Beranda » Opini » Modal Sosial Versi Fukuyama

Jumat, 12 Februari 2021 - 20:58:26 WIB
Modal Sosial Versi Fukuyama
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 29 kali

Modal Sosial

Oleh Masud HMN*)

Adanya soal utang yang terus bertambah, sementara pendapatan semakin, rendah dari ekonomi kita sehingga memunculkan krisis. Membayar utang dan bunga, Utang pokok tak terbayar. Lalu bunga berbunga. Terus demikian. Apa kabar negara kita, tidakkah ada model pembangunan yang lain ?

Prancis Fukuyama seorang ahli sosial furustic menyatakan, tersedia tiga modal untuk pembangunan satu bangsa. Yaitu capital berupa modal uang, modal sumber daya alam berupa mineral, atau minyak bumi dan gas, serta modal sosial atau trust berupa kepercayaan. Pendapat Fukuyama muncul era tahun sembilan puluhan, namun pemikir futuristik Amerika keturunan Jepang itu masih relevan.

Fakta otentiknya ada negara yang berhasil mengejewantahkan konsep itu di negaranya, dan mampu bersaing dengan Negara yang memiliki capital uang dan sumber daya alam. Itulah kemudian maka pembangunan dengan trust sosial tersebut sangat relevan.

Karena itu tak ada alasan untuk berkecil hati bagi rakyat sebuah negara, meski tak punya uang dan sumber daya alam. Gagasan itu dikembangkan dalam bukunya Last Mam On The End of History.1992, tentang liberasi ekonomi dan buku kedua The Trust,1997 mengangkat gagasan Modal sosial.

Singapura mungkin sebuah contoh sukses berbasiskan trust modal sosial.. Negara itu awalnya tidak punya capital uang, dan tak juga punya sumber alam. Tapi Singapura membangun sumber daya manusianya, dengan etos kerja yang baik, dan mengembangkan trust sosial dan kepercayan pihak luar, Banyak orang dari luar menanamkan modalnya disana, Negara yang dulunya bernama Tumasik menjadi Negara Maju di Asia Tenggara.

Bagaimana Indonesia ? Adakah konsep itu punya kesesuaian dengan Indonesia. Kalau bisa bagaimana menerapkannya. Mari kita coba mendiskusikan lebih lanjut sebagai berikut : Pertama, kita harus mengatakan Indonesia punya cukup potensi, Kita punya sumber daya alam, tambang mineral, lalu gas dan laut serta pertanian.

Jadi pada posisi itu berada pada level lumayan. Tidak miskin amat. Sehingga untuk membangun Negara kedepan, bisa mengandalkan sumber daya alam tersebut, Kekayaan perut bumi, minyak dan gas serta pertanian dan kelautan, cukup untuk dijadikan modal membangun, Hanya modal itu harus diolah. Kedua, tentang modal capital uang memang tidak punya. Artinya, modal dalam bentuk uang Indonesia terus terang harus menyatakan tidak punya, Ketiga, modal sosial berbasis komunitas, kepercayaan, Indonesia punya. Sumber daya manusia berupa penduduk Indonesia cukup. Tinggal peningkatan kualitasnya.

Jadi dari tiga faktor yakni sumber daya alam, sumber daya manusia Indonesia punya potensi cukup . Hanya modal atau capital uang saja Indonesia tidak memilkinya. Jadi esensi futuristic Fukuyama dengan pembangunan diatas nampaknya bisa relevant digunakan untuk Indonesia, Ada kesesuaian dan mungkin untuk diterapkan di Negara kita,Yaitu modal sosial. Pengembangan modal sosial, atau trust dapat dimulai dengan pembangunan senergi comunitas. Untuk kemudiannya membuat jaringan komunitas, berbasis pada kejujuran dan trasparansi menjadi unsur dominannya, Modal sosial terbentuk sinergi kepaduan kebersamaan.

Diatas semua itu, kita sampai kepada kesimpulan bahwa modal sosiallah bisa menjadi konsep menghadapi krisis ekonomi kita yang tumpang tindih ini. Modal sosial kita bertumpu pada keadilan ekonomi system syariah, koperasi, pada prinsipnya kebersamaan, Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Meminjam istilah penyair Sutaji Calsum Bachri, seorang penyair era tahun delapan puluhan melontarkan prinsip kohesi sosial yang kental dan dalam., Yaitu ungkapan: " Luka kakiku lukakah kaki kau, luka kakimu luka kakiku". 

Jakarta, 10 Februari 2021

*) Penulis adalah Doktor Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)