Beranda » Pendidikan » Mimpi Dalam Perspektif Akal Waras

Selasa, 23 Juni 2020 - 12:45:04 WIB
Mimpi Dalam Perspektif Akal Waras
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Pendidikan - Dibaca: 88 kali

Oleh Masud HMN*)

Jika Obsesi Indonesia dengan pendapatan income perkapita tahun 2030 tigapuluh ribu US dollar dalam artian adil makmur gemah ripah loh jinawi seperti disampaikan Presiden JokoWidodo saat pelantikan Presiden periode kedua yang  lalu, adalah mimpi dalam keniscayaan. Bukan mustahil. Tinggal bagaimana melaksanakan mimpi dalam perfektif akal waras tersebut. Memang bukan soal mudah.

Tidak bias dibantah bahwa merancang realisasi impian pada masa sulit tidak menentu, seperti era covid 19 ini di Indonesia kini mungkin betul sebagai impian sulit Samahalnya dengan cerita fiksi klasik burung Pungguk Rindukan bulan, Ingin menyentuh saja sayap tak sampai.Tapi manusia waras pun masih saja bermimpi. Ya sudah mau bagaimana lagi.

Meski begitu ada baiknya kita merenung sejenak tentang tapak inelektual tentang mimpi. Kita coba mengutip pendapat dalam kaitan mimpi yang bermakna atau punya level berpikir epistomologis. Mimpi yang benar dan filosofis jika bermetode.

Dalam colom opini harian Amerika New York Times menurunkan artikel dengan judul What DreamWe Made opini dari Max Strasse bertarikh 14 Juni 2020, Artikel sepanjang kuranglebih 800 kata diurai dalam Bahasa Inggris yang simple alias mudah difahami. Juga kontens  topic yang diangkat relevant dengan Indonesia sebagai bangsa. Sebab jangan sampai mimpi merupakan penyedap tidur, mimpi di siang bolong, atau mimpi tetap mimpi khayali tanpa makna apapun.

Diawali dengan mengutip seorang eksekutif muda dari sebuah seminar  Kuala Lumpur Malaysia bernama Rendra Menurut Rendra essence of Dream  is funny yaitu sama seperti kejenakaan meski member pencerahan namun absurd atau aneh dan mustahil Agaknya ia terpengaruh bermunculan mimpi banyak  orang masa kini  yang mirip jalan tak berujung. Karena itu dating dengan ungkapan apa sesungguhnya essence  mimpi tersebut.                                                                                                                                                                              

Artikel Max Strasses mengembangkan diskursus  topic itu dengan melibatkan opini dua orang lain. Mungkin juga ini untuk melengkapi pokok perkara seputar bagaimana mimpi digagaskan Rendra.

Dia adalah Dell Acqua.Dia berpendapat sederhana dengan menamakan impian adalah faham kuno yang  menarik untuk dipikirkan. Demikian  DellAcqua.

Berikutnya pandangan LissaClaisse. Sejalan dengan pendapat Lissa mengutip ajaran Kuno Cina  yang menyamakan mimpi itu bentuk  yang  akan terjadi entah kapan, Ini berbasis pada unsure waktu dan kenicayaan. Pasti tapi tidak dalam koridor prediksi jelas.

Pokok perkara tentang  topic  How  dream made, atau bagaimana mimpi digagas seperti pembentangan diatas kita dapat menarikkesimpulan bahwa mimpi adalah sebuah keperluan manusia yang berakal waras, agar mimpi tidak hanya tinggal mimpi belaka,

Setidaknya ada dua hal yaitu dream made Dan  berikutnyaa dalah dream implication. Dengan mimpi berakal waras dan aksi upaya  yang sungguh sungguhlah mimpi benar dan berguna. Mimpi bangsa Indonesia dengan berkemakmuran dengan pendapatan income percapita tiga puluh ribu dollar US seperti yang dicanangkan Presiden JokoWidodo tahun 2030 adalah suatu keniscayaan. Wallahuaklambissawaab.

Jakarta 18 Juni 2020

*) Mas ud HMN adalah Doktor Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

 

 


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)