Beranda » Opini » Opini: Egoisme Akar Kemelut Sejarah

Selasa, 27 Juli 2021 - 21:22:59 WIB
Opini: Egoisme Akar Kemelut Sejarah
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 98 kali
Egoisme Akar  Kemelut Sejarah
 
Oleh Masud HMN*)
 
Sejarah  sebagai dua sisi mata uang memunculkan pikiran pada   nilai,  kejujuran, objektif dan spirit. Sisi lain membawa  arus ambisius,  egoisme dan takhta. Ada  paradoks  antara nilai dan Egoisme .  Itulah yang  membawa  kemelut dan  anarkisme.
 
Fenomena  anarkis ini membawa  sejarah  itu menjadi  persoalan yang  kelam gelap,beketerusan. Karena sumber cahaya   nilai yang  menjadi acuannya adalah nilai anarkis, dengan turunan seperti egosime,  dengan  kekayaan,  kekuasaan yang  zalim. Merusak  kemanusiaan dan  lingkungan.
 
Komparasi Sejarah  ada dalam al Qur an  yang  menorehkan kisah  nabi Musa tentang iman, kebaikan, dan kemaslahatan. Nilai  yang dibawa oleh Nabi Musa itu memajukan peradaban, Namun  dilecehkan oleh Firaun dengan  berhala, taghutnya, kezaliman, dan sok kuasanya,  lalu  Firaun  hancur. 
 
Hal itu kemudian  memunculkan  kualitas  kemanusiaan menurun. Nyaris tanpa harga. Itulah  yang pada gilirannya  menimpa umat Islam. Realitas Islam demikian  digambarkan oleh suatu  hadis  Rasulullah saw, "Hampir-Hampir umah Hampi Hampir saja para umat ( kaum kafir)  mengerumuni kalian dari berbagai jurusan  seperti menghadapi hidangan makanan, Seorang  sahabat bertanya mengapa demikian keadaannya  ya Rasullulah ? Apakah karena jumlah umat  Islam itu sedikit.? Rasullullah saw menjawab tidak . Jumlah kamu besar. Akan tetapi kalian seperti khaghuusai sail (buih dilaut  ),  Allah  menghilangkan  rasa takut  dihati musuh kalian dan akan menimpakan dihati kalian penyakit wahn.Ada yang bertanya  apa itu Wahn, Rasulullah saw menjawab Cinta dunia dan takut mati (HR Abu Daud , h.4927 dan Ahmad 5 : 278).
 
Fenomena yang terjadi  yaitu satu masa umat islam kualitasnya  dan kemampuannya menurun, tak berdaya disimbulkan dengan pilihan kata kaghusa saail saiil  menjadi ibarat   buih dilaut.
Tetapi telah terkena  penyakit wahn. Sahabat bertanya  lagi apa  itu penyakit wahn ?  Rasullulah  menjawab  Hubbun dunnya wa kahharaytul maut penyakit  wahn adalah   terlalu mencintai dunia  dan takut pada kematian.
 
Kata buih dilaut  kaghuuail sail bermakna  kelihatan  besar, dan banyak, Namun  mengambang  tanpa daya, tanpa kekuatan  yang andal.  Ya buih  yang terombang ambing gelombang.
Hadis ini  memberi anjuran  kepada  umat Islam bagaimana menjadi  kuat tidak disepelekan oleh  kalangan  lain. Jumlah  yang besar tanpa diiringi kualitas sama dengan  buih  dilautan. Keberadaannya  sama dengan tidak adanya yang bisa diombang ambingkan,  karena tak bermakna.
 
Bagi para pemerhati sejarah,  dapat memahami dalam  teori tri logi sejarah   yaitu perumbuhan,  perkembangan dan kehancuran. Ini dijelaskan oleh peran keberadaan satu umat dengan kualitasnya. Satu umat  diawali dengan  pertumbuhan, kemudian berkembang lalu kemudian  jatuh.
 
Setiap episode dari  trilogy itu ada besaran nilai yang  dibawanya. Ketika  besaran nilainya  baik, maka akan terjadi pencerahan  dan pada  gilirannya  muncul  kejayaan Bila  sebaliknya,  maka   timbul keruntuhan, Jadi umat  tanpa kualitas  seperti  buih tersebut diatas   adalah masa  kehancuran.
 
Akhirnya  kehancuran  satu umat bersumber dari wahn  dengan dominannya  kandungan cinta dunia dan  takut  mati, Wahn itu membawa  anarkis pemikiran yang terbentuk   berupa egoism, lupa diri, cinta  harta. Nampaknya  anarkis dari Wahn ini masih terjadi hingga kini. Seperti  dikatakan Ibnu Qayyim al Jauziyah (1292-1350) intelektual  Islam abad 13 asal Syria  Timur tengah.
"Orang yang mencintai berlebihan pada dunia  siaplah  menerima  penderitaan. Karena  akan menemukan, tiga hal dalam hidupnya Yaitu kekalutan pikiran, kepayahan,  penyesalan tak berakhir.
 
Jakarta 27 Juli 2021
 
*) Dr Masud HMN adalah Dosen  Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta. Email  masud@Gmail.Com

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)