Beranda » Opini » Dari Hati Kehati: Split Personality

Selasa, 18 Februari 2020 - 20:45:04 WIB
Dari Hati Kehati: Split Personality
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 195 kali

Oleh DR Mas ud HMN *)

Split personality adalah istilah psikology yang menunjukkan ketidak utuhan kemanusiaan seseorang Seperti suka kemegahan tapi tidak peduli kesengsaraan yang lain. Meminjam sepotong kalimat penyair Sutarji C. Bahri, berucap Luka kaki kau lukakah kaki ku, Kaki kau kakikukah, Mungkin saja akal kita sehat tapi kalbu kita tidak. Padahal akal dan kalbu tidak boleh pecah berantakan Meneselaraskan akal dan kalbu bukan hanya penting dilihat dari kesehatan, melainkan juga dari segi manusia seutuhnya.

Yang terakhir mulai banyak dipersoalkan yaitu pecah kongsi antara akal dan kalbu. Pertanyaannya bagaimana solusi dari berantakannya akal dan kalbu tersebut Dalil mendefenisikan akal adalah produk dari kemampuan panca indera. Jika kita katakan masuk akal adalah objek yang dapat direspon inderawi. Sesuatu yang dilihat didengar dirasakan dicium serta dirasaakan.aliran akal sehat adalah aliran yang mengharuskan repon inderawi berfungsi,Tidak boleh berantakan.

 Selanjutnya bagaimana takrif kalbu,Ini merupakan produk keyakinan,kepercayaan, berbasis kepada diluar inderawi.Yang biasa disebut kepervayaan kepada yang gaib atau disitilahkan dengan iman. Jadi kalbu adalah identic dengan iman, Kalbu dan iman tidak boleh berantkan.

Dari paparan diatas, akal sehat tidak boleh berantakan dan kalbu atau iman tidak boleh brantakan,Dengan kata lainmanusia seutuhnya itu adalah keselelarasan kepaduan, Antara esensi obkjektif dengan akal promotornya lalu diksinkron seinergikan denganesensi kalbu dengan iman sebagai pengendalinya.Tegasnya insan sempurna manusia seutuhnya manusia yang mensinergikan akal dan kalbu dalam kehidupan. Bukan kehidupan yang brantakan antara kalbu dan akalnya

Mungkin menarik apa yang disampaikan Allma Muhammad Iqbal dalam puisi relegiusnya yang jelas menselaraskan anta akal dan kalbu, Penyair besar dari Pakistan yang wafat 1938 melantunkan syairnya dengan manusia hidup sampai keliang lahad Tapi aku mau hidup sampai kepada Tuhanku Hidup hingga lahad adaah hidup objektif akal dalam esensi dimensi akal objektif dunia berminat materi belaka.

Adapun hidup sampai kepada Tuhan adalah berfungsinya kalbu, dengan esensi imani Dari akal dan kalbu yang bersinergi, tidak berantakan atau tidak pecah kongsi tersebut kita dapat mengmbangkn hal berikut yakni Disitu akan terbangun jiwa yang empati, halus dan inovatif. Empati adalah peduli,bertanggung jawabpada sejarah, dan lingkungannya.

Halus budi adalah etika perdamaian yang santun. Sementara inovasi, ketrusan asa berusaha kearah pencerahan dan kebaikan Selanjuynya memunculkan manusia yang rendah hati dan tidak sombong. Mau mengindahkan kebersamaan umum dan hidup bersama. Manusia yang utuh kepribadianya dalam keselarasan kompaknya akal dan kalbu.

*) Penulis adalah Doktor Pengajar Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka ( UHAMKA ) Jakarta Jakarta 13 February 2020


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)