Beranda » PROFIL » Filsafat Idealisme Bung Hatta

Kamis, 14 Desember 2017 - 22:23:19 WIB
Filsafat Idealisme Bung Hatta
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: PROFIL - Dibaca: 1128 kali

Oleh  Mas ud HMN

Filsafat bagi bung Hatta, terutama aliran filsafat idealisme  begitu pentingnya.Itulah kenyataan sekaligus mengesankan keanehan. Tentu saja menjadi catatan bernilai tinggi  dari sisi kehidupan Wakil Presiden Indonesia  pertama ini.

Seperti terungkap  dari dari kisah acara perkawinan Bung Hatta dengan  Rachmi yang diulangkisahkan oleh Dr Edi Swsosonono dalam  kuliah umum di Fakultas Eknonomi  Dan Bisnis  (FEB) Universitas  Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta  awal Nopember  2017 lalu,. Dr Edi Swasano nenyatakan   bahwa disitu disaksikan banyak orang, Bung Hatta menyerahkan mahar nikahnya berupa seperangkat bingkisan berupa buku.Buku yang ditulisnya sendiri masa ia sekolah di Belanda.Buku berjudul Alam Pikiran Junani dua jilid.

 

Ini tidak lazim masa itu apa lagi buku filsafat, mengapa tidak buku tafsir Al Quran.Bukankah bung Hatta berasal dari lingkungan agama islam yang kuat.Ayahnya Muhammad Djamil dan ibunya  Siti Salechah  adalah keturunan ulama Tarekat di Batu Hampar Bukittingi.

Ya itulah yang  menyisakan sebuah pertanyaan. Ada hubungan  apa bung Hatta dengan kajian filsafat Junani tersebut. Kalau dihubungkan dengan studi ekonominya di Belanda, bukan juga  satu jalur  keilmuan.Jika mau dikategorikan ilmu saling melengkapi antar  konsep idealisme  ekonomi dan Buku Alam pikiran Junani bisa saja. Atau amat mungkin.

Sebab ningga  kini buku lama tersebut bagaimanapun memang  tetap aktual isinya dalam menjelaskan perjalanan filsafat ilmu pengetahuan. Terutama mengenai idealisme kemanusiaan  klasik yang tuntas.

Karena  itu maka tidaklah mengherankan jika buku Alam Pikiran Junani menjadi Buku wajib bertfungsi mengantarkan  mereka yang menempuh pendidikan awal  di perguruan tinggi. Fungsinya adalah untuk memberi dasar fundamental perkembangan studi ilmu pengetahuan dan Filsafat

Objek atau dasar itu bisa dimulai dengan aliran Idealisme dalam filsafat. Seperti  yang dianut  Imanuel Kant sebagai  validitas epistomologis. Pikiran Hatta yang kita tangkap sengat kental dengan aliran filsafat idealisme itu. Inti aliran ini adalah  menentang konsep  filsafat materilisme.

Garis besar yang  terlihat  dari alur idealisme  bersifat serba cita, yang seiring selaras dengan spiritulisme  serba ruh, hadir dalam jiwa . Hakekat kenyataan yang beraneka ragam bersumber  dari ruh yang tidak sesuatu yang sejenis dengnnya tidak menempati ruang.

Aristhoteles (284-322 SM) yang memperkenalkan aliran idelisme menamakannya  sebagai serba cita dan selaras dengan keberadaan serba ruh atau spiritualisme.Dengan kata lain  hakikat materi adalah ruhani yang dikaitkan dengan

Pertama nilai ruh lebih tinggi dari fisik, Ruhlah  sebagai pengejawantahan  penjelmaan materi. Karena itu manusia  dengan ruhnya dapat  memhami dirinya  dari dunia luar.Disitu pula  energy berhimpun menempati ruang.

