Beranda » Ekonomi » Dwi Ranny Pertiwi: Indonesia Punya Brand Jamu, Korea Punya Brand Gingseng

Kamis, 20 Februari 2020 - 20:39:46 WIB
Dwi Ranny Pertiwi: Indonesia Punya Brand Jamu, Korea Punya Brand Gingseng
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Ekonomi - Dibaca: 218 kali

Jakarta, Melayutoday.com,- Jamu adalah aset kesehatan dan warisan bagi Indonesia, eksistensi  jamu telah diakui sejak jaman nenek moyang kita hingga saat ini. Selain berkontribusi bagi kesehatan, jamu boleh dikatakan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat, terutama bagi UKM dan UMKM.

Hal ini diungkapkan Dwi Ranny Pertiwi Zarman, SE, MH, Ketua umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu), usai Pembukaan Munas, yang dibuka oleh Kepala Badan POM RI, Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP, Kamis (20/2/20) di hotel Acasia Jakarta Pusat.

Menurutnya,   GP Jamu sebagai organisasi yang saat ini mengadakan Musyawarah Nasional (MUNAS) VIII berlangsung 20-21 Pebruari 2020, selain membahas berbagai hal yang berkaitan dengan dunia usaha jamu di Indonesia, juga akan menggelar pemilihan Ketua Umum VIII untuk periode masa bakti 2020-2025.

Berbeda dengan periode sebelumnya,  MUNAS VII dibuka oleh Presiden Ir.H.Joko Widodo, sedangkan Munas kali ini tidak dibuka  oleh RI 1.

"Dengan bersatu dalam organisasi GP Jamu, para pengusaha dapat kompak sehingga mendapatkan informasi secara cepat tentang kesehatan dan jaringan bisnis sehingga gerak langkah ukm dan umkm di sektor jamu mampu bersaing di era digital saat ini " jelas Dwi Ranny Pertiwi Zarman, SE, MH.

Soal kualitas jamu, tambah Dwirani, jamu.produk Indonesia tak kalah dengan produk luar negeri.Standarnya telah sama.

" Kenapa brand Jamu tetap dipertahankan, karena orang.pasti mengenal ini pasti Indonesia, seperti halnya gingseng orang pasti kenalnya itu pasti dari Korea," pungkasnya. ( m. Harun).

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)