Beranda » Opini » Hari Depan Peradaban Melayu

Minggu, 22 Agustus 2021 - 22:07:50 WIB
Hari Depan Peradaban Melayu
Diposting oleh : Harun AR
Kategori: Opini - Dibaca: 87 kali
Hari Depan Peradaban Melayu 
 
Oleh Masud HMN*)
 
Peradaban Coctail dan kini peradaban  Webinar  adalah  dua  peradaban yang  identik  secara umum berlaku turunan (derivative)  Bedanya  pada era dulu peradaban Coctail  dikelilingi suasana udara berpengatur suhu, carpet lembut dan kolam renang.Minuman cocktail, beer dan  vodka Sementara Webinar tidak demikian  suasananya  berlansung  dari ruang kerja,  dari rumah,  hadir  bersama layar komputer  beserta perangkat yang menyertainya.
 
Namun secara  hakikat sama saja. Yaitu sarana  menshare gagasan, mensinergykan  saran  untuk dijadikan  langkah eksekusi atau  jalan keluar.Hadir nya dari  budaya cocktail turun ke webinar.
Pada lingkup  Peradaban  Melayu  selalu ada yang  humanis, akrab, bermuatan silaturahmi unsur itu  bernilai penuh.
 
Pada intinya . suasana tatap muka verbal, penuh sapa, santun, yang lazim  .Tapi webinar harus  berubah  dengan bercakap lewat  layar audio computer dengan  bincang atau bercakap langsung. Bagaimana  webinar mengambil  keputusan  atau keseimpulan lewat  layar kaca dipakai  sebagai keputusan resmi formal

Ya, itulah,model dimana  Peradaban Melayu harus menerimanya.
Banyak  ketidak cocokan . ada tantangan, banyak persoalan yang harus di selesaikan secara  budaya. Masa berubah musim beralih.  Ada humanis  yang hilang Disertai rasa risih  Sekali  air banjir sekali tepian berubah Tantangan tiada henti..
Tidak salah kalau  diakatakan  Peradaban Melayu  direpotkan. Bahkan Prof Dr Harun Nasution  Rektor Univeritas Islam Negari  (UIN)  dulu  Institut  Agama Islam negeri (IAIN) Ciputat Jakarta, mengatakan  peradaban Melayu itu  terus  menerus menghadapi perubahan  yang terus berlaku.”Peradaban Melayu itu sudah lelah” kata Harun Nasution.
 
Kesimpulan peradaban  Melayu  sudah lelah pendapat  Harun Nasution agaknya benar. Faktanya  persoalan Peradaban Melayu yang lelah dan mendapat himpitan berat  dibicarakan  dalam seminar seminar. Misalnya  tentang  peradaban Islam Melayu di  Malaka yang menginissiasi seminar  berkala. Maksudnya  mendudukan peradaban Melayu  dan Islam dalam  dunia yang berobah, Dunia melayu Dunia Islam. Peradaban  Melayu mana  Melayunya dan Islamnya.
 
Pada bulan yang  lalu dalam  tema yang sama  di Kuala Lumpur juga  diadakan seminar melalui  on line  tentang Buya Hamka. Bagaimana  gagasan Buya Hamka dalam upaya .impelementasi  islam dalam kehidupan masayrakat di Rantau ini   Yaitu Islam yang  membawa  berkemajuan  .
 
Kita tahu Hang Tuah  adalah tokoh  legendaris Melayu era awal  di Rantau ini memberi  testimonynya  dalam lima  kata  yaitu “Takkan Melayu Hilang di Bumi.”. Yang tiada  lain terwjudnya nilai Islam dalam masyrakat.  Kemudian hal itu harus menjadi pegangan ideal, diejawantahkan dalam praktek. Jika tidak, bumi  rantau ini ada masyrakat tapi Melayu dan nilainya  sudah hilang.
 
Rasa rasanya   esensi testimony Hang Tuah tersebut sangat tepat . Selebihnya   dalam semangat  tersebut penulis  poin  mencoba  mengajukan bagaimana wawasan    agar berkelanjutan .  Melayu tidak lapuk kena hujan dan tak lekang kena  panas .Atau dengan  kata lain Melayu yang punya arti dan  hari depan. Dimana  Melayu tidak hilang di bumi. Setidaknya, Peradaban Melayu  dapat dilihat dalam dua persfektif yaitu itu :
 
Pertama, perspektif  Islam yang berkemajuan. Islam yang  berkemajuan ilmu dan teknologi itulah  Peradaban melayu yang kuat. Tanpa itu Peradaban Melayu tiada punya hari depan.
 
Kedua.pespektif   meningkatnya taraf hidup. Masyarakat melayu harus maju dalam ekonomi. Hanya dengan kemajuan ekonomilah  taraf hidup meningkat, dan Melayu dapat  eksis. Tanpa  kemajuan ekonomi dan meningkat taraf hidup, Melayu  akan hilang dalam lipatan zaman.
 
Dua perspektif  atau wawasan yang dipandang  dapat menjadikan  melayu tak hilang di bumi  yaitu berwawasan Islam dan  meningkat taraf hidup yang lebih sejahtera. Dengan demikian apa yang dicita citakan  memungkinkan  untuk dicapai. 
 
Untuk menyempurnakan  dua wawasan  yang islam berkemajuan dengan  peningkatan taraf  hidup diperlukan indicator  pengukur  terwujudnya wawasan dimaksud. Indikatornya  adalah agama, ekonomi,ilmu,budaya,dan kearifan global  yang  bisa  dijelaskan sebagai berikut:
 
1,Indikator Agama yaitu Islam. Wujudnya  dalam ketaqwaan dan  keberimanan
2.Indikator Ekonomi taraf hidup dicerminkan oleh  tingkat  income percapita penduduk
3.Indikator  ilmu pengetahuan  dicerminkan oleh  tingkat pendidikan
4. Indikator  tradisi atau budaya. Dicerminkan  sopan santu,  rajin, tekun dan kerja keras
5. Indikator Kearifan global. Merupakan keterbukan komunikasi  pergaulan Internasional.
 
Lima  indikasi inilah yang menjadi ukuran  apakah  peradaban  Melayu itu bisa terwujud sesuai dengan  harapan. Tanpa  agama,ekonomi  yang maju. Tanpa  ilmu tanpa tradisi budaya  dan kearipan global, eksistensi peradaban Melayu tidak akan tercapai.
Sebagai penutup, pertarungan peradaban Melayu dan  peradaban lain memang  nyata. Budaya Cina, budaya  barat seculerisme lagi tarung dengan peradaban Melayu. Harapannya Peradaban Melayu  tetap eksis bersama  semangatnya menuju   hari depannya Tak melayu hilang dibumi.. Meski lelah berjuang  ditengan pertarungan yang belum berakhir.Majulah  peradanam Melayu .
 
Jakarta 20 Agustus 2021
 
*) Dr Masud adalah  Dosen  Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof  Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta. Eemail . masud.riau@gmail.com

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)