Beranda » Opini » Paradoks Nilai dan Masyarakat yang Sakit

Rabu, 03 November 2021 - 07:59:21 WIB
Paradoks Nilai dan Masyarakat yang Sakit
Diposting oleh : Harun AR
Kategori: Opini - Dibaca: 63 kali

Pradoks Nilai Dan Masyarakat  Yang  Sakit 
 
Oleh DR Masud HMN*)
 
Ungkapan terbaik untuk  kita terbaik juga untuk orang lain adalah  pharasa dari  komunitas Indonesia yang ideal dari satu masyarakat atau komunity berbasis  tradisi. Makna ungkapan   terbaik untuk kita terbaik  untuk orang lain diabtraksikan  dengan komunitas yang  elok, santun  penuh tegur sapa. 
 
Sementara makna  ungkapan   untuk kita dan  untuk orang lain metafornya  adalah masyrakat yang dinamis, dan  berkemajuan. Masyrakat yang bergerak dalam idea kreatif. Yang berorientasi  pencerahan  dan  kesejahteraan. Gabungan dua  penggal ungkapan  itu Secara konsep tradisi itu pernah ada dimasa lalu. Pada masyrakat Indonesia awal. Dimana  suasana  masyrakat saling menyapa, bekerjasama  berat sama dipikul ringan sama dijinjing,
Tetapi  sayangnya  tradisi  itu kini  telah berubah  Sudah berbeda jauh Antara panggang dengan api,  Antara harapan dan kenyataan.
Hal ini  dihubungkan  masyarkat masa kini suasana  paradox atau bertentangan. Mengingat  masyarakat sekarang  masyrakat  yang keras, tiada santun, tiada kelembutan. Bahkan  muncul  komunitas  ganas , brutal . Fenomena  masyrakat yang sakit.  Femomena  yang merisaukan.
 
Tentu saja seharusnya  tidak demikian. Ini artinya ada  paradoks  antara fenomena kekerasan,  dengan konsep   nilai elok,  yang mestinya  tidak terjadi . Selayaknya  harus  kita   perbaiki, Tugas  kita  yaitu  mencari solusi  mengobati  masyrakat yang sakit

Profesor  Sumantri Prapto Kusumo (alm).  mantan Sekjen Menteri Sosial RI mengatakan masyrakat Indonesia  menjelma menjadi kepribadian berbentuk menyesuaikan  kemauan pasar. Ia menyebut dengan istilah  market personality.. Satu kepribadian  bebas dengan  tradisi kemauan  pasar. Yang mudah  yang menguntungkan  saja
Sumantri Pratokusumo yang juga guru Besar Etika sosial  dari Universitas  Padjadjajaran Bandung itu menilai gejala itu merupakan gejala masyrakat yang tidak sehat. Demikian Sumantri Praptokusumo ( Market personality,Melayu Pos12/.8/2018)
Sejalan dengan  pendapat  Prof Sumantri,  dalam  khazabah Melayu ditemukan istilah  adat usally dan adat terjoly  Adat usally adalah  dasar, asli. Tidak berubah. Sedangkan  adat terjoly adalah adat yang selalu berubah.  
 
Terhadap  adat prinsip dan  adat yang berubah ubah, ada paradoks (pertentangan ).Penulis berpendapat  bahwa  terjadi paradoks  dari perubahan zaman yang keluar dari  tradisi  adat yang usally.  

Fenomena ini lantas menjelma menjadi  tradisi market (pasar) Adat  yang usally adalah tetap,baku  berbasis  pada keluhuran budi, santun, serta kebenaran, Tidak lekang karena panas dan  lapuk  karena hujan.Nampaknya ini  gejala  yang terus  eksis  pada komunitas pada umumnya termasuk  masyrakat  Indonesia kini,Pertanyaannya apa yang  bisa dilakukan,Kita  coba  memberi  jawaban menghadapi keadaan ini seperti berikut:

Pertama ,  dijawab dengan  pola  pendidikan yang berbasis akhlak, Perilaku harus  dididikkan  lebih serius pada  pendidikan kita.Penddikan harus  menjadikan santun, peduli dengan orang lain, orang  baik adalah  orang banyak berbuat  kebaikan untuk banyak orang,

Kedua, jawabannya  adalah dengan pembangunan ekonomi. Membangun  manusia  kerja, betanggung jawab. Dengan kerja, kita berubah dari kemiskinan. Bila kita keluar dari kemiskinan ekonomi, kita  dapat membangun banyak bidang,
Demgan dua  pokok  soal di atas, yakni dengan akhlak kita berubah  menjadi  peduli, santun, Dengan  keluar dari kemiskinan kita akan punya  kesempatan  menjadi  mandiiri dalam hidup. Tanpa di kendalikan oleh  pasar, oleh  kepribadian  yang tidak sesuai,
Sebagai penutup  ungkapan   terbaik untuk  kita terbaik untuk orang lain sebagai  ideal dari masyrakat  berbudi  luhur santun dan peduli akan sesama  serta dinamis berkemajuan, seyogyanya menjadi  konsep tradisi yang mencerahkan, Menjadi solusi  tradisi yang mengedukasi masyrakat kita yang berkemajuan  Semoga.

Jakarta 1 Nopember 2021

*) DR Masud HMN adalah  Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta. Email masud.riau@gmail.com

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)