Beranda » Nasional » Menelisik Kiprah Partai Islam di Indonesia dan Turki

Minggu, 18 Juli 2021 - 11:42:29 WIB
Menelisik Kiprah Partai Islam di Indonesia dan Turki
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Nasional - Dibaca: 38 kali

MENELISIK KIPRAH PARTAI ISLAM 
DI INDONESIA DAN TURKI

Oleh : Drs. Sutanta, M.Sc. (Econ) Ph.D. D.E.
Dosen Pasca Sarjana Universitas Bina Insan Lubuklinggau dan Dewan Pembina DPP Ikatan Jurnalis Muslim Indonesia (IJMI)
( Artikel Disampaikan pada acara: Pelantikan Pengurus DPP Ikatan Jurnalis Muslim Indonesia (IJMI) periode 2021 -2026, Jakarta,  28 April 2021)

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi was sholatu was salaamu 'alaa rosulullahi 
wa' alaa aalihi wa sohbihi wa maw waalaah. Amma ba'du.
Yth. Ketua Dewan Syuro Partai Masyumi, Bapak Dr. Abdullah Hehamahua.
Yth. Ketua Dewan Pembina Ikatan Journalis Muslim Indonesia, Bapak Dr. Ma’sud.
Yth. Ketua Umum Ikatan Journalis Muslim Indonesia, Mas Mohhamad Harun.
Yth. Bapak/Ibu, rekan-rekan sekalian Para Pengurus IJMI;
Yth. Para hadirin undangan yang berbahagia,
 
