Beranda » Opini » Pejabat, Nilai dan Korupsi

Senin, 25 November 2019 - 20:59:12 WIB
Pejabat, Nilai dan Korupsi
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 34 kali

Oleh DR Mas ud HMN*)

Pejabat,nilai dan korupsi sebagai variable  kajian perbuatan melawan hokum menyelewengkan uang Negara agaknya masih harus dila kukan  serius,Mengingat hal itu masih marak saja

Nilai atau kualitas pejabat sebagai variable korupsi adalah kenyataan yang tak terbantahkan Faktanya kian banyaknya pejabat yang OTT karena korupsi dan masih rendahnya kualitas pejabat. Nilai manusia dengan variable  korupsi berbanding terbalik

Sehingga kesimpulannya kalau pejabat berkuaitas remdah maka jumlah koruptor  akan tinggi, ini adalah kebalikan. Yaitu semakin tinggi jumlah terlibat korupsi dikonotasikan rendah kualitas pejabat.

Sebaliknya, semakin tinggi nilai pejabat semakin rendah koruptor pejabat. Kalau begitu pejabat tidak bermutu dan tidak berkulitas,

Alangkah buruknya negeri kita. Rasanya kita tidak terima kenyataan pejabat bernilai rendah, Karena punya keyakinan negeri ini adalah negeri orang baik. Warganya beriman dan punya kejujuran dan amanah. Kok begini ceritanya

 

Menurut Muladi (2017) ada formulasi dalam perspektif korupsi dimasa depan. Hukuman koruptor dan income  hasil perbuatan korupsi menjadi base thingking bagi pelaksana korupsi. Korupsi  yang diterapkan dalam hitungan logika matematik

 

Logika sistemik diatas selaras atau relevant. Sebab Korupsi sebagaimana juga kekuasaa otoriter selalu saja jalan bersama. Atau bahkan koruptor dengan penguasa melanggengkan model   melakukan korupsi itu. Kadang kadang Penguasa ikut serta terlibat dalam pola Sistemik tersebut

 

Pola atau model ini bias kita asumsikan. Yaitu Basethingking atau dasar pemikiran koruptor, risko, hasil,  Intinyakalau korupsi risiko masuk penjara.

 Dua  dasar ini diperimbangkan bahwa dengan kategori keuntungan kerugian atau mamfaat dan mudarat.

Argumen aplikasinya ini berasumsi besaran hasil 10 milyar dan risiko penjara 10 tahun, Rugikah ini,Jawabnya tidak rugi.Vonis 10 tahun realisasinya hanya 6 tahun karena ada remisi potongan hukuman.Uang 10 milyar akan terpakai perkara dan sebagainya  total 4 m sisa 6m. Model sistemik dengan terukur, yaitu penguasa dengan unsure kolusi . risiko vonis riil yang  harus diterima,

 

Sementara manfaat adalah total akhir  yang diterima. Alhasil korupsi masih menguntungkan. Apatah lagi kalau bebas. Kalaupun terpenjara kelak masih bias tenang karena masyrakat mau menerima lantaran sisa uang korupsinya masih banyak

Akhir cerita adalah

Pertama, memang benar pejabat yang OTT kurang kualitas.Ini harus diperbaiki yaitu menjadikan pejabat kita dengan kualitas tinggi.

Kedua,dasar pemikiran  yang dibangun dengan logika sistemik salah bahwa korupsi menguntungkan harus dikalahkan. Diganti dengan sangsi berat baik materiil maupun social

 

Diatas semua itu ada keharusan kita untuk membawa ajaran agama   kepada semua pejabat, Dunia ini adalah tempat beramal Saleh, menjauhi perbuatan buruk. Dunia harus ditangani oleh mereka yang salih dan baik

 

Jakarta 25 November 2019

 

 


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)