Beranda » Opini » Opini::Sekali Lagi Soal Radikalisme

Jumat, 19 Februari 2021 - 10:25:51 WIB
Opini::Sekali Lagi Soal Radikalisme
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 262 kali
Sekali lagi, Tentang Radikalisme
 
Oleh DR Masud HMN*)
 
Pada bulan belakangan  ini isu radikalisme  kian  menjadi jadi  jadi diblantika  perpolitikan di tanah air kita. Month of radicalism issue. Seharusnya menjadi  edukasi akademik sebagai pembelajaran penting, dan menarik Mengapa demikian, dan  gerangan apa dibalik  ini semua. Apakah terkait pemilihan  presiden tahun  2024? Atau ,meng goyang  kedudukan Presiden Joko Widodo karena  dianggap tak mampu mengurus negara di bawah  ekonomi krisis  karena ditimpa krisis pandhemi  Covid 19 ?
 
Kalau itu jadi  alasannya, waktu masih  tiga tahun lagi, Masih jauh. Lagi pula  posisi Presiden  Joko Widodo kini masih kuat. Atau pemerintah hendak  memukul kaum oposisi, dengan  menstigmkan para  pengeriti. sebagai radikal ? Kita tidak tahu. Radikal tetap saja  radikal. Hanya perspektif atau setting kedepannya  yang selalu berubah.
 
Alam terkembang dan sejarah , jadi  guru sejati
Jonathan Holliway seorang ahli sejarah Amerika, menyatakan  unsur penting sejarah  adalah iluminasi manusia. Kata dia lagi hitam putih  pijakan dasar nya.Ia di produksi penerangan cahaya  kejujuran atas kewajiban terhadap Negara.( New York Times, 10/2/2021).
 
Point dari Jonathan Holliway, hendaknya kita jangan  lupa  belajar dari alam terkembang serta  sejarah umat manusia, Namun harus diingat sejarah  itu terpengaruh oleh iluminasi atau abtraksi tertentu .Pernyataan  penulis  Opini di  harian The New York Time tersebut mungkin benar. Seyogyanya menjadi factor  pembelajaran. Sehingga  kita memperoleh pembelajaran  yang  valid atu sah  dan value added alias  nilai tambah.
 
Penulis, diawal tahu delapan puluhan pernah  bertemu dengan  scholar  klas atas  Indonesia  di awal kemerdekaan yaitu Prof. Dr. M. Rasyidi alm.  Beliau memberi tahu saya tentang radikalisme dan  fundamentalisme. Dalam  kapasitas saya sebagai seorang wartawan Majalah Kiblat pada waktu itu.  Beliau mengatakan  issue  fundamentalis dan radikalisme telah  berubah setting dasarnya.
Kata  beliau istilah fundamentalisme dan radikalisme itu muncul  belakangan. Pada awalnnya istilah itu  dari seminari Katholik awal abad 20. Radikalisme dan fundamentalisme  pencirian pemahaman  umat  kristiani yang mendalam dan  serius yang diejawantahkan dengan  sungguh sunguh pula. Artinya  adalah  wujud  kaum kristiani yang baik.Tetapi  jelas beliau lagi, fundamentalis dan radikalisme berubah makna menjadi sikap kekerasan, keganasan dan intoleransi agama. Yang tidak disangka sangka malah ditujukan pada umat Islam. Bukan  terhadap kaum kristiani, Demikian penjelasan Prof Dr Rasyidi.
 
Penulis kini masih terngiang ngiang dengan ucapan  pak Rasyidi tokoh  yang  sangat kita hormati. Bila saat ini dikonfrontir dengan stigma  pemahaman hari ini amat  jauh berbeda. Fundamentalisme dan radikalisme  baik, menjadi makna yang buruk,. Semula Islam tidak meproduk istilah itu, kini dituduhkan umat Islam sebagai  fundamentalis dan radikalis.
 
Akhirnya pendapat Jonathan Holliway senada dengan  ucapan pak Rasyidi, yang menganggap  illuminasi manusia tehadap masa zamannya. Yang di topang oleh pemahaman  akdemiknya  dari alam psikologisnya. Mungkin tak salah kita mengatakan terjadi kekeliruan  besar abad ini. Dasarnya  karena  kita salah  menangkap makna  pemberlajaran  alam terkembang, dan  pemahaman sejarah   yang sesungguhnya. Wallahu a' alam bissawab.
 
Jakarta 14 Februari 2021
 
*) Penulis Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta,

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)