Pertama-tama marilah bersama-sama kita memananjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt. Atas berkah dan rahmat-Nya kita sekalian dapat bersilaturahmi pada kesempatan hari ini sekaligus menghadiri acara Pelantikan Pengurus Ikatan Journalis Muslim Indonesia (IJMI). Mudah-mudahan organisasi yang baru saja melantik para pengurusnya dapat segera move on bergerak maju dan berkembang menjadi organisasi yang besar, mandiri, professional dan membela Islam secara kawah dan mampu memberikan warna baru yang mencerahkan untuk agama Islam.
Bapak/ibu yang berbahagia,
Ijinkanlah saya menyampaikan sedikit pandangan saya tentang partai Islam di Indonesia. Membicarakan partai Islam di Indonesia tidak akan habis dalam waktu yang singkat ini. Terdapat khasanah yang cukup luas untuk membahasnya. Islam di Indonesia memang sangat komplek dan menarik untuk dikaji, ditelaah, terlebih jika ada keinginan untuk mendalami peran antar generasi muda islam terhadap partai politik. Mengingat ummat Islam di negeri ini adalah umat yang mayoritas, bahkan di dunia pun juga mayoritas, sehingga tidak mungkin tidak melibatkan ummat Islam dalam setiap langkah membangun peradaban di negeri ini. Demikian juga tidak terkecuali dalam hal-hal yang terkait dengan permasalahan politik, mengelola negara atau mengelola hubungan antara umat Islam dengan negara. 
Jika Negara ingin maju, maka orang-orang baik, kaum ulama dan para cendekiawan Muslim mesti berperan dalam percaturan politik dengan cara mengikuti proses pemilihan umum, karena mengelola Negara itu mesti ada sistem keterwakilannya, dan sistem keterwakilan rakyat itu hanya ada dari partai politik yang memenangkan pemilihan umum. Jika seseorang telah aktif dalam suatu partai politik, maka akal sehatnya akan memikirkan bagaimana nasib agamanya. 
Sejak lama para pemimpin Islam di negeri ini berusaha menemukan jalan keluar dari persoalan yang membelit sebagian besar ummatnya, yaitu kemampuan ekonomi yang serba terbatas, kemiskinan, pengangguran, keterampilan yang rendah dan keterbelakangan lainnya. Ummat Islam sudah lama terkunkung oleh kebijakan diskriminatif. Sungguhpun kemerdekaan memang memberi peluang kepada ummat Islam untuk mengembangkan diri dan mengolah negeri tinggalan nenek moyangnya agar menjadi Negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur, yaitu Negara yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi. Namun sungguhpun sudah lebih dari tujuh puluh tahun sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, kemisknan dan keterbelakangan (backwardness) masih ada. 
Sebagian besar ummat Islam Indonesia masih jauh tertinggal dalam berbagai hal: pendidikan yang rendah, indek pembangunan manusia yang juga rendah, bidang pekerjaan yang secara material kurang menguntungkan, penguasaan teknologi yang terbatas, kualitas hidup fisik yang rendah, dan status sosial ekonomi yang juga rendah. Belum lagi issue lain seperti kristenisasi, terorisme, radikalisme dan berbagai tudingan buruk lainnya. Semua itu perlu pemimpin yang seiman, tokoh muslim yang arif dan bijaksana untuk mengurus Negara ini secara benar, adil dan berkemajuan. Mari kita bangkitkan Semangat Islam dalam mengelola Negara. 
Kebangkitan ummat Islam untuk mengelola Negara akan terjadi apabila ada kesadaran untuk memperjuangkan agama Islam dan selalu berfikir Amar Makruh Nahi Mungkar  menjadi budaya berfikir para pejuang Islam. Berpolitik itu berjuang demi agama yang kita yakini kebenarannya, bukan berjuang demi kekayaan dan ketenaran pribadi.
Bapak/ibu yang berbahagia,
Saya pernah mendengarkan nasehat politikus senior kita  (tidak perlu saya sebut namanya), yang jelas dia tokoh yang amat sangat disegani dalam perpolitikan di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa untuk dapat duduk dalam partai politik dan berkiprah di dalamnya, perlu waktu minimal 5 tahun untuk merencanakan berbagai rencana yang ingin dicapai dalam pergulatan politik. Mampu memetakan siapa kawan dan siapa lawan. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah berpijaklah pada kepentingan ummat Islam. Kalimat itu, menurut saya sangat benar, siapapun yang masuk ke dalam partai politik seharusanya  mampu menjadi wakil ummat Islam yang mampu membawa suara hati ummat untuk menata Negara sesuai Alquran dan As-Sunnah. 
Namun sayangnya, banyak orang tidak tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Mohon maaf saya mengatakan demikian, karena tidak sedikit korban politik yang bahkan setelah pemilihan umum karena kalah tidak sadarkan diri, karena beban yang ditanggungnya cukup berat ketika yang bersangkutan gagal memenangkan konstestasi. Memenangkan medan pertempuran politik tidaklah mudah. Apabila di wilayah yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Saya mendengar banyak janji dan harapan yang dituangkan oleh orang-orang yang berada di lingkungan pergerakan politik. Bahkan hingga menjenuhkan, karena terkesan tidak ada jalan keluar, slogannya, menang atau kalah (to win or to loose). Jika menang akan memperhitungkan apa yang akan dilakukan selama 5 tahun ke depan, dan jika kalah pastinya harus menanggung beban kampanye dan kewajiban partai. Menang atau kalah mesti memiliki strategi agar tetap tegar dalam menjalankan misi Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.
