Beranda » Teknologi » Opini: Margonda Sang Pejuang Depok Diabadikan Menjadi Nama Jalan

Selasa, 09 Februari 2021 - 07:46:16 WIB
Opini: Margonda Sang Pejuang Depok Diabadikan Menjadi Nama Jalan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Teknologi - Dibaca: 50 kali

Pejuang dari Depok Diabadikan Jadi Jalan Margonda

Oleh: Zohiri Kodir, S.H*)

Sejarah itu penting untuk diingat, dipelajari dan dikaji. Apa gunanya, biar kita gak gagal paham. Terlebih khusus untuk generasi muda saat ini.

Bagi yang tinggal di kota Depok harus tahu lho. Abang kita yang satu ini jelas sosok yang pintar sekali. Tahun 1940-an, saat orang-orang masih jarang sekolah (namanya juga jaman perang gerilya, siapa sih yang sempat sekolah). Abang kita ini justru punya catatan akademik yang brilian pada waktu itu.

Dia belajar analis kimia di Analysten Cursus Bogor,  Indonesiche Chemische Vereniging (sekarang SMAKBO), juga mengikuti latihan penerbang cadangan di  Luchtvaart Afdeeling milik Belanda. Keren kan?

Masih muda, sudah jago kimia, plus jadi seorang penerbang pula. Hebat bukan?

Abang kita ini sudah macam agen rahasia Jason Bourne atau James Bond saja. Tapi yang jelas, Abang kita ini bukan tokoh fiksi. Dia salah seorang anak muda cerdas yang walaupun kalian tidak ingat lagi, pernah berperang melawan penjajah, hidup atau mati. Dia anak muda heroik.

Namanya memang kalah kesohor ( pouler) dengan pahlawan lain yang kerap ditulis dan disebut didalam buku sejarah. Tetapi sumbangsihnya bagi kemerdekaan Indonesia tidak kalah besar.

Baik, sebelum kisah ini lebih lanjut, ijinkan saya akan melompat sebentar membahas tentang kota Depok. 

Tahukah anda dimana Depok? Daerah ini berada di selatannya Jakarta bukan? Depok adalah tempat kampus UI berada. Dulu, Depok itu adalah kawasan otonomi merdeka. 

Di jaman penjajahan Belanda, Depok itu negara dalam negara. Ada tuan tanah Belanda di sana namanya  Cornelis Chastelein (1657-1714). Seluruh Depok dimiliki oleh Cornelis. Tanah-tanah itu diurus oleh budak-budaknya. 

Saat Chastelein meninggal, lewat kesepakatan dengan penguasa Belanda saat itu di Batavia, Depok menyatakan diri merdeka ( jadi wilayah otonom Belanda, dan punya Presiden sendiri), disebut Het Gemeente Bestuur Van Het Particuliere Land Depok. 

Tahun 1945 saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, Depok tidak mau bergabung ke Indonesia. Mereka juga tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia.

Urusan jadi repot ini, bagaimana mungkin bisa ada wilayah yang berbatasan dengan Jakarta justru tidak mau bergabung ke Indonesia. Duri dalam daging? Maka, rakyat Indonesia, pemuda-pemuda pejuang, gagah berani menyerbu Depok. Peristiwa itu dikenal dengan istilah “Gedoran Depok”, 11 Oktober 1945. Pada waktu itu Depok berhasil dikuasai oleh pejuang kemerdekaan Indonesia dan bendara merah putih dikibarkan di sana. 

Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena Pasukan NICA (Belanda, yg membonceng pasukan Sekutu) datang menyerang Depok, dan berusaha menguasai kembali sepotong tanah tersebut. NICA menang, pejuang Indonesia akhirnya dipukul mundur. 

Spesial sekali memang Depok ini, sampai sampai NICA harus memprioritaskan Depik, karena nampaknya Tuan Tanah Chastelein dulu memang punya koneksi tingkat tinggi dengan Kerajaan Belanda.

Pejuang kemerdekaan Indonesia tidak begitu saja menerima kekalahan itu. Mereka kembali mengkonsolidasi kekuatan. Nah, kita kembali ke cerita awal abang kita tadi. Abang yang satu ini adalah salah-satu pemimpin penyerbuan tersebut. 

Mereka menyepakati, 16 November 1945, akan menyerang Depok, mengusir tentara NICA. Sandi perangnya adalah “Serangan Kilat”. Itu adalah perang hidup mati.

Pada 16 November 1945, bergeraklah ratusan pemuda menyerbu Depok. Perangpun meletus di seluruh Depok.

Harganya mahal sekali, banyak pemuda yang gugur saat pertempuran itu, termasuk salah-satunya abang kita ini. Dia tewas di daerah Pancoran Mas, Depok. 

Anak muda yang pintar analis kimia, sempat kursus penerbang, telah gugur menunaikan tugasnya.

Siapa nama anak muda itu? Seluruh orang Depok pasti tahu!  Karena mereka pasti pernah melewati jalan yang hingga hari ini diabadikan dari namanya. Dialah *MARGONDA*. Abang kita ini bernama Margonda.

Juga turut gugur dalam rangkaian peristiwa itu adalah letda Tole Iskandar dan Mochtar Sawangan. 

Nama-nama itu juga diabadikan menjadi nama jalan di Depok.

Ketahuilah, negeri kita ini punya catatan sejarah yang kaya sekali. Saat anak muda benar-benar berperang HIDUP MATI melawan penjajah. 

Kenanglah perjuangan mereka, bacalah sejarah tentang mereka.
Belajar Sejarah dulu untuk mengasah semangat pengorbanan. Apalagi bagi kita yang sering lewat di Jalan Margonda Depok,  tapi karena kurang membaca sejarah maka sejarah Depok dan Margonda tertinggal. 
Kita sengaja menuliskan soal sejarah, untuk mencerahkan kehidupan. Bila perlu bagi kita yang punya minat serta peduli dengan sejarah perjuangan bangsa, kita agendakan ungkapan soal2 yang terkait dengan sejarah dalam bentuk diskusi yg menarik secara berkala cukup dihadiri Lima sampe 10 orang sambil ngopi. Sehingga kita tahu ternyata Belanda-lah sang pencetus nama Depok. Bahkan lewat diskusi itu pula kita mengetahui ternyata kampus UI pindah ke Depok pada tahun 1987. Waktu itu Jalan Margonda Raya masih rusak hancur kayak kubangan. Dulu Depok itu awalnya adalah hanya Kecamatan lalu  naik menjadi Kota Administratif. Kini Depok salah satu kota padat dan maju sebagai penyanggah ibukota Jakarta.

Menarik, sejarah Depok kita kaji, sehingga secara ilmiah dan sejarah bisa menjadi referensi buat generasi yang akan datang. InshaAllah setelah Depok, nanti kita Bisa mendalami asal muasal ibu kota Jakarta. Pengetahuan ini juga bisa kita kaji untuk derah daerah lain seluruh Nusantara. Apalagi kalau  kita jadikan agenda diskusi tetap berkala, kita tunggu tanggal mainnya.

Yang perlu diperhatikan kenapa Belanda selalu mencari daerah  yang memiliki udara dingin. Karena Belanda tidak tahan di udara panas. Misalnya, Batavia panas seperti halnya Bandung pada 1864, Belanda mencari daerah yang lebih dingin yaitu di Lembang. 

Jakarta, 4 Pebruari 2021

*) Penulis: Zohiri Kodir, S.H., Bagian Hukum dan Advokasi DPP Ikatan Jurnalis Muslim Indonesia ( IJMI ).

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)