiliki keunggulan tergantung  wilayahnya seperti di Kalimantan Selatan itu para petani yang tergabung di Gertasi mengolah budidaya ikan patin yang menghasilka satu hari  1 ton ikan patin, sehingga disebarkan ke Kalimantan Barat sampai ke Kalimantan Timur dipegang oleh ketua gertasi.

Sedangkan Gertasi di Kalimantan Barat berhasil  bertani sayuran, yang mengelolanya ialah alumni UGM.

 "Di Kalimantan Selatan kebanyakan bertani budidaya ikan dan perikanan laut yang kebetulan dikelola oleh  lulusan Unhas sedangkan Gertasi di Jawa Barat mengelola pertanian bidang kopi, sayuran dan pengembangan jeruk purut," jelas Wahid yang jadi dosen pertanian di salah satu universitas swasta di Garut ini.

Terkait nasib petani yang mayoritas muslim tersebut, Wahid mengatakan pentingnya program tentang peningkatan ekonomi umat sekarang petani kita terutama menengah ke bawah itu termarjinalkan alias terpinggirkan, hal ini perlu ada penguatan kelembagaan maupun program bantuan untuk memfasilitasi hubungan dengan pemerintah.

 " Kita menyaksikan para petani kita solidaritasnya cukup tinggi dan  kalau ditata secara benar akan tetap surviv. Kita menyaksikan saat reformasi pada tahun 1998, itu  orang lain bangkrut tapi petani tetap saja kokoh, tidak terpengaruh kondisi reformasi," jelas Wahid.

Menurut Wahid, kami dengan pak Hamdan Zulfa sama sama alumni UNPAD, saya  bidang pertanian sedang Pak Hamdan Zulva jurusan hukum.

"Insya Allah dari Aceh sampai ke Papua Gertasi memiliki keunggulan pertanian bahkan di setiap provinsi. Misalnya, di Aceh ada tambak udang dan ternyata pemerintah juga  sangat welcome," pungkasnya. ( Hrn).

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)