Beranda » Pendidikan » Jihad untuk Membela yang Lemah

Kamis, 04 Maret 2021 - 21:31:55 WIB
Jihad untuk Membela yang Lemah
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Pendidikan - Dibaca: 139 kali

Pembela Kaum Yang Lemah

Oleh Masud HMN*)

Menurut Badan Pusat Statistik ( BPS) jumlah penduduk miskin Indonesia per September 2020 berjumlah 27,55 juta atau hampir 28 juta orang. Keadaan itu setara dengan 10,34 persen. Dengan kata lain, persentase penduduk miskin ada pada dua digit. Ada kenaikan dari periode sebelumnya. Penduduk miskin atau Mustadh ’afiin dalam keumatan adalah identik kaum yang posisi lemah.
 
Di Indonesia angka ini termasuk tinggi. Kelompok ini  memerlukan sekali keadilan, pembelaan dan pemberdayaan. Mustadh‘afiin lawannya adalah hartawan atau orang kaya. Golongan yang terakhir ini, maksudnya kelompok orang kaya yakni  kelompok kecil jumlahnya. Namun mereka kuat dan mampu, ringkas kata keadilan adalah miliknya kaum mustadh ‘afiin.
 
Oleh karena mereka itu tidak berdaya, lemah, tidak punya pelindung yang memerlukan pembelaan. Bagai, menegakkan keadilan yang hak mereka, ditegakkan Orang kaya, sementara para konglomerat tidak terlalu pembela. keadilan, karena mereka hanya mampu membela dirinya sendiri. Kalau diidentikkan pada masyarakat sosialis, yaitu struktur class, proletar dan borjuis. Atau kelas buruh yang miskin dan majikan kelompok yang kaya. Yang dalam fenomena sejarah disimbolkan pertentangan kelas, buruh dan majikan, penduduk kaya dan miskin.Dialektika ini digunakan oleh paham komunisme untuk jargon dan propaganda politik. Jika mengabstraksikan dengan metafora bahasa memahami makna kata mustadh ‘afiin, kita bisa pinjam istilah Sutejo Jiwo budayawan, para pejuang adalah pembela kaum yang lemah.
 
Sementara pembela orang kaya atau penguasa bukan pejuang. Demikian urgennya konsep pembelaan atau kepejuangan itu, maka dalam Islam ada istilah Jihad untuk melawan kemiskinan. Kata mustad ‘afiin berasal dari bahasa arab, yang memiliki padanan kata dari akar kata dha'if ( lemah ), Fakir miskin Identik dengan orang yang tak berdaya, Papa, sengsara tak punya pelindung diri. Padanan lain dalam perspektif politik, mustadh ‘afiin adalah mereka kaum petani, buruh dan nelayan. Mereka yang menggantungkan sesuap nasi pagi dan petang kepada alam, dan kepada majikan. Mereka adalah kategori tangan dibawah. Kelompok yang perlu disantuni, diberi sumbangan infaq dan shadaqah. Makna lain atau lawan kata (contra meaning) dari mustadh ‘afiin adalah kelompok konglomerat, dalam istilah sekarang adalah kelompok Taipan, pengusaha besar. Mereka kelompok tangan di atas, mereka kategori kelompok  kuat dan mampu. Mereka merupakan kaum sombong, takkabur, sok kuasa, otoriter dan zalim. Dalam era sejarah Mesir kuno mereka disimbolkan dengan Fir’aun, yang otoriter dan sombong, Haman dan Qoorun, kelompok hartawan yang berkarakter 
takabur. Konglomerat yang sombong.

Dalam Al Qur’an di sebutkan bagai mana posisi mustadh ‘afin di hadapan penguasa dan konglomerat pada masa itu. Allah berfirman: "Kami hendak memberi karunia kepada mustadh ‘afin di muka bumi dan menjadikan mereka orang yang mewarisinya ( sebagai pemimpin) dan akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan (QS Al-Qashas: 5).
 
Ayat ini menegaskan kaum lemah adalah posisi keumatan yang urgent. Merekalah yang dikategorikan 
sebagai pewaris sah bumi dan isinya. Namun realitanya tidak demikian. Mereka kaum mustadh‘afiin justru menjadi kaum yang terpinggirkan.Dalam hal ini pentingnya perjuangan (jihad) kaum muslimin. Yakni Perjuangan membela kaum yang lemah, kaum mustadh ‘afiin. Perjuangan haruslah diorientasikan kepada kaum yang miskin ini. Kita bagaimana pun harus membangun kesadaran kolektif. Organisasi Islam harus terus mengontrol garis 
perjuangannya untuk tetap komitmen jihad melawan kemiskinan.
 
Karena itu, tiba masanya gerakan keumatan dikumandangkan terus menerus. Dalam Muhammadiyah gerakan ini dimasukkan kedalam satu pandangan Teologis Al Maa’uun. Yakni Kalangan ( kaum) yang tidak mendustakan agama, Mereka itu peduli kaum miskin dan papa. Semoga!

Jakarta 26 Februari 2021

*) Penulis adalah DosenPasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)