Beranda » Opini » Dari Hati Kehati : Banjir Dengan Solusi Naturalisasi Manusiawi

Selasa, 07 Januari 2020 - 18:50:00 WIB
Dari Hati Kehati : Banjir Dengan Solusi Naturalisasi Manusiawi
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 168 kali

Oleh  Dr Masud HMN

Pewrnedaan tidak selalu buruk meskipun  tidak semua  perbedaan  itu baik,Ungkapan  ini  dapat ditarik  pada persoalan  perbedaan pendapat tentang musibah banjir di Jakartta. Para pejabat  masuk pada  sirkel  beda pendapat  dan memunculkan aroma  teengkar yang saling menyalahkan

Rasa rasanya, tengkar  saling menyalahkan  bahkan  dimbui ras  dengki benci dn politik tidaklah tepat.Siapa yang salah adanya banjir jelas  tidak siapa siapa, Bajir itu bencana  buukan dibuat atau dicipaakan seseoramg.. Kalaupun ada hubungan adalah sebab dan akibat yang  tidak dengnn sengaja. Mengundulkan hutan  di bagian utara  atau wilayah Puncak dan Bogor menimbulkan banjir si Jakarta..Itu saja

Seperti terekspos dari percakapan dialog  Menteri Pekerjaan umum  dengan Anis Baswedam. Mereka berdua beda dalam menaggulangi banjir  di Jakarta . Yaitu Menteri Pekerjaan umum konsep penagngan banjir ada;ah dengan normalisdasi aliran sungai Ciliwung dengn memebbaskan lahan sepankang 33 km dari hulu  hingga  kelaut. Tetapi Gubernur  DKI Jakarta  beda dan todak setuju,karena banjir berasal dari luar  Jakarta,Harus ditangani dengan  naturalisasi, penghijauan  bendungan dan  waduk persesapan/.

Perbedaan normalisasi dan natuurlisasi .Keduanya  konsep solusi  banjir Jakarta bertuujuan sama namun dalam esensi beda, Singkat kata  yang satu pro penggussuran  normalissi dan yang kedua  pro rakat tanpa gusuran yaitu naturalissi. Apalagi  penggusuran dittapkan  pnfadilan dalam perkara yang  telah diputus pengadilan

Gubernur Anis Baswedan tak terelakkan mendapatkan kecaman pahit sekali, karena gayahya yang tenang seoalah tak berbuat banyak oleh khal;ayak yang mencelanya  dianggap berbuat banyak Namun Anis bukan sendirian mearasa ocehan yang berlebihan. Banjir tahun ini luar biasa. Dia disudutkan dan dianggap tidak berbuat banyak. Tuduhan yang tak berasar Ha;l yang  selalu mnengambil sikap  tuduh buruk  demgam dasar  beda  pandangan, adalah aliran tak sesuai dengan  watak jiwa bangsa.Sikap positif adalah spirit dari fallsdafah hidup berkemanusaan. Perbedaan adalah pelangi , perbedaaan adalah irama. perbedaan adalah jiwa  watak kerjasama dalam menghadapi  kesulitan dan bencana.

Dalam hal ini bisa ditarik pembelajaran penting dengan  langakah penaggulangan jangka  pendek dan konsep jangka panjang Yaitu

Pertama urus saja dulu korban banjir yang  ada sekarang. Tanpa tengkar dan saling menyalahkan,Sinsingkanlah lengan baju, Kumpulkan sumbangan dan  sumbagkan lansung pada korban yang memerlukan

Kedua, konsep jangka panjang adalah yang relevant dengan  pembangunan pro rakyat. Yaitu  nasturlisdsi, Jauh dari penggususuran  Peemerinat Pusat harus mengambil alih peran  kordinasi.

Dalam paandangan kita kedepan. banker  Jakarta adalah tantangan pembangunan wilayah masa depan yang tidak menjadi  masalah Jakarta belaka, Problemnya membentng ;uas me;iuti  propinsi yang  berbatasan., Disinilah  konsep berwawasan  kewilyahan pro rakyat anti gusur  atau naturalriasi  menjadi relevant.

Adasnya  perbedaan pendapat adalah lazim. Perbedaan  tidaklah selelu buruk. Meskipun  perbedaan selalu baik. Menjadi baik jika kita menerimanya dengan pengertian positip, Sementara jadi buruk jika  mengandung curiga,  iri atau sikap pikir  negatif,Simpul pikir kita, banjir  Jakarta  adalah pembelajaran dan tantangan sikap kegotong royongan kita

Jakarta 4  Januari 2020

*) Penulis Adalah Dosen UHAMKA


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)