Beranda » Pendidikan » Dari Hati Kehati: Akal dan Qalbu ( Jangan) Pecah Kongsi

Rabu, 05 Februari 2020 - 17:46:01 WIB
Dari Hati Kehati: Akal dan Qalbu ( Jangan) Pecah Kongsi
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Pendidikan - Dibaca: 43 kali

Oleh DR Mas ud HMN *)

Ada baiknya kita melihat keutuhan kemanusiaan kita. Seperti suka kemegahan tapi tidak peduli kesengsaraan  yang lain.  Meminjam sepotong kalimat penyair Sutarji C. Bahri, berucap Luka kaki kau lukah kak ku, Kaki kau kakikukah,

Mungkin saja akal kita sehat tapi Qalbu (hati) kita tidak. Padahal akal dan Qalbu tidak boleh pecah kongsi Menyeselaraskan akal dan qalbu bukan hanya  penting dilihat dari kesehatan, melainkan juga dari segi  manusia seutuhnya. Yang terakhir mulai banyak dipersoalkan yaitu pecah kongsi antara akal dan qalbu. Pertanyaannya bagaimana  solusi dari berantakannya  akal dan qalbu  tersebut

Kalau kita  fahami akal adalah produk dari  kemempuan panca indera. Jika kita  katakan masuk akal adalah objek yang dapat direspon inderawi. Sesuatu yang dilihat didengar dirasakan dicium serta dirasaakan aliran akal sehat  adalah aliran yang mengharuskan  repon inderawi berfungsi,Tidak boleh berantakan.

Selanjutnya  bagaimana taakrif qalbu,Ini merupakan produk keyakinan,kepercayaan, berbasis  kepada luar inderawi.Yang biasa disebut kepercayaan kepada yang ghaib atau diisitilahkan dengan  iman. Jadi  qalbu adalah identic dengan iman, qalbu dan iman tidak boleh berantkan.

Dari paparan diatas, akal sehat tidak  boleh berantakan dan  qalbu atau iman tidak boleh brantakan, Dengan kata lain manusia seutuhnya  itu adalah  keselelarasan kepaduan, Antara esensi obkjektif dengan akal promotornya lalu diksinkron diseinergikan dengan esensi  qalbu dengan  iman sebagai pengendalinya. Tegasnya  insan sempurna manusia seutuhnya manusia yang  mensinergikan akal dan qalbu dalam kehidupan. Bukan kehidupan yang brantakan  antara qalbu dan akalnya.

Mungkin menarik apa yang disampaikan Allma  Muhammad Iqbal dalam  puisi relegiusnya yang jelas menselaraskan  antara akal dan qalbu, Penyair besar dari Pakistan yang  wafat  1938  melantunkan  syairnya   dengan syahdu yaitu;  “Banyak  manusia hidup sampai keliang  lahad Tapi aku  mau hidup sampai kepada Tuhanku”

Hidup  hingga  lahad adaah hidup objektif akal dalam esensi dimensi  akal objektif dunia berminat materi belaka. Adapun  hidup sampai kepada Tuhan adalah berfungsinya qalbu, dengan  esensi  Imani.

Dari akal dan qalbu  yang  bersinergi, tidak berantakan atau tidak pecah kongsi tersebut kita dapat mengembangkan hal berikut yakni:

Pertama. Akan terbangun jiwa yang empati, halus dan inovatif. Empati adalah peduli, bertanggung jawab pada  sejarah, dan lingkungannya. Halus budi adalah etika perdamaian yang santun. Sementara inovasi, terus berusaha kearah pencerahan dan kebaikan.

Kedua, memunculkan  manusia yang  rendah  hati dan tidak sombong. Mau mengindahkan kebersamaan umum dan  karena  ingin hidup bersama.

*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka ( UHAMKA) Jakarta.

Jakarta, 31 Januari 2020


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)