Beranda » Opini » Mengenang Sahabat Mutammimul Ula, Sang Aktifis Militan

Senin, 11 Mei 2020 - 14:27:10 WIB
Mengenang Sahabat Mutammimul Ula, Sang Aktifis Militan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 97 kali

Mengenag Mutammil Ulla

Tiga Momentum Penting Kehidupan Manusia

 

Oleh  DR Mas ud HMN

 

Mengenang Muttamil Ulla Sarjana Hukum seorang  sahabat yang  waFat 7 May 2020  terasa  bersesuaian 13 Ramadhan 1441  Hijriah menyentakkan perasaan yang dalam.Kepergian  yang bukan meninggalkan air mata kesedihan biasa .Bukan embun yang kering diterpa panas, Tapi air mata  dari langit  persada kuasa, melintas buana  duka dan cinta yang ikhlas.

 

Muttamil Ulla Sang Mujahid itu meningalkan kita dalam usianya yang ke 63 meninggalakan  anak anak dan isteri yang dicintainya serta iringan doa dar sahabatnya. Kita  menyaksikan perjalanan hidupnya lalu ia  pergi dengan tenang,Sahabat dan keluarga  ikhlas  melepasnya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

 

Tidak ada keraguan padanya bahwa  ia datang  dengan sebaik kedatangan dan  ia pegi dalma sebaik kepergian, Menjelang pertengahan Ramadhan  bulan suci ini jadi saksi. Khusmul khatimah sebagai harapan  orang yang beriman.

 

Saya  mengenalnya karena sama  aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII).Usia saya   yang senior dalam  posisi organisasi PII di pimpinan  pusat  atau Pengurus  Besar. Ia  jadi  PB PII jauh dibelakang saya, Periode  saya tahun  80han Ia periode  setelah itu.Dari ketua wilayah PII Jawa Tengah hingga ketua  umum  PB Pelajar Islam Indonesia Jakarta   Ia sosok  mlitans.

 

Dalam perjalanan waktu, saya sebagai wartawan dan kemudian  menyelsaikan Doktor menjadikan saya  berhubungan dengan almrhum berkelanjutan, Saya lanjut mengabdi sebagai Dosen, ia  meniti  karir  sebagai  politisi.Kemudian terpilih anggota  Dewan Perwkilan Rakyat (DPR).Ia di DPR dua periode dan selam itu ia  menjabat Ketua Komisi II yang membidangi  urusan pemerintahan dalam   negeri  dengan mitra utamanya  Menteri Dalam Negeri,

 

Saya satu waktu bercanda dengannya anda sephatasnya  jadi Menteri Dalam Negeri dengan  kaapasitas kemampun anda. Dia semula hanya  tersenyum. Kapan Anda  jadi Menteri Dalam Negeri  kata saya lagi,Haaa  haaaah…. Dia ketawa
Ia cerdas dan pekerja serius. Ada dalam jajaran Pimpinan Pusat partai Keadilan Sejahtera (PKS).

 

Dia Yang  saya  kenang tak trlupakan saat saya pergi ke New Delhi undangan semina, Dia  bantu saya dengan  mengontak Duta Besar  Indonesia  yang dulu  amggota DPR sama komisi II,

Ketika saya  ketemu Dubes, dia menelpon langsung dri Jakarta mengabarkan saya ada di New Delhi. Kebetulan dihadapan saya pak Dubes mrnyatakan bawa saya seddang berbicara dengan dia berada dihadapannya,.Ini saya sedang  berhadapan dengan saudra Mas ud ujar pak Dubes.

 

Waktu dia tak lagi di DPR saya  temui dia dirumahnya dikawasan Bogor. Ia sakit, Tapi mulai baik, Ya nampaknya abang sehat . Saya   sakit karena dulu terlalu banyak duduk tanpa olah raga”katanya,


Ia  menyatakan fisik tidak masalah maka bisa  aktif urus  masjid di dekat  rumahnya., Saya tanya  keluhannya.Ia  jawab  memori atau daya ingatnya,sering lupa atau keliru.Maka dibantu anak dan isterinya,

Itulah simpulan ringkas bicara tentang Mutaamil Ulla.Dalam persfektif waktu bagi anak manusia berkolerasi  dengan   kepastian .Yaitu ada  masa datang dan ada  masa pergi.Menselaraskan waktu dengan  kehidupan manusia Dr Hamka seorang  cendekiawan terkenal membentangkan menjadi tiga momentum sejarah manusia  yang  amat penting dan mengenbirakan. Hanya  banyak juga orang tidak menyadarinya/Apa itu?

 


Pertama momentum saat  kelahiran manusia. Saat luar biasa lahir dari kandungan ibu kedua nyata, diaman sebelumnya dalam kandungan.. Bayi lahir dengan  kecemasan dan kehawatiran bagaimana  hidup dialam bebas yang amat berbeda sebelumnya hidup dalam kandungan yang relative trnang  dan sorgawi.
Menghadapi itu sang bayi menangis. Takut dan kahawatir  pada era  baru dunia,Beransur angsur menynyusu pada ibunya,Ada  panas ada dingin ada  lapar.. Namun  masa berjalan ia menjadi anak manusia yang  menerima kenyataan hidup, Ia menjadi dewasa ia  mualai senang, tertawa dan  betah. Lersenyum  dalam kebahagaian Kondisitang ini diterima,.Ia berbahagia.

 


Momentum, kedua adalah  memasuki rumah tangga berkeluarga. Tak jatang orang menjadi khawatir  nagaimana nanti, Bagaimana  hidup bertanggung  jawab, Mencari dan memenuhi kebutuhan hidup, Tapi  tidak lama, masa takut dan khawatir hilang. Orang menmukan hidupnya, Menjadi  berbhagia. Hidup  bersama keluatga. Ketkutan dan kekhawatiran  hilang.

 


Momentum ketiga adalah  kematian. Semua  khawatir dan takut pada kematian,Sementara  kematian itu pasti. Tiap waktu  kita menyaksikan  kematian.Tapi tetap saja orang takut  mati
Disinilah  lemahnya  manusia. Ketakutan pada datangnya  maut menjemput  ridak pernah hilang. Mestinya belajar  pada  dua  momentum diatas tadi yakni, masa lahir, mas  berymah tangga dan masa kematian ada  persamaannya. Yakni  masa meninggalkan dunia adalah  momentum yang penting dan sesuatu yang  menjajnjukan akan lebih baik.

 


Sari pati inilah yang dibentangkan  buya Hamka. Sepatutnya  manusia belajar tuntas dengan pengalamannya. Yakni senua akan terjadi Kecuali wafat  waktu kecilSelain itu akan menghadapi  tiga momentum kehidupan manusia,semula dengan tangis, kesedihan dan ketakutan, namun akhirnya berbahagia, Itulah khusnul khatimah.

 


Mungkin  menghadapi maut suatu momentum yang spesifik dibanding lainnya, Karena  belum ada  empiric manusi bisa menjelaskannya, Tapi ajaran Agama  menerangkan demikian, Yaitu akhirat atau kematian  itu  lebih baik dari dunia,

 


Akhirnya, bagi kita yang tinggal pembelajaran terhadap tiga  momentum laintas  perjalanan anak  manusia yamg dikemukakan buya Hamka  sepantasnya kita  ambil peganagan hidup untuk diejawntahkan .


Untuk  sahabat kita Mutammil Ulla semoga mendapatkan tempat yang terbaik disisNya. Amiin.


Jakarta  9 May 2020


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)