Beranda » Opini » Djamilah Bouherid Wanita Hebat dari Ajazair

Kamis, 23 April 2020 - 16:28:44 WIB
Djamilah Bouherid Wanita Hebat dari Ajazair
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 66 kali

Djamila Bouherid Wanita Hebat  Aljazair

Oleh Mas ud HMN

Judul diatas  adalah dalam rangka peringatan Hari  Kartini  21 April yang  lalu, Agaknya berguna sebagai  perbandingan. Aljazair  punya Djamila Bouherid  kini  berusia  85 tahun. Kita Indonesia punya pahlawan nasional bernama Cut Nyadin  wafat 1908  sebagai tahanan Belanda di kuburkan di Sumedang Jawa Barat.

 

Sama sama wanita hebat dilahirkan sejarah,Menghubungkan Cut Nyadin Mujahidah Aceh,  dengan Djamila Bouherid   wanita pejuang kemerdekaan dan  hak hak wanita Timur Tengah hebat dari Aljazair dari Afrika ada titik temu yang relevant yaitu kesamaan peran .

Meski sosio masyarakat yang tidak sama mengingat Aljazair  Afrika dan Aceh Indonesia berbeda.Tetapi ada  factor esensial yang significan antara kedua wanita  mujahidah itu yaitu  spirit Islam.

 

Memang, Spirit Islam bagi semua manusia  sama dimuka bumi, maka  tidak boleh  ada penjajahan, ajaran  ini universal dimuka bumi, Spirit itu  Guidance Star, bintang  kompas pengarah yang dapat di tangkap oleh intelektual  dan  jiwa  siapa jua,di Aceh dan Aljazair Afrika, Guidnce star mengispirasi orang yang berpikir.

 

Kemudian, manusia  adalah makhluk  yang berpikir yang merupakan azazi yang melekat. Orang Aljazair dan orang Aceh tidak mesti ketemu fisik  namun  dapat  bersua  dalam idealisme. Tautan idealisme  sebagai  kesadaran sosok Cut Nyadin dan Djamila Bouherid. 

Memang tidak sekadar idealisme saja, Sebab idelisme ada  relasi dengan  revolusi berpikir. Artinya   Kesadaran berisikan Idealisme dari Cut Nyadin dan  DJamila dari Aljazair nampak  terinspirasi oleh gerakan kemajuan Islam Mesir yang lebih dahulu menyalakan api revolusinya, Revolusi berpikir Islam modernis.Di era Presiden Gamal  Abdel Nasser
Seperti diurai dalam  disertasi Doktornya Modernissi Islam di Aceh memperjelas hal itu. Dimana kemajuan berpikir menggali  ajaran Islam akan lahir perubahan sebagai pemahaman   variable  perubahan dalam masyarakat. Islam  selalu  memberi peluang kemajuan. Alfian agaknya  benar dalam membentangkan Islam  modernis di Aceh  untuk representasi Indonesia modern.

Maka singkat kata, wanita hebat dua diatas jelas  secara  meyakinkan   terpapar  oleh  spirit Islam yang  mengajarkan kemerdekaan, mengambil  intelektual modernis Islam, selalu  menjadikan kesadaran sebagi guidance star, melakukan  perubahan  change  dengan amal kerja.

 

Persoalan berikutnya bagaimana dua sosok  wanita hebat itu kita jadikan ibrah ( teladan ).Mengingat suasana kebatinan mengenang Cut Nyadien  disusul wanita  Kartini  dan tantangan  kaum wanita  kini
Mari kita  respon permasalah diatas  sebagai berikut:
Pertama, dua sosok wanita Cut Nyadin dan Djamila adalah mujahidah yang punya kemiripan peran untuk bangsanya. Yaitu untuk lepas dari penjajahna,  alau mengejawantahkan  kebebasdan intelktua dalam spirit Islam.


Kedua, dalam suasana  memperingati hari Kartini 21 April ada baiknya kaum wanita  Indonesia untuk bertekad seraya mengejawantahkan peran membangun bangsa dengan belajar  pada sejarah tokoh hebat dimasa  lalu,Tujuanya  mengambil ibrah atau teladan.
Pembelajaran untuk  mencapai kemajuan adalah belajar dengan memantapkan spirit perubahan berkemajuan. Sejarah mengajarkan nilai, sementara kewajiban kita  mengambil nilai  yang berguna dari sejarah.Tugas kita sebagai bangsa
Disini pula tidak berkelebihan jika dikatakan bahwa  wanita Indonesia  harus mumcul, Menjadi wanita hebat dalam menghiasi halaman sejarah bangsanya.  Tidak tertinggal dari kaum  laki laki.. Sebab laki dan wanita  adalah  dua sayap memajukan bangsa. Ibarat burung  tidak bisa terbang dengan hanya satu sayap. Wanita  harus bangkit dalam semangat zaman, Bangsa Indonesia berkemajuan !


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)