Beranda » Opini » Petani Yang Terlupakan

Sabtu, 29 Juni 2019 - 18:33:11 WIB
Petani Yang Terlupakan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 258 kali

Petani Yang Terlupakan
Oleh DR Mas ud HMN*)

Jika merasa nikmat  manisnya tebu jangan lupa  petani  penanam tebunya.
 
Topik ini  mengambil momentum mendekatnya 17 Agustus 2019 hari kemerdekan  Republik Indonesia  ke 74, Moment  moralitas  terhadap peran anak bangsa yang  terlupakan yaitu petani yang dalam statistik Indonesia adalah bangsa petani.Yaitu  80 persen rakyatnya adalah bekerja  sebagai petani. Meski petani itu tidak menjadi bagian  pekerjaan yang  terhormat.
 
Tapi dilupakan, Tidak penting. Tidak dihargai, Padahal tangan mereka lah yang  berkeringat menjadi  awal produk  sebuah minuman air tebu itu terjadi. Lalu itulah kemudian dipasarkan yang sampai  pada konsumen. Hal ini sangatlah penting.
 
Ya, benar. Kenapa demikian ? Karena tanpa mereka tidak mungkin  kita dapat  menikmat cita rasa  manisnya tebu, tersebut. 
Tidaklah berkelebihan kalau kita mengatakan  peran atau jasa  sang petani begitu pentingn. Betapa mendasarnya peranan sang petani ini berkontribusi untuk banyak orang. Hanya sayangnya, tak banyak yang peduli. Petani bukan idola, bukan dihargai,dihormati, Bukan  !
 
Petani dalam  konteks demikian dalam perspektif bangsa Indonesia kedepan menjadi masalah dekandensi moral. Kelirunya kita disitu. Nilai moral apa yang kita anut yang tidak peduli  petani . Bukankah itu suatu dekadensi moral ? Padahal yang menurut  statistic  bangsa Indonesia  adalah delapan puluh persen petani dan nelayan.
 
Semestinya harus  memberi perhatian dan  penghargaan kepada petani dan nelayan. Sebab keberadaan mereka  sebagai safety  food,  pengaman pangan. Factor itu menjadi  bagian dari fundamental ekonomi, Amannya  pangan artinya  kuat fundamental ekonomi. Tidak amannya  ketersediaan pangan, berkorelasi  dengan  bermasalahnya  fundamental ekonomi.

Adalah menarik jika  kita berkaca pada  Negara  Vietnam Negara tetangga kita dan sama sama anggota ASEAN. Mereka  adalah penghasil beras  tercatat dari dulu. Semua  orang tahu pentingnya  posisi Negara itu sebagai  Negara penghasil beras.

Penulis  beberapa tahun lalu  berkunjung   kesana, mencoba mencari tahu karakter petani Vietnam dan bagaimana pemerintah menghargai mereka. Dalam  catatan penulis, petani  negeri Ho Chi Min tersebut  adalah petani berwatak. Mereka pekerja ulet dan  petani yang  cinta kepada profesi  mereka sebagai petani. 
Setia menjadi petani. Salah satu alasannya pemerintah mereka melindungi dan menghargai mereka sebagai tulang punggung ekonomi Negara.
 
Penulis merenung.Petani Indonesia jauh berbeda dengan Vietnam, Di Indonesia petani berhati galau, tidak setia pada pekerjaannya.Meeka  kalau dapat  berhenti jadi petani dan pindah jadi pekerja lain, pabrik, jualan atau kerja kantoran. Petani bukanlah pekerja terhormat, melainkan  rendah.
 
Sehingga  pantaslah petani tidak  punya kebanggaan, Menjadi penyebab  tidak mau jadi petani. Karena tak dipandang,tidak dipedulikan, dan tak dikenang.
 
Kembali kepada petani tebu yang dikemukan awal essay ini bukan mengada ada. Cerita ini muncul dari memori penulis  saat mengunjungi  petani tebu dikaki gunung singgalang. Air tebu sebagai minuman khas  pelepas dahaga, yang sempat  kami minum  merasakan cita rasanya terasa nikmat sekali. Tapi banyak orang kini Air tebu dinikmati, tapi petaniya terlupakan

Jika saja sikap ini berkelanjutan, dalam bentuk  setting  kontruksi moral  bangsa yang dekadent, pertanyaannya  apa kabar  bangsa ini dimasa depan. Tentu masa depan yang suram, Hal demikian  tidak boleh terjadi.
 
Karena itu  mari kita kembali kepada  pembangunan  bangsa menghargai petani dan nemajukan ekonomi pertanian. Salah satunya adalah ketrsediaan pangan, sebagai  amannya   dan kuatnya fundamental ekonomi bangsa.
 
*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana  Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA( Jakarta
Jakarta  1 Juli 2019.

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)