Beranda » Opini » Membangun Kepekaan Hati Nurani

Senin, 19 Juli 2021 - 23:54:10 WIB
Membangun Kepekaan Hati Nurani
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 115 kali
Membangun Kepekaan Hati Nurani
 
Oleh Masud HMN *)
 
Dalam rangka memperingati 112  tahun organisasi Muhammadiyah berdasar  hitungan  Hijriah yang didirikan  8 Zulhijjah 1330 , atau 18 Nopember  1912. Ketua Umum  Pimpinan Pusat Muhammadiyah  Prof Dr Haedar Nashir menyatakan dalam  sambutannya  agar  program Muhammadiyah dilanjutkan. “Tidak muluk muluk tapi sesuai dengan kenyataan” katanya di Yogyakarta 17 Juli 2021.
 
Sejatinya  memang ada beberapa  masalah besar  yang menjadi tantangan. Antara lain tantangan  kemiskinan, kebodohan dan kemanusiaan  serta  membangun kepekaan nurani. Kita mencoba Fokus  dengan  tema  yang  terakhir yakni tentang  membangun  kepekaaan  hati nurani.
 
Prof  Dr  Abdul Mukti MA, Sekretaris Umum Pp Muhammadiyah, 19 Juli 2021  menulis di harian Republika. Tulisan dari seorang  figure dengan posisi Sekretaris  Pimpinan Pusat Muhammadiyah  itu sesuai dengan  pesan  Haedar Nashir,  dan  dalam posisi momentum  yang tepat .  Tulisan sepanjang  seribu kata  itu  diberi judul  Kematian  Hati Nurani. Diurai dalam Bahasa yang renyah jernih mudah dipahami.
 
Ia  menilai  soal  sens of crisis yakni makna kematian  hati nurani    di Indonesia  kini telah terjadi. Orang berani korupsi bantuan sosial, dan lain lain Pokoknya  suara hati, keyakinan iman, diabaikan. Pikiran  dalam tulisan menggambarkan kerisauan penulisnya yang tak dapat disembunyikan .
 
Ini  agaknya penting, apatah lagi karena  momentum Idhul Adha sebagai hari raya Qurban, dengan kebaikan dan  ikhlas  unsur utamanya. Orang ingin saling memberi  untuk orang lain dengan  wujud meyembelih dan  membagi daging  kurban.
 
Terhadap  Muhammadiyah ada  kaitan yang  erat. Peristiwa  memasuki  usia  112 tahun berdasakan kalender  hijriyah  didirikan  8 Zulhijjah 1330  yaitu relevansinya bagaimana  peran organisasi yang didirikan oleh K. H. Ahmad Dahlan kemasa depan.
 
Patut kita garis bawahi  yaitu soal  keikhlasan kurban untuk sesama dimaknakan  sebagai peduli atau sens  of crisis. Sementara  peran Muhammadiyah  kedepan kita  maknakan  sebagai  Membangun Kepekaan Hati Nurani.
 
Hal itu seperti   difirmankan  Allah dalam  al Quran surah ali Imran  ayat  185 berbunyi sebagai berikut: "Setiap yang bernyawa akan mati Pada hari kiamat disempurnakan pahalamu, Barang siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan kedalam surga merekalah orang yang beruntung. Kehidupan dunia  tidak lain hanyalah  kesenangan yang  memperdayakan.
 
Manusia  harus  pro aktif mencari jalan terbaik dalam mengisi atau membangun diri sebaik baiknya. Menjauhkan diri dari kesenangan  yang hanya tipu tipu muslihat  keduniaan.
 
Fenomena  itu disebut  Allama Muhammad  Iqbal  pemikir dari Pakistan awal abad 20 sebagai  hanya  sibuk untuk mengemukakan badan. Lupa  pada  membangun nurani. Suatu kehidupan yang merugi.
 
Dalam pikiran  Allama  Muhammad Iqbal semestinya manusia  menuju  kepada  manusia yang  Insan kamil. Manusia yang sempurna. Yaitu Petaka Tuhan dibumi. Bagi penyair  Pakistan yang  legendaris  itu menyayangkan manusia adalah orang orang  yang lupa diri.
 
“Mereka  yang hidup hanya sampai  keliang lahad,  Aku Tidak, Aku ingin hidup sampai kepada Tuhanku,” katanya dalam salah  satu puisinya.
 
Tulisan  Abdul Mukti bisa  kita  renungkan dalam  perspketif Iqbal  dalam makna  manusia  lupa dan kematian hati nurani. Itulah  fenomena Indonesia  kini, Orang tiada  segan berbohong, korupsi dan perbuatan bejad lainnya. Mencampur adukkan  yang  halal dan yang  haram. Mereka  terpengaruh oleh argumen mereka sendiri, Mencari yang haram  saja susah, apalagi  mendapatkan yang halal.
 
Diatas semua itu, kita mengajukan pesan moral  untuk membangun  kepekaan hati nurani. Maknanya  adalah menghidupkan kepedulian hati, menjauhkan  dari  perbuatan tercela, Berlindung  dari tipu daya  dunia.
 
Masalah  besar  adalah membangun kembali  kepekaan hati nurani diatas  terjadinya  kematian hati nurani. Tanpa itu Indonesia menjadi bangsa tidak  ada  apa apa nya Tengelam  dalam lipatan masa  lalu.
 
Jakarta  19 Juli 2021
 
*) Masud HMN adalah Dosen Pascsarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta,   email : masud.riau@gmail.Com

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)