Beranda » Opini » Manajemen Pluralisme Perlukah?

Minggu, 08 November 2020 - 05:45:29 WIB
Manajemen Pluralisme Perlukah?
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 48 kali

Perlukah Manejemen Pluralisme ? 
 
Oleh DR. Mas'ud HMN*)

Akhir-akhir ini masalah konflik laut Cina Selatan kian meningkat menimbulkan masalah bagi kawasan   ASEAN. Kekompakan diperlukan. Satu kebersamaan dengan spirit baru  ASEAN. Karena masyarakat Asia perlu nilai kebersamaan sosiologis. Perlukah Manajemen Pluralisme ?
 
Topik ini dimaksud ingin menegaskan lagi dimensi tersebut dalam kebersamaan. Utamanya  membentuk kekuatan energi baru, sinergisitas kebersamaan.
 
Menghubungkaan konsep Sosiologi Islam untuk memahami adanya kabilah (kelompok) dalam satu kaum atau bangsa unsur utamanya memang tidak untuk pertikaian, tetapi untuk hidup bersama. Itulah masyarakat bangsa yang berkemajuan. Hanya bagaimana kemudian mewujudkan perbedaan dalam kelompok   dalam kebersaamaan. 
 
Bagi bangsa Indonesia sebagai mayoritas  Islam  di tahun politik kini mungkin diperlukan  tata kelola yang  berkepastian, yakni kebersamaan masyarakat bangsa dengan Manajemen berbasis pluralisme, yaitu  Manajemen Diversity.   Dalam hal ini, menarik ungkapan pendapat Abdel Munim Said yang mengatakan bahwa   timur Tengah  memerlukan manajemen diversity, yang bisa merajut perbedaan antar kaum antar etnis, agama dan ras yang pada kenyataan mereka sudah bersama dalam masa panjang. Tapi kini mereka terbelah bertikai dan berbunuhan.
 
Lebih jauh dengan opini  Munim Said, ia mengatakan diperlukan  upaya untuk menemukan  cara penyelesaian. Bila tidak akan membawa akibat berlarut-larut. Masa depan yang kelam. Kehancuran.
 
Munim sendiri nampaknya sangat khawatir memandang keharusan mencari jalan baru. Seperti ditulisnya dalam terbitan Al ahram  edisi 30/4/2017 dibawah judul Diversity Management in Arab World, Munim Said mengusulkan satu gagasan  manajemen diversity. Kata dia, karena  kita sadar bahwa teori lama semisal Nasionalisme, Sosialisme, dan Demokrasi tak selalu sukses penerapannya.
Pada artikel sepanjang 1.200 kata, Abdel Munim Said mengungkapkan bahwa sudah tentu banyak faktor menjadikan sesuatu dapat sukses atau gagal. Ini bisa dibentangkan  dalam banyak contoh lain. Yang pada intinya juga  ada problema sama.
Pada pemahaman Munim Said, alasan itulah  Dunia Arab  menjadi problematik dan kacau. Terbenam dalam situasi kegagalan, Hiruk pikuk.
 
Di pihak  lain,  ada terdapat  peluang untuk  mengadakan perubahan. Pendekatan yang baru, yang disebutnya innovative theory management Diversity.
 
Sebagai seorang intelektual Timur Tengah, tempat dia dilahirkan dan dibesarkan gagasan Munim Said  menjadi menarik. Sebab  banyak teori lama gagal menyelesaikan masalah yang terjadi.
Akibat kegagalan  itu inilah yang  dialami sekarang. Konflik berkepanjangan, yang paling akhir Syria dan Iraq.
Penulis  dapat memahami  kegelisahan Muniem Said. Terutama dalam mempelajari dan mengerti lingkungan historis bangsa  dan dunia Arab. 
 
Ambillah misal, penerapan  teori nasionalime Arab, Teori ini amat populer masa enam puluhan di bawah pimpinan Gamal Abdel Naser dari Mesir. Konsep dasarnya  bertumpu pada mazhab mayoritas, relegious region. Bangsa Arab, Islam sebagai pandangan hidup dan sosialisme.
 