 Kedua, alam fiisik bukanlah sesuatu yang hakiki, meskipun satu objek nyata. Sebab bila objek hancur, objek nyata itupun hilang  atau lenyap, Sebaliknya yang hakiki dapat abadi dan tetap ada.Dapat kita mengibaratkan  keberadaan Bung Hatta sendiri dari sudut  pandang aliran  idealisme. Bunga  Hatta sendiri secara materil fisik sudah idak ada karena sudah wafat, Apa yang ada dari bung Hatta adalah idelismenya, cita citanya

Saya kira adalah benar  bahwa Bung Hatta akan ada selamanya, Yakni  ada ditengah kaum yang berpikir.Ada  ditengah negarawan  yang setia kepada kebenaran dan keadilan ekonomi.Idealisme kerakyataan

Saya juga  setuju dengan  abtraksi bung Hatta yang menghubungkan sosok yang setia kepada cita citanya. Ia konsisten dalam hidupnya. Meski harus  bertentangan dengan teman seperjuangan.

Faktanya ketika berbed a dengan  Sukarno dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia, dan  Bung Karno ingin meneruskan  ide demokrasi terpimpinnya, Bung Hatta menentang demokrasi terpimpin ala Sukarno yang tidak sesuai dengan cita cita demokrasi kerakyatan. Lalu ia  minta munddur dari Wakil Presiden 1 Desember 1956.

Tiga  hari sebelumnya yakni 27 November  1956 Bung Hatta mendapat gelar Doctor Honoris Causa  di Universitas Gadjah Mada  Jogykarta.Namun ia  tteap mandur dari Wakil Presiden, Yang dia janjikan sebelum  ia menerima  gelar Doctor  Kehormatan tersebut (Bung Hatta Pribadinya Dalam Kenangan,penyunting Meutia Farida Hatta,SH,1980)

Sejarah mencatat Bung Hatta tersingkir dari gelanggang politik kekuasaan.Hal itu didiringi dengan   penagkapan tokoh dan pemimpoin  yang lain. Seperti Syahrir, Syafrudin Perssiranegara, Moh Natsir , Prawoto Mangkusasmito dan Hamka. Di penjara tanpa proses pengadilan. 

Meski tak ditangkap, namun  bung Hatta hidup dalam suasana tidak nyaman.Karena kondisi politik kekuasaan pada era itu berada pada sistem yang otoriter.Sikap juang tanpa kendor itu dilakukannnya dengan melawan demokrasi terpimpin dicetuskan  Sukarno.

Bung Hatta menulis buku Demokrasi Kita. Yang isinya menolak konsepssi  yang melawan kedaulatan dan kerakyatan. Buku kecil yang tidak sampai seratus  halaman itu tersebar kemana mana.Tetapi Sukarno tidak juga menyadari kekeliruannya.

Agaknya, bung Hatta sadar idealisme bukannya hal yang  mudah dalam implementasinya.Namun harus diwujudkan  dalam kesesuaian ruang dan waktu. Ada  masa  atau era idelisme  terhalang perwujudannya.

Saya berpendapat  idealisme  harus digerakkkan,Ditumbuh kembangkan,Kapan dan dimansa saja.Idealisme itu diejawantahkan dalam dua bentuk

Pertama sebagi motor pengerak, menerobos serta meringsek.Mengibarkan,melaksanakan nilai idealesme itu.

Kedua, berfungsi sebagai pengendali, kontrol pada keadaan yang berlansung tak terkendali liar.

Dengan demikian berpikir filsafat sebagai ditunjukkan bung Hatta  adalah keperluan  intelektual kita kini.Dalam persefektif ini  kita berkayuh,  bekerja dengan panduan idealisme filsafat. Aliran idealisme yang penuh spiirit berisi ruh. Filsafat  yang menyeingkirkan materialisme. Karena materilisme bukan hakiki.

Kita jangan berhenti tangan berkayuh, menuju  hari esok.Hari esok  akhirat itu lebih baik hari ini (dunia).

Jakarta 24 November 2017

*) Penulis adalah Doktor Dosen  Pasca sarjana Unversitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)