Beranda » Opini » Sosial Profetik Simbol Keadilan Berkemajuan

Selasa, 07 Januari 2020 - 18:52:36 WIB
Sosial Profetik Simbol Keadilan Berkemajuan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 81 kali

Oleh Dr Mas ud HMN *)

Sosial frofetik sebagai faham social agama telah menjadi symbol setting sosial berkeadilan berkemajuan. Beda ketika Koentowidjoyo, budayawan,  memperkenalkan istilah  social profetik yang pada masa itu setting  pembangunan social ekonomi  lagi menjadi jadi pada kazanah  aliran liberal kaum intelektual  di Indonesia.

Sehingga , Isu yang dilontarkan itu  Koentowidjoyo dipandang  enteng enteng saja. Artinya  kalah dengan  isu pembangunan ekonomi yang merajalela, Itu era  70-an dan berlangsung  lama.

Memang, arus besar ekonomi dengan dukungan  Berkley group –diambil dari nama Perguruan tinggi Amerika- tak terbendung, Apalagi tokoh pendukungnya  terdiri dari  intelektual yang lahir dari  Universitas  ternama Indonesia. Sebutlah Emil Salim, Sumarlin yang kemudian menjadi Menteri Keuangan yang terbaik di Asia, Wijoyo Nitisastro  dan banyak  lagi, Konsep ekonomi itu ditancapkan dalam pola pembangunan ekonomi lima tahunan  dalam Rencana pembangunan Lima tahun (Repelita).

Kasus  ketidak adilan social dan bahkan Patologi social, atau penyakit social sebagai gejala masyarakat, Ketidak adilan social,  lalu patologi social  itu berimplikasi ke banyak hal. Masyarakat menjadi sakit. Padahal, konsep pembangunan nasional kita untuk menjadikan bangsa maju, sejahtera, adil dan makmur. Semua  itu  dicapai dengan investasi yang besar. Sudah dilakukan dengan susah payah.

Disitulah Koentowidjoyo  melantunkan  konsep social profetik yang  pada intinya  menyinggung ketidak adilan social, kejahatan moral, distop. Memang gejala ini menampar wajah kita sebagai bangsa, Disatu pihak  bangsa  kita sedang investasi besar membangun manusia, dilain pihak ada perusak investasi tersebut. Yaitu petugas, penanggung jawab. Sebagai tonggak  pagar bangsa memperkaya diri, melupakan kaum lemah.

Bagi Kuntowidjoyo (alm) hal demikian adalah  pembangunan tanpa arah moral, Bagaikan keluhan sang penyanyi dangdut melankolis, Mansur S dalam liriknya, “Pagar makan tanaman” Pengawal moral yang runtuh.  Ini sejalan dengan rakyat  yang   mengeluh, sudah bangsa sendiri yang kuasa, namun nasib tak berubah, Belum bisa terseyum.

Selain itu kasus ini dapat dipahami dengan teori sosial masyarakat yang disebut Patologi Sosial. Sebagai gangguan jiwa atau penyakit jiwa. Patologi social adalah satu gejala penyakit social yang menimpa masyarakat.

Imanuel Kant mengemukakan sebuah teori moral. Yang disitilahhan dengan “moral cundact”. Bagian satu kehidupan manusia yang berguna untuk masyarakat dengan memfungsikan nilai, Nilai yang baik bersumber dari agama dan tradisi yang ada dalam masyarakat itu sendiri.

Muatan teori  moral cunduct Kant ini yaitu moral yang baik dan buruk. Hal itulah yang harus diuji, dibedakan. Mana yang harus dijadikan dan dikembangkan menjadi tradisi (kebiasaan berulang) dalam setting masyarakat.

Ditambahkan juga dengan memasukkan dimensi validitas akal, proses kejiwaan dan pengalaman. Sehingga  dapat dilihat penyakit masyarakat itu secara moral dan pengetahuan. Dengan demikian patologi social yang dialami, harus juga menumbuhkan motivasi dari kamunitas itu “untuk sembuh”. Pemikiran Imanuel Kant tentang  moral cunduct, agaknya penting dan interest  untuk dieloborasi  lebih jauh. (Runes, Dagobert, Dictionary of Philisofy.1962).

Dalam Islam ada petunjuk melarang perbuatan Ketidak adilan. Bahkan, harus menghindar dari perbuatan tersebut. Banyak ayat tentang pelarangan ketidak adilan yang ada dalam  al Qur an.

Selain perintah larangan, ada juga kisah sebagai ikhtibar bahan pembelajaran  berupa kejadian umat terdahulu. Qur’an menjadikan kisah kisah tersebut untuk pedoman menghindarinya. Al-Qur an memberikan  inspirasi tentang nilai nilai kebenaran dan mengikuti jalan kebenaran tersebut .

Dapat ditarik intinya, bahwa  secara teori harus dipahami, lantas terhadap gejala  itu harus ada  solusi. Yang sudah tentu paling terdepan adalah instansi yang berhubungan dengan pendidikan dan pembangunan Demikianlah seharusnya.

Akhirnya gejala soal ketidak adilan, atau patologi social dalam hal ini telah berada dalam bentuk category yang mengkhawatirkan. Ini  penyakit  zaman yang berulang.

Pada masa sejarah masa lampau  Ibnu Farabi yang hidup tahun10 Masehi, menyatakan ada  4  bentuk gejala yang  jangan diikiuti dan  hanya satu yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan , Apa itu ? Yang tidak boleh diikuti  pertama,  fasiq ( berpikir  orang gila) kedua, jahiliah ( berpikir curang, jahil),, ketiga, dhalalah  ( berpikir sesat ), keempat,  mubaddalah ( berpikir tidak kosisten,tidak istiqamah (. Hanya satu yang  boleh diikuti yaitu  Fadhilah (berpikir orang yang benar,)

Dalam aspek pembangunan nasional, tentu ini sangat prinsipil. Manusia macam apa yang akan mengurus kebangunan Negara bangsa kedepan?.Jawabannya tentu tidaklah mungkin diwariskan pada mereka orang orang  bermoral rendah. Tidaklah mungkin ditangani mereka yang  fasik, yang curang, yang sesat dan  yang tidak istiqamah. Jalan satu satunya adalah menerapkan  konsep masyaarkat  utama ( fadhilah). Pesan  Al Farabi, empat jangan diikuti adalah solusi. Itulah pesan  social profetik mengikuti sunnah  nabi. Dalam rangka harapan , dan doa kita bangsa ini haruslah maju. Hal  demikian memerlukan orang yang andal, yakni orang  baik dan orang Saleh. Mudah mudahan.

Jakarta   5 Januari 2020 

 

*) Dr Mas ud HMN adalah Dosen Pascasarjana Universitas  Muhammadiah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)