Bapak/ibu yang berbahagia,
Dalam perkembangan perpolitikan Islam, ada keunikan tersendiri dalam perkembangan partai politik Islam di Indonesia. Dalam pemikiran itu, Agama jelas merupakan perkara penting bagi kehidupan politik rakyat. Dalam kaitan ini pembahasan perlu difokuskan pada paradigma bersatunya agama dan negara. Paradigma ini disebut sebagai integrated paradigm on religion and the state. Paradigma terintegrasi ini berpandangan bahwa antara agama dan negara merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pandangan ini didasarkan pada pemahaman bahwa Islam merupakan agama yang sempurna, yang di dalamnya bukan hanya mengatur masalah ibadah tetapi juga mencakup politik atau Negara.
Paradigma terintegrasi, yaitu bersatunya agama dan negara ini dalam melakukan praktek politik menggunakan pendekatan formalistik. Pendekatan formalistik adalah pendekatan yang cenderung mementingkan bentuk daripada isi. Pendekatan ini menampilkan konsep tentang negara dengan simbolisme keagamaan, berbeda dengan pendekatan substansialistik yang cenderung menekankan isi daripada bentuk. Pendekatan substansialistik tidak mempersoalkan bagaimana bentuk atau format dari negara itu, tetapi memusatkan perhatian pada bagaimana mengisinya dengan etika dan moralitas agama.
Bapak/ibu sekalian yang berbahagia,
Kita masih ingat, Pemerintahan Soekarno di awal kemerdekaan memperbolehkan berdirinya partai-partai politik. Oleh karena itu, ummat Islam merespons dengan mendirikan Partai Masyumi. Berdirinya Masyumi ini dimaksudkan sebagai satu-satunya partai pilitik yang akan memperjuangkan aspirasi dan nasib umat Islam Indonesia. Partai politik ini didukung, antara lain, oleh dua kekuatan ormas besar Islam, yaitu NU dan Muhammadiyah. Namun dalam perjalanannya, para pendukung partai Masyumi keluar satu persatu. Bermula dengan keluarnya PSII tahun 1947, menyusul kemudian NU tahun 1952. 
Akibatnya pada Pemilu 1955, yang merupakan pemilu pertama semenjak Indonesia merdeka, kekuatan politik Islam menjadai terpecah-pecah, bukan hanya Masyumi, NU, PSII, Perti, tetapi juga ada PPTI, dan AKUI. Tentu saja perpecahan di kalangan partai-partai Islam ini mengakibatkan kekuatan Islam menjadi lemah.
Pasca Orde Baru, akibat gerakan reformasi yang dipelopori mahasiswa, telah terjadi ledakan partisipasi politik. Ledakan partisipasi politik itu bukan hanya menimpa kalangan masa akar rumput tetapi juga menghinggapi kalangan elite politik. Sebagai perwujudan dari ledakan partisipasi politik itu, para elite politik berlomba-lomba mendirikan atau menghidupkan kembali partai politik, tak terkecuali Ummat Islam. Partai-partai politik Islam yang muncul pada era reformasi ini mencapai 32, dan dari jumlah tersebut yang lolos Pemilu 1999 sebanyak 17 partai, yaitu PPP, PBB, PK, PUI, PSH, PSII 1905, PNU, PKU, Masyumi, PMB, PAY, PID, PDB, KAMI, PP, PUMI, dan Partai SUNI.
Partai Islam merupakan bentuk yang terkonsep dalam aktivitas politik agama untuk mengekspresikan keinginan tersebut. Berdirinya partai-partai Islam berkaitan juga dengan realitas ideologis. Realitas ini yang mengharuskan pembentukan partai Islam. Seorang muslim dalam kehidupan praktisnya diberikan tugas-tugas yang tidak dapat dilaksanakan kecuali melalui sistem kehidupan Islami. Untuk sampai pada tujuan tersebut maka harus diberikan kesempatan untuk merealisasikan programnya dengan cara yang dapat diterima baik dari segi politik maupun demokrasi. Dengan kata lain, berkumpul sebagai entitas perjuangan sudah dilakukan, tetapi belum ada tujuan yang hakiki yang dicapai oleh partai-partai Islam di Indonesia, sehingga acap kali tertinggal dari golongan partai lainnya. Oleh karena itu, jika partai islam ingin berkuasa maka satukan Visi dan Missi demi kemenangan partai Islam, satukan langkah untuk membangun nuansa Islami dalam praktek kehidupan nyata sehari-hari dan kerahkan segala daya upaya untuk memerangi kebatilan dan ketidakadilan. Wujudkan amar makruh nahi mungkar dalam setiap tujuan akhir partai Islam.
Bapak/ibu yang berbahagia,
Marilah kita lihat bagaimana kiprah partai politik Islam Turkey mampu mewarnai kehidupan politik disana dan bahkan berkuasa lebih dari satu dekade lamanya. Ada  banyak faktor yang menyebabkan AKP (Partai Politik Islam) yang dipimpin oleh Recep Tayyib Erdogan mampu mempertahankan dukungan politik secara luas dari rakyat Turkey antara lain:
