Beranda » Opini » Mencermati Apa dan Bagaimana Politik Identitas

Rabu, 12 Juni 2019 - 11:16:55 WIB
Mencermati Apa dan Bagaimana Politik Identitas
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 325 kali

Oleh: Dr. Masud
 
POLITIK IDENTITAS  belakangan menjadi isu  besar dalam blantika  pemikiran  kebangsaan  kita. Mengingat adanya penolakan politik identitas tersebut.  Khususnya dalam konteks umat Islam, paska  pilpres, yang disampaikan  banyak tokoh . Itu lantas menjadi  masalah  debatable, alias  penuh pro kontra.
 
Timbul pertanyaan  berbahaya sangatkah politik identitas  itu ? Berikut ini  mari kita respon  menghubungkan  dengan kedaulatan sebagai berikut :
 
Pertama, identitas  itu mengandungg kedaulatan yang utuh tidak teromabang ambing.
 
Kedua, identitas itu  memberi ruang eksistensi berkelanjutan menjadi ciri yang membedakan dengan nilai lain.

Memang ada yang disesalkan dari asah intelektual untuk sebagian kaum politik muda. Antara  esensi  politik   idealisme dengan eksistensi poiitik praktis. Ironinya menjadi  pertentangan dan  pro kontra tidak  dalam intelektual  sehat.Intinya berkepnjangan tanpa ujung.
 
Intelektual sehat mengandung  titik faham makna mendalam. Disitu ada kontruksi  hakikinya  idea mendasar  berseiringan dengan kentalnya  kedaulatan.
 
Bagi yang tertarik mengamati sejarah politik partai Masyumi –era lima puluhan-- akan menemukan  hal seputar idealisme  politik.. Secara intern partai, banyak masaalah, namun masalah yang berada pada posisi inteletual yang jernih, Menariknya soal pro Amerika dan tidak ari partai Masyumi dalam politik luar negeri Indonesia yang baru merdeka. Segi idealisme dipresentasikan oleh sayap  Burhanuddin Harahap,Syafrudin Perwiranegara sementara  sayap pro Amerika  adalah Sukiman,Yusf Wibisono dan Abu Hanifah
Idealisme dasar Islam Masyumi  sangat kuat. Artinya perjuangan untuk membangun  Indonesia dengan  kedaulatan, berkemajuan dan kemakmuran sangat  jelas.Meskipun  dalam kaitan cara mencapai tujuan  terdapat variasi pandangan seperti disebutkan diatas Termasuk  politik luar negeri
 
Bisa dicatat bagaimana kedua grup itu  berargumentasi kuat dengan segenap alasnnya,Dapat dicatat Sukiman adalah intelektual penting yang  pro Amerika.. Bagi Sukiman  amat strategis untuk pro Amerika  ketimbang  nanti jatuh dibawah pengaruh Komunis yang nota bene  punya basis  dalam negeri sejak awal kemerdekaan. Sukiman melihat  bahaynyaa  faham komunis.

Secara  kategoris yang tidak pro Amerika identic dengan aliran idealis, sikap independent, kekuatan sendiri dan itu lebih  ideal. Ketimbang  Pro Amerika, baca barat, memenag di perlukan untuk pembangunan Indonesia, namun mengandung risiko. Barat adalah kaum penjajajah identic dengan  praktis atau eksistensialis.
Agaknya  dua  grup ini  beranjak dari orsinilitas faham  mencapai Indonesia .yamg kuat dan makmur.Namun yang terjadi tidak satupun grup itu mendominasi yang  lainnya. tidak sependapat namun terus seiring jalan. Sama kuatnya  Ini bukan dua nakhoda satu kapal dua tujuan. Tapi satu tujuan

Sekali lagi tidak perpecahan, Ini betul sebuah proses idealisme intelektual dengan  Imaniyah . Anti komunis dan pro Amerika sebuah  jalan, Tidak  pro Amerika tapi anti komunis  sikap  yang lain.  Ide  sama  disitu adalah Indonesia yang kuat dan bebas
Mungkin melihat kenyataannyan bahwa  estimasi yang datang dari  Sukiman memang  terjadi,Yaitu  dengan masuknya Indonesia  dibawah pengaruh komunis era Sukarno.Dengan puncaknya pemberontakan  komunis  ( Partai Komunis Indonesia). Hanya gagal. Lalu kemudian Indonesia menjadi pro Amerika di era  Soeharto. Yang kemudian membawa  persoalan hingga Soeharto pun  jatuh dari kekuasaan. Kejatuhan  Soeharto karena keterkaitan sikapnya yang pro Amerika 
Singkat kata ini  orsinil Masyumi. Yaitu anti komunis  tanpa pro Amerika.Inilah bentuk  politik identitas yang  ditunjukkan Masyumi. Tetap kokoh dalam Politik identitas  berkedaulatan.

Dalam kaitan ini  penulis pernah  mendapat keterangan bahwa  pernah rapat pleno membahas apakah  akan pro Amerika  atau independent.Rapat berlansung satu hari satu malam akhirnya dengan voting suara. Hasilnya fifti fifti yang setuju sama dengan yang tidak setuju.Kesimpulan anti komunis dan tidak pro Amerika.

Saya kira  harus kita lihat  dari  dari  idelaisme. Sehingga  politik identitiy itu tidak diluluhkan kedalam  makna sempit.seperti sekarang ini , yakni pecah belah. Melainkan dalam mengejawantahkan  idealisme ledaulatan. Nilai  idealisme  yang membedakan dengan  idelisdme  yang lain.

Akhirnya politik identitas tidak perlu ditakuti.Bahkan lebih dari itu politik identitas  justru  dapat menjadi acuan politik kebangsaan kedepan. Karena  berbasis  nilai,kedualatan dan berkelanjutan. Wallahu aklam bissawab

Jakarta 8 Juni 2019

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)