Beranda » Opini » Membaca Kembali Posisi Pers Islam di Era. Digital

Rabu, 27 Januari 2021 - 01:54:05 WIB
Membaca Kembali Posisi Pers Islam di Era. Digital
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 46 kali

Jurnalisme Islam antara Eksistensi dan Era Distrupsi

Oleh: M. Harun*)

Perdebatan dan opini tentang eksistensi pers Islam atau media massa Islam terus berlamgsung hingga saat ini. Apalagi dengan berkembangnya dunia medsos, maka media Islam kian dipertanyakan eksistensinya. Kian maju era medsos dan distrupsi informasi, keberadaan pers Islam kian tertantang untuk menampakkan jati dirinya di tengah persaingan global saat sekarang dan akan datang.

Wajah pers Islam atau media massa online yang dikelola oleh produsen muslim saat ini tentu jauh berbeda dengan era media massa yang berbasis cetak . Media cetak tetap ada segmen pasarnya sendiri.

Keberadaan media/ pers Islam kini sudah saatnya perlu diredifinisi ulang sesuai dengan perkembangan zaman. Karena konten media/pers Islam sekarang sudah sangat beragam dan bervariasi. Sehingga menengok pers/ media Islam sangat penting sebagai komperasi dengan media meanstream. Pemetaan ini akan mengedukasi publik khususnya kaum muslimin, pesan apa saja yang sudah tercover di media2 Islam, begitu juga pesan2 apa saja yang ada di media umum. Pemetaan pembaca terkait konten pers sangatlah berguna untuk menentukan segmentasi pembaca.

Dari sinilah kekuatan pers Islam bisa diketshui, yakni kekuatan manajemen pengeloaanya, kekuatan marketnya juga institusi dan visi kedepannya.

Sebab, konten konten di media Islam tersebut,  terkadang harus menyelaraskan dengan kehendak pemilik dan institusi yang menaunginya, komunitas muslim sangat berpengaruh terhadap isi atau cover board yang ditampilkan.

Namun dalam tulisan ini, penulis ingin membahas perihal jurnalisme Islam menghadapi era distrupsi teknologi informasi. 

Publik harus diingatkan atau perlu sentuhan eduksi agar refrensi bacaan atau literasi kita sebagai muslim  bukan cuma media media umum ( meastream ) saja yang lazim kita baca. Seperti kompas, detik, okezon, sindonews.com, liputan6. com, kumparan dll. 

Menengok Pers Islam Dalam Lintasan Sejarah

Tapi marilah kita ikuti bagaimana konten media Islam yang seharusnya kita jadikan referensi jika ingin  berita ( isu ), yang khusus terkait dengan soal-soal Islam kita baca. Kalau kita menengok sejenak, sejarah mencatat bahwa keberadaan pers Islam yang rata rata media cetak waktu itu cukup menggembirakan. Dikutip dari Majalah Al- Muslimun, Nopember 1989,  perkembangan pers Islam bermunculan dalam rangka mengedukasi umat seperti: Majalah Al-Munir terbit di Padang ( 1 April 1911) diasuh oleh tiga Ulama: Abdullah Ahmad, Jamil Jambek, dan Abdul Karim Amrullah (Hamka). Empat tahun kemudian Zainuddin Debai El Yunusi di Padang Panjang menerbitkan Munirul Manar. Di Samarinda muncul Majalah Pengharapan (1914) Di Surabaya ada Al- Djihad dan al- Islam (1916) diterbitkan Syarekat Islam. Juga Di Solo, Semarang, Bandung, Jakarta dan Medan pers Islam masa masa itu tumbuh semarak. Bahkan di Medan terbentuk wadah wartawan Islam bernama Wartawan Muslim Indonesia ( WMI ) dipimpin Zainal Abidin Ahmad. Wadah ini terbentuk sebelum ada Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI ) yang dibentuk di Solo, yang kemudian dinyatakan sebagaibsatu satunya wadah wartawan Indonesia yang sah.

Kemudian muncul surat kabar harian Duta Masyarakat sebagai koran NU. Panji Masyarakat sebagai Majalah Muhammadiyah. Seperti dikutip dari Majalah Al Muslimin juga di Jakarta muncul pers pers Islam seperti: Risalah Islamiyah, Harmonis, Kibkat, Wahyu, Suara Masjid, Amanah dan Majalah Suara Muhammadiyah. Dari Solo ada harian Adil. Di Surabaya ada Majalah Semesta dan Bangil Majalah Al Muslimun. Menurut analisis Al Muslimun, bahwa hambatan dan kendala dari penerbitan pers Islam antara lain; faktor modal ( dana ), sumberdaya manusia ( tenaga jurnalistik yang terampil) dan kelemahan dibidang manajemen pers.

Mencermati kondisi pers Islam era sekarang, sepertinya belum ada data yang valid berapa jumlah pers Islam ( media cetak ) yang ada. Namun perkembangan media Islam berbasis 
online ( digital ) cukup pesat dan layak kita baca seperti: hidayatullah.com, eramuslim.com, kiblat.net, SuaraIslam.com, suaramuhammadiyah.com,  Moslemtoday.com,.Portal-islam.id, mediaumat.news, Republika.id, Islamtoday.id, Hajinews.id,
Kontenislam.com, dan lain lain. 

Pertempuran Belum Selesai

Menurut data Dewan Pers, perkembangan media online melonjak drastis dari tahun ke tahun, entah angka pastinya, tapi yang jelas media cetak jumlahnya menurun. Nah, artinya para pegiat pers sekarang telah bermigrasi besar besaran ke media yang berbasiskan digital. Coba kita cermati, media digital yang menyertai pers meanstream sulit dipisahkan dengan perangkat android. Media online dengan meluncurkan website kini harus dilengkapi dengan facebook, tweeter dan instagram. Agar tak tertinggal berita berita disimpan dan disiarkan lewat youtube. 

Digital atau digitalisasi sejatinya adalah perangkat guna mempermudah akses informasi dan komunikasi. Sedangkan sajian berita atau pesan pesan, tetap berada dibawah kendali para jurnalis. 

Oleh sebab itu, era distrupsi bagi para jurnalis termasuk jurnalis muslim, tidak bisa dihindari. Kita tak bisa membayangkan, apa yang terjadi 10 atau 20 tahun kedepan, kondisi kemajuan teknologi digital amat berpengaruh dan menentukan bagi.profesi jurnalis.

Menyikapi kondisi riil di depan mata ini, jurnalis muslim dan jurnalisme Islam harus bangkit memperkuat posisi yakni dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membangun karakter sebagai jurnalis muslim yang profesional dan terus mengasah kemampuan. Tanpa ikhtiar ini lakukan secara konsisten. Maka kita akan tetap stagnan ditengah perubahan zaman, padahal saat ini kita berada ditengah pertempuran yang belum selesai yaitu: pertempuran distrupsi. Kita harus tangguh, menghadapi lompatan kondisi ini. Jika tidak, kita hanya mampu menjadi pemain pinggiran. Semoga Tidak!!!. 

*) Penulis, M. Harun, Ketua Umum Ikatan Jurnalis Muslim Indonesia ( IJMI ),
 
Foto: Penulis no.2 dari kiri berpeci hitam bersama Diki Lukman M.hum dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Propinsi DKI, Amrul Bendum DPP IJMI dan M. Gana Mahendra, Waketum DPP IJMI

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)