Nasionalisme dan Sosialisme Arab memang menjadi simpul strategis. Simpul  yang berkelindan yakni  bangsa Arab (nasionalisme majority), Islam sebagai ideologi dan sosialisme  sebagai pandangan kemasyarakatan modern. Inilah kemudian yang populer dengan sebutan nasionalisme Arab.
 
Lagi pula konsep nasionalisme Arab, cukup lama juga berkibar di altar perpolitikan  Timur Tengah dan  dunia  Arab khususnya. Setidaknya  era  enam puluhan hingga tujuhpuluhan. Tapi kemudian meredup kehilangan agregatnya, mulai perang  Arab Israel  yang tidak dimenangkan oleh Dunia Arab. 
 
Ini menjadi persoalan serius. Ditambah lagi perpecahan antar pemimpin negara Arab sendiri yang mengakibatkan nasionalisme Arab tidak juga berakhir sukses. Gagasan ini mulai sepi dan tidak fungsional dalam perpolitikan dunia Arab.
 
Ada dua sebabnya. Pertama pertikaian dalam menghadapi Israel satu hal. Kedua, dominannya campur tangan pihak Eropa di dunia Arab. Keduanya jadi faktor penting dalam kelanjutan efektif tidaknya  nasionalisme Arab.
 
Bagaimana dengan sosialisme? Sebenarnya gagasan sosialisme  asal muasal dari munculnya sosialisme adalah berlandaskan konsep kelas dalam masyarakat. Pada masa  belakangan di dunia Arab mengadopsi pikiran ini dengan konsep keadilan.  
 
Ini kemudian pada akhir  tujuhpuluhan  inti konsep sosialisme dalam bentuk baru  disinergikan  dengan konsep nasionalisme (1960). Sebagai misal, nampak dengan amat getol pro aktif dilakukan oleh mantan Presiden Saddam Hussein. Meskipun ia termasuk orang kuat dunia Arab,  namun akhirnya dia jatuh dihukum mati.
 
Kesimpulannya  tidak sukses juga.
Gagasan setelah nasionalisme dan sosialime mengalami kegagalan, muncullah  gagasan ketiga yaitu demokrasi. Dunia Arab mulai mengangkat demokrasi sebagai gagasan. Menjadi aktual pada era  90an. Mulai di Mesir, Tunisia, Aljazair, dan seterusnya.
Demokrasi di negeri asalnya di Amerika dan Eropa merupakan turunan dari liberalisme. Individual. Kebebasan menjadi sarana utama dari gerakan demokrasi.
 
Dalam perjalananya demokrasi tidak lancar di dunia Arab. Sebutlah misal Tunisia, Mesir, Aljazair. Disana mengalami kegagalan. Meskipun gagasan itu tidak ditinggalkan.
Mesir sebagai negara modern  Timur Tengah adalah contoh kegagalan demokrasi  yang kasat mata. Setelah pemilihan umum, terpilih Presiden secara demokratis, lalu serta merta ada pihak tentara  yang tidak puas  melakukan kudeta oleh Militer. Mencopot Presiden yang terpilih. Demokrasi cacat, karena telah  kehilangan fungsi dan hakikatnya.
 
Mengakhiri tulisan ini, penulis sependapat dengan kegalauan konsep Timur Tengah atau Dunia Arab  adalah bagian dari keggalan menajemen diversity. Satu kerumitan dan masalah esensial peradaban  Arab Modern menerapkan bingkai keislaman. 
Dalam pandangan saya, kita harus punya Tata kelola  manajemen masyarakat yang berbasis  perbedaan. Ajaran Islam yang mengharuskan ukhuwah  kebersamaan, mencintai, pemaaf terkikis oleh egoisme. Merasa benar dan mau menang sendiri. Bagi kita perlu kepastian silaturahmi dalam perbedaan, yang identik  dengan manajemen diversity inovatif. Semoga.
 
Jakarta, 2  November 2020
 
*)Dr Mas ud HMN adalah Dosen Pascasarjana Universitas  Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)