Beranda » Melayu English » Kearifan Global dan Kemenangan Taliban Di Afganistan

Rabu, 25 Agustus 2021 - 10:48:04 WIB
Kearifan Global dan Kemenangan Taliban Di Afganistan
Diposting oleh : Harun AR
Kategori: Melayu English - Dibaca: 181 kali
Analisa Politik: Kearifan Global dan Kemenangan  Taliban Di  Afghanistan 
 
Oleh DR Masud HMN*)
 
Diraihnya  kemenangan di Afghanistan  oleh  kelompok Taliban baru baru ini  mengejutkan,mengingat tak sesiapa yang   menduga  sama sekali. Sehingga  lahir  analisa  beragam menanggapi  sukses Taliban  tersebut. Mulai dari opini lahirnya Negara Teroris, dan  ada juga yang menilai ini peristiwa   menarik, bagus  untuk keseimbangan  politik Asia  Selatan. Afganistan sebagai  Negara moderat  baru dalam hubungan internasional.
 
Opini memberi label Teroris  tergadap Afghanistan menyamakannya dengan  ISIS yang dulu juga  hampir saja  menguasai Iraq membawa  kerisauan. Namun kemudian selesai  dan Iraq tetap jadi Negara  moderat  hingga kini. Artinya  label Teroris adalah  alasan yang dicari cari yang bisa jadi tidak relevant atas ungkapan  teroris  lagi  itu  ke itu lagi  . 
 
Analisa lain adalah  dimunculkan  pokok pikiran  tentang  kearifan global untuk melihat  situasi Afghanistan  tersebut. Tidakkah  ada  sisi lain sebagai argument  menjelaskan Afghanistan  yang baru.Menghapus fenomena  dimasa  lalu  Afghanistan disebut teroris  karena melawan Uni Sovyet kemudaian  datang  Amerika yang dilawan juga oleh  rakyat Afghanistan lagi  disebut Teroris juga.
 
Pada logika  intinya  Afghanistan bukan Teroris melainkan sebuah Negara yang   sedang menegakkan kedaulatannya  ,  melawan musuh negaranya  . Dulu melawan Uni Sovyet disebut Teroris, melawan Amerika  disebut juga Teroris. Kalau begitu  jika melawan Negara yang intervensi sebuah negara lain. akan  diberi  nama  Negara Teroris. Itu kekeliruan.
 
Dalam hal ini  menarik  apa yang dikatakan  Yusuf Kalla  mantan Wakil Presiden  Indonesia bahwa  Afghanistan  akan menjadi Negara  damai.(16/8/2021). “ Hal itu  mereka inginkan sejak lama” kata  pak Yusuf Kalla dalam  acara Webinar di Jakarta.
 
Dari   pandangan  pak Yusuf  Kalla  sejarah panjang  Negara  itu menemukan  fenomena  anti these bahwa  akhirnya  Taliban  memenangkan  konflik  tersebut. Bercermin  pada  perang lama  Amerika Vietnam tahun enem puluhan , bagai manaapun 20 tahun perang di Afghanistan  tidak  berguna membawa   pertumpahan darah belaka. Amerika  sudah  lelah  dengan perang  Afghanistan  dan ingin keluar.” Tentara Amerika sudah  lelah “  ungkap  Yusuf Kalla.
 
Presiden Amerika dalam hal ini   telah mengambil keputusan 18 Agustus  lalu batas  akhir keluar   hengkang, dan  menarik 100.000 personil pulang tentaranya. Mengingat  perang yang tidak menentu  dan hanya  menghabiskan  dana  perang  dari sumber  keuangan asal pajak  rakyat Amerika. Seperti  dilansir dari  CNBC  edisi 17 Agustus 2021 ,bahwa negeri paman Sam itu  telah menghabiskan 2,26 Triliyun US  Dollar, untuk perang  Afghanistan  tahun 2001 sampai 2021.Disamping  tenatara  yang tewas 2.300 orang ditambah 20.000  lebih yang  cedera.
 
Demikianlah persoalan Afghanistan dan kemenangan Taliban yang dapat kita  lihat sejauh ini. Apa selanjutnya  masih kita tunggu yang berlaku. Baik berkaitan dengan stabilitas , keamanan, dan  hari depan Afghanistan.Kita doakan  sukses.
 
Hemat Penulis, dalam perspektif  Indonesia adalah  masa  besar telah lahir bagi Afghanistan menunggu tangan tangan putra  terbaik negeri itu   memamfaatkanya. Satu hal  adalah pentingnya  kearipan global dijadikan dasar  melihat  masalah  yang  ada. Ya, sekali lagi kearipan global. Tidak sekadar  isu Taliban Teroris, fundamentalis  dan semacmanya.Isu klasik  itu baik kita tinggalkan.
 
Jakarta 24 Agustus 2021
 
*) DR Masud HMN adalah anggota Hubungan Luar Negeri PP Muhamadiayh dan Dosen Pascsarjana Univeritas Muhammmadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta   .email   masud.riau@gmail.com

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)