Beranda » Opini » POLITIK IDENTITAS

Senin, 03 Februari 2020 - 22:26:40 WIB
POLITIK IDENTITAS
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 165 kali

Oleh DR Mas ud HMN*)

KARENA POLITIK IDENTITAS  belakangan dikonstruksikan bertendensi negative, lalu menjadi isu besar dalam blantika pemikiran kebangsaan kita. Mengingat adanya penolakan politik identitas tersebut. Khususnya dalam konteks umat Islam, paska pilpres, yang disampaikan banyak tokoh. Itu lantas menjad imasalah  debatable, alias  penuh pro kontra.

Timbul pertanyaan berbahaya salahkah politik identitas itu ? Jawabnya tidak. Berikut inilah penjelasannya ;

Pertama ,identitas itu mengandung kedaulatan yang utuh tidak terombang ambing,

Kedua, identitas itu member ruang eksistensi berkelanjutan menjadi ciri yang membedakan dengan nilai lain.

 

Memang ada yang disesalkan dari asah intelektual untuk sebagian kaum politik muda. Antara  esensi politik idealisme dengan eksistensi poiitik praktis,.Ironinya menjadi pertentangan dan  pro kontra tidak dalam intelektual yang sehat.

Bagi yang tertarik mengamati sejarah politik partai Masyumi akan menemukan hal pentingi sekali seputar idealisme politik.. Secara intern partai, banyak masaalah, namun masalah tetap berada pada posisi inteletual yang jernih, Menariknya, paradok soal pro Amerika dan tida  Amerika partai Masyumi tersebut, terjadi dalam politik luar negeri Indonesia yang baru merdeka.

Segi idealisme dimaksud dipresentasikan oleh sayap Burhanuddin Harahap, Syafrudin Perwiranegara sementara sayap pro Amerika adalah Sukiman,Yusfuf Wibisono dan Abu Hanifah.

Idealisme dasar Islam Masyumi sangat kuat. Artinya perjuangan untuk membangun  Indonesia dengan kedaulatan, berkemajuan dan kemakmuran sangat jelas. Meskipun dalam kaitan cara mencapai tujuan terdapat variasi pandangan seperti disebutkan diatas Termasuk pandangan politik luar negeri.

Bisa dicatat bagaimana kedua grup itu berargumentasi kuat dengan segenap alasannya, Dapat dicatat Sukiman adalah intelektual penting yang  pro Amerika.. Bagi Sukiman amat strategis untuk pro Amerika ketimbang anti jatuh dibawah pengaruh Komunis yang nota bene punya basis  dalam negeri sejak awal kemerdekaan. Sukiman melihat bahaya faham komunis harus dihadapi dengan bergabung atau dibangun dalamaliansi pro Amerika.

Secara kategoris yang tidak pro Amerika identic dengan aliran idealis, sikap independent, kekuatan sendiri dan itu lebih  ideal. Ketimbang  Pro Amerika, baca Barat, memang di perlukan untuk pembangunan Indonesia, namun mengandung risiko. Barat adalah kaum penjajajah yang kemudian menjadi imperialisme modern.

Agaknya dua grup ini beranjak dari orsinilitas faham mencapai Indonesia .yang kuat dan makmur. Namun yang terjadi tidak satupun grup itu mendominasi yang  lainnya. Tidak seperti dapat namun terus seiring jalan.Sama kuatnya Ini bukan dua nakhoda satu kapal dua tujuan. Tapi satu tujuan.

Sekali lagi tidak identic satu kapal dua tujuan., Ini betul sebuah proses idealisme intelektual dengan Imaniyah. Anti komunis dan pro Amerika sebuah jalan, Tidak  pro Amerika tapi anti komunis sikap  yang lain.  Ide  sama disitu adalah Indonesia yang kuat dan bebas.

Mungkin melihat kenyataan estimasi Sukiman memang terjadi, Yaitu dengan masuknya Indonesia dibawah pengaruh komunis era Sukarno.Dengan puncaknya pemberontakan komunis  ( PartaiKomunis Indonesia). Hanya gagal. Lalu kemudian Indonesia menjadi pro Amerika di era  Soeharto. Yang kemudian membawa persoalan hingga Soeharto pun  jatuh dari kekuasaan.

Singkat kata ini orsinil Masyumi. Yaitu anti komunis tanpa pro Amerika.Inilah bentuk politik identitas yang ditunjukkan oleh Masyumi. Tetap kokoh dalam Politik identitas berkedaulatan. Saya kira harus kita lihat dari idelaisme demikian. Sehingga politik identitas tidak diluluhkan kedalam makna sempit seperti sekarang ini yakni pecah belah. Melainkan dalam mengejawantahkan idealisme kedaulatan. Nilai nilai idealisme berbasis imaniah itulah  yang membedakan dengan idealisme yang lain.

Akhirnya,politik identitas tidak perlu ditakuti. Bahkan lebih dari itu politik identitas dapat menjadi acuan politik kebangsaan kedepan. Karena berbasis nilai imaniah ,kedaulatan dan berkelanjutan. Kita menjadi bangsa yang maju, Wallahuaklambissawab

*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka( UHAMKA) Jakarta

Jakarta 25 Januari 2020

 


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)