Pertama, adanya faktor kepemimpinan di dalam Partai AKP, yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang memiliki visi, integritas, kredibel, dan komitmen yang sungguh-sungguh dengan visi mereka. Bukan orang-orang oportunis, yang hanya semata mengejar kekuasaan. Mereka bekerja di dalam sebuah kekuasaan dengan visi yang sangat jelas. Tiga tokoh utama dalam AKP, yang membuat Partai AKP menjadi pilihan rakyat Turki, yaitu Recep Tayyib Erdogan, yang menjadi Perdana Menteri, Abdullah Gul, yang menjadi Presiden Turki, dan Ali Babacan, yang menjadi Deputi Perdana Menteri.
Kedua, "Triumvirat" AKP, Erdogan, Abdullah Gul, dan Ali Babacan, menjadi arsitek perubahan di Turki, melalui instrumen Partai AKP. Ketiganya orang yang terdidik, berlatar belakang sebagai ekonom, dan ketiganya pernah bekerja di lembaga multilateral. Abdullah Gul pernah bekerja di IDB (Islamic Development Bank), dan World Bank. Erdogan sendiri seorang Ekonom yang pernah bekerja di IDB (Islamic Develoment Bank), dan memulai karir politiknya sebagai Walikota Istambul. 
Ketiga, hanya dalam waktu satu dekade Turki di bawah kekuasaan Partai AKP, terjadi perubahan yang luas dan monumental. Ekonomi Turki mengalami "booming", ditandai dengan meningkatnya "income perkapita" rakyat Turki. Menurunnya inflasi di bawah dua digit. Surplus perdagangan luar negeri Turki yang terus meningkat, dan Turki menjadi kekuatan keempat n ekonomi di Eropa. Mata uang Lira Turki sejajar dengan dollar. Semuanya itu telah mengubah kehidupan rakyat Turki yang lebih adil damakmur.
Keempat, dibidang politik, Erdogan dan AKP mengakhiri kekisruhan politik dan ketidakstabilan, yang selama ini terjadi akibat konflik kepentingan antara parai politik. Dengan suara mayoritas yang dimiliki AKP di parlemen, Erdogan dapat mengarahkan seluruh kebijakan politik negara sesuai dengan visinya. Sebagai hasilnya, AKP dan Erdogan berhasil menjinakkan militer yang selama ini menjadi "king maker" dan "trouble maker" politik Turki. Selama pemerintahan AKP, militer dikembalikan ke barak. Usaha militer melakukan kudeta berhasil digagalkan, dan bahkan sejumlah jenderal dijebloskan ke dalam penjara. 
Turki di bawah AKP dan Erdogan menjadi tempat berlabuh para aktivis Islam, dan seluruh kekuatan-kekuatan Islam yang ingin membangun komunikasi politik dan kerjasama antar gerakan, dan mereka  bisa bertemu di Istambul Turki. Turki menjadi tempat semua Gerakan Islam yang ingin bertemu untuk menyamakan visi gerakan mereka. Ini yang tidak ada di negara Islam, khususnya di dunia Arab, dan tempat lainnya. Di mana pemerintahan Turki di bawah AKP, memfasilitasi berbagai kelompok dan kekuatan Islam di seluruh dunia, yang ingin melakukan pertemuan dan menggalang kerjasama  di Istambul Turki.
Kelompok-kelompok Islam di Turki terus tumbuh, dan bersemi dengan baik, dan mereka mengaktualisasi pemikiran dan gerakan mereka, dan semuanya tanpa ada hambatan. Pemerintah Turki di bawah AKP, memperjuangkan perubahan konstitusi, yang merupakan produk militer, dan hasil kudeta tahun l982, dan inilah yang ingin di rubah oleh Erdogan dan AKP. Termasuk dibebaskan semua pelajar putri, mahasiswi, dan pegawai wanita untuk menggunakan jilbab.
Oleh karena itu perlu disadari bahwa ketika kita akan memasuki arena politik pada tahun 2024, kita harus mempersiapkan dengan matang dan itu perlu dilakukan sesegera mungkin, baik itu menyusun visi, missi, program-program dan strategi-strategi guna memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa dirinya akan berbuat yang terbaik untuk Ummat Islam secara keseluruhan. 
Bapak/ibu yang berbahagia,
Bagaimana selanjutnya partai Islam di Indonesia?
Jika orang baik tidak menguasai panggung politik, maka orang jahat akan leluasa menguasainya hingga menghabiskan kekayaan Negara;
Jika ingin berkuasa di tahun 2024, lakukan persiapan dan rencana yang matang sehingga suara ummat islam menyatu untuk mengelola negeri ini;
Untuk itu, konsep politik islam yang memayungi, mengayomi, sejuk dan damai perlu terus dipromosikan kepada rakyat;
Partai politik islam perlu membangun opini yang rasional bagi para pemilih melanial;
Perlu diperkenalkan Konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu terus dipertahankan;
Kembangkan kesadaran bahwa Islam itu rahmatan lil alamin alamin;
Melakukan gerilya di mushola, masdjid, pondok pesantren dan sekolah-sekolah serta univeresitas islam;
Galang persatuan islam di luar negeri untuk kaum diaspora;
Membangun citra positif akan kebesaran islam ke depan.
Membangkitkan solidaritas Muslim sedunia.
Demikian hal-hal yang ingin saya kemukakan, mudah-mudahan ada manfaatnya, dan terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan kepada saya. 
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamualaikum wr. wb.

Referensi
Mhd. Saleh Umarella,  2015 : Sejarah Partai-Partai Islam di Indonesia, Journal Syariah dan Hukum. 
Lili Romli, 2004 : Partai Islam dan Pemilih Islam di Indonesia, Journal Penelitian Politik, Volume 1, No. 1. 
Media Islam : Membandingkan Partai AKP Turki Dengan Partai Islam di Indonesia?, Era Muslim, Media Islam Rujukan, Rabu, 21 April 2021.

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)