Beranda » Nasional » Muhammadiyah Tobacco Control Network Tagih Janji Jokowi Soal Regulasi Baru Kenaikan Tarif Cukai dan

Rabu, 09 Oktober 2019 - 21:05:09 WIB
Muhammadiyah Tobacco Control Network Tagih Janji Jokowi Soal Regulasi Baru Kenaikan Tarif Cukai dan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Nasional - Dibaca: 36 kali

Muhammadiyah Menagih Janji Jokowi 
Soal Regulasi Baru Kenaikan Tarif  Cukai Dan Harga Rokok
 
Jakarta, Melayutoday.com,-Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi dasar perjuangannya, yaitu dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar dengan masyarakat sebagai medan juangnya.

Komitmen Muhammadiyah dalam berkontribusi bagi perkembangan bangsa dan negara dengan meningkatkan peran generasi penerus bangsa dalam berbagai sektor. 

Saat ini permasalahan bangsa khususnya tuntutan keadilan yang tertuang dalam Undang-Undang negara ini terus bergulir dan di suarakan dari berbagai penjuru anak bangsa, tuntutan keadilan revisi berbagai rancangan undang – undang. Tuntutan kepada negara untuk memainkan fungsi regulasi yang lebih berkeadilan bagi semua lapisan rakyat. 

Pada sisi lain Muhammadiyah sebagai organisasi islam berkemajuan melihat ketidakadilan dalam salah satu regulasi menyangkut dampak negative rokok bagi hajat hidup masyarakat Indonesia. Melihat fenomena generasi penerus bangsa yang terjerat dengan perilaku merokok dan terpapar asap rokok.  Rokok dan rokok electronic (e-cigarette/ electronic nicotine delivery system) sebagai produk yang bersifat adiktif merupakan masalah mendasar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia khususnya generasi penerus bangsa.

Demikian paparan press confrence dan Sarasehan Muhammadiyah Tobacco Control Network yang berlangsung di hotel Sofyan, Cutmutiah, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (9/10/2019) siang yang menghadirkan pembicara: Anwar Abbas ( Ketua PP Muhammadiyah), Mukhaer Pakkana ( Rektor ITB Ahmad Dahlan), Agus Samduddin ( Ketua MPKU PP Muhammadiyah).

Menurut Ketua MPKU PP Muhammadiyah, Agus Samsuddin, Saat ini Indonesia adalah Negara dengan prevalensi perokok tertinggi ketiga di dunia dibawah Cina dan India.

Keterjangkauan masyarakat khususnya generasi muda dan masyarakat miskin kepada rokok terdorong oleh aturan UU cukai rokok di Indonesia  ( Nomor  39  Tahun  2007) khususnya pasal 66A ayat 1 yang tidak mempertimbangkan dampak negative rokok, padahal hakekat cukai adalah pengendalian konsumsi. 

Analisis Situasi Saat ini (Dampak Negatif Rokok), menurut Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi perokok usia 15-18 tahun ke atas yaitu; 27% (Susenas 1995); 31,5% (SKRT 2001); 34,4% (Susenas 2004); 34,7% (Riskesdas 2007) dan 36,3% (Riskesdas 2013); 33.8% (Riskesdas 2018). Sedangkan prevalensi perokok pemula atau dibawah umur usia 10-18 tahun mengalami peningkatan dari 7,2% (2007), 8,8% (2016) dan 9,1% (2019), meningkat dan menjauh dari target RPJMN 2019 sebesar 5,4%. Peningkatan prevalensi perokok pemula ini berdasarkan banyak penelitian sejalan dengan murahnya harga rokok di Indonesia dan upaya industri rokok menjadikan generasi muda sebagai target utama. 

Meningkatnya angka perokok usia dibawah umur  dan besarnya alokasi belanja rokok berdampak dengan peningkatan Prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM)/ Non-Communicable Decease (NCDs), Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2018) jika dibandingkan dengan Riskesdas (2013), antara lain kanker, stroke dan hipertensi. Prevalensi kanker naik dari 1,4% menjadi 1,8%; prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9%; dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%. 

Kerugian masyarakat dan negara jika kita perhitungkan secara makro ekonomi kerugian akibat rokok dari berbagai pendekatan SDM (Sumber Daya Manusia) dan potensi Ekonomi terdiri dari kehilangan tahun produktif, belanja kesehatan total (rawat inap), belanja kesehatan total (rawat jalan),belanja rokok/konsumsi rokok, biaya potensi kehilangan/loss multiplier effect  total sebesar 748.96T. Loss Multiplier effect  adalah potensi kehilangan pada industri riil lainnya yang menjadi industri utama. 

Mempertimbangkan situasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia sebagaimana paparan diatas, Muhamamdiyah Tobacco Control Network memberikan dukungan kepada pemerintah sebagaimana berikut : 
1. Mengkaji ulang regulasi cukai (UU No 39 tahun 2007) di Indonesia dengan mengedepankan prinsip keadilan sosial dan ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat dan perlindungan rakyat kecil.
2. Segera diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang baru sebagai payung keputusan kenaikan tariff cukai 23% dan harga rokok sebesar 35%, sebagai wujud keberpihakan negara terhadap rakyatnya.
3. Mengontrol dan mengevaluasi industri rokok secara lebih “jernih” dan “adil” berdasarkan dampak negatif yang ditimbulkan bagi masyarakat, sebagai wujud keberpihakan negara terhadap permberdayaan industri kecil menengah dan industri kreatif di Indonesia  yang tumbuh dari masyarakat.
4. Mengkaji lebih dalam dan serius  cukai untuk plastik dan pemanis buatan di Indonesia dengan pertimbangan pencemaran lingkungan akibat dua produk tersebut sudah melebihi ambang batas normal.
5. Perlindungan generasi emas Indonesia (bonus demografi) dari stunting dan dampak negatif rokok lainnya dengan keputusan bersama antar sektoral (kesehatan, perdagangan, industri, kominfo, perempuan dan anak, sosial, dan lainnya), untuk meraih Indonesia Emas melalui indicato Sustainable Development Goals. ( harun ).

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)