Beranda » Hukum » Kerusuhan di Papua dan Demo Mahasiswa di Seluruh Indonesia Menggoyang Jokowi?

Senin, 30 September 2019 - 00:37:46 WIB
Kerusuhan di Papua dan Demo Mahasiswa di Seluruh Indonesia Menggoyang Jokowi?
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Hukum - Dibaca: 92 kali

Dari Hati Kehati: Kerusuhan Papua dan Demontrasi Jakarta
 
Oleh  DR Mas ud HMN
 
Kerusuhan Papua yang dipicu  unsur desintegarsi wilayah,seperti tuntutan  Papua merdeka berpisah dengan Indonesia. Yang dipihak lain ada demontasi di Jakarta serta kota lainnya menentang pengesahan  Undang Undang  tentang Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) dan lain sebagainya adalah  masalah  yang beruntun
Terhadap UU KPK Presiden sudah merespon akan membuat  Peraturan Presiden  (PerppU), Sementera  yang lain dibahas berkelanjutan secara mendalam dengan perlemen  yang baru Itulah tanggapan Presiden Jokowi Semntara.
 
Papua diadopsi oleh  Jakarta tidak mempertimbangkan  Papua merdeka,  namun mengganti dengan janji akan memberi kesempatan Papua dibawah pemerintah RI dengan respon positif, tentang pembangunan, keuangan daerah, dan perlindungan hukum yang adil,Tegasnya tuntutan merdeka ditolak.

Dari dua  masalah tuntutan, yang  pada intinya  (1) soal revisi UU  KPK.dan.KUHP (2) tentang Papua merdeka, pemerintah Jakarta sudah menjelaskan  sikapmya. Yang intinya  Papua merdeka yang ditolak, Sementara lainnya diterima.

Namun, gayung  tifdak  bersambut dengan baik. Persoalan  demonstrasi  tidak ada titik temu dan  soal Papu juga ada  dalam kategori harapan hampa, Alias tidak terkabul.

Bagaimanapun, sekarang ini saat masalah datang  silih berganti, beban menjadi berat. Ini membawa risau, galau Muncul khawatir yang berlarut. Pada tingkat kritis   menjurus  pada putus asa, Meminjam  sebait  lagu penyannyi Manssur S, asal Betawi. Yaitu hampir saja hampir saja  putus asa  bunuh diri. Namun penyanyi dangdut  bersuara serak ini bangkit dengan, kalau kau tak menemui diriku.
 
Secara  abstrak. adanya  galau yang menjurus  kepada sikap putus asa dan bunuh diri hanya  bisa stop, bisa dihentikan oleh munculnya si dia menemui dirinya yang galau. Sang kekasihlah yang  bisa meredam galau dan risaau, bahkan lebih dari itu menghapus  keputus asaan.u

Alangkah luar biasanya sang kekasih (akan ) bunuh diri  kalau kau tak menemui diriku. Menyelamatkan, menenangkan  kalbu yang dirundung  nestapa, Adakah rusuh pribadi dalam konteks  wujud ekspois  yang diajukan Mansur S,  dapat selaras dengan rusuh  bangsa, kekhawatiran Negara saat ini. Pertanyaan  ini memerlukan jawaban, bisa atau tidak bisa. Tapi perlu penjelasan 
 
Saya kira  tidak bisa disamakan dengan  sekurangnya  dengan dua alasan. Yaitu inividu dapat saja irrasional dengan masalahnya, Tetapi negara atau bangsa sebagai institusi mesti rasional. Tidak mungkin irrasional

Dalam perspektif rasional, Negara sudah selayaknya menggunakan saran  dan unsur kenegaraan  lebih maksimal. Itu berarti juga adil meletakkan wawasan rasional ini. Jangan untuk  soal Papua ekstra serius, sementara soal demontrasi kota lainnya dengan  setengah hati. Alias  abaikan  prosedure hukum..Mengingat hal ini berdampak dua hal yaitu:
 
Pertama , Papua lepas dari wilyah RI. Tentu tidak kita inginkan, dan hal yang berbahaya.Hanya  harus diingat  betul oleh Presiden Jokowi dengan  administrasi pemerintahan, di Perseriktan Bangsa B Bangsa persoalan ini bergulir. Bisa saja  intervensi internsional  mendukung tuntutan pemisahan Papua menjadi Papua merdeka.
 
Kedua, demontrasi  Jakarta kota lainnya dapat membatalkan pelantikan Presiden Jokowi 20 Oktober mendatang. Intinya siapa yang bisa menjamin penguasaan perlemen di Senayan.. Tanpa  menguasai Perlemen Senayan. Jokowi  bisa gagal dilantik.
 
Dari dua  paparan ini kuncinya  ada pada Presiden Jokowi Faktor apa menjadi penyelamat  atau siapa  dapat memberi garansi atau jaminan, Dapat membendung  Papua merdeka dan menyelesaikan  demontrasi.Berhasil  dua  masalah itu sukses besar   Presiden Jokowi.
 
Tapi bagaimana jika satu  gagal ? Kalau gagal pada menyelesaikan  Papua Presiden Jokowi adalah Presiden kehilangan wilayah tanpa  Rebuplik Indonesia yang utuh. Kalau gagal di Senayan ia  tidak bisa  dilantik. Menjadi Presiden RI yang resmi  Kita beharap semua berjalan lancar..
 
Keteranga. Foto: Penulis Bersama Dubes Iran, Viloullah Mohamma di dan anggota DPD RI periode 2014-2019 asal Riau A Gafar Usman saat Refleksi Akhir Tahun 2018

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)