Beranda » PROFIL » Hamka Sosok Sastrawan Islam Terkemuka

Rabu, 08 Mei 2019 - 14:17:02 WIB
Hamka Sosok Sastrawan Islam Terkemuka
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: PROFIL - Dibaca: 405 kali

Bincang Bincang Sosok Satrawan Islam: Karya Hamka Multi Dimensi (www.linguistikid.com)

 

Jakarta, Melayutoday.com, Hamka atau Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir di Agam, Padang, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, wafat di Jakarta, 24 Juli 1981. Nama Hamka telah lama dikenal sebagai Ulama dan salah satu sastrawan muslim terkemuka Indonesia. Salah satu karyanya yang populer adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang sempat sukses difilmkan pada tahun 2013 lalu.

Sebagai seorang sastrawan, pemikiran-pemikiran Hamka tak bisa dilepaskan oleh agama Islam yang melekat pada dirinya. Perjalanan Buya Hamka, begitu sapaan akrabnya, sangat fenomenal dan egalitarian di mata umat. Pada Februari 1927, Hamka pergi ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus untuk mendalami agama Islam.

Ia sempat menjadi Ketua Muhammadiyah cabang Padang Panjang dan Sumatera Barat. Pada tahun 1953, Hamka bahkan terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah (pusat). Setelah itu, ia selalu terpilih sebagai ketua sampai tahun 1971.

 

Beberapa daftar buku dan novel yang ditulisnya antara lain: Khatibul Ummah (ditulis dalam bahasa Arab), Pembela Islam (sejarah Abu Bakar as Shiddiq), Di Bawah Lindungan Ka’bah (1937), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1940), Merantau ke Deli (1940), Tafsir Al-Azhar dan lain-lain.

Hamka merupakan sastrawan Angkatan Balai Pustaka. Pada masa itu hampir semua karya sastra diterbitkan oleh Balai Pustaka. Sastrawan lain pada masa itu misalnya Muhammad Yamin, Marah Rusli, Merari Siregar, dan Nur Sutan Iskandar. Ciri-ciri kesusastraan pada Angkatan Balai Pustaka yaitu bertemakan adat dan kawin paksa; bersifat romantis didaktis; dan bersifat propinsialistis. Novel Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’Bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menjadi dua novel yang cukup populer. Kisah percintaan memang bisa menarik banyak pembaca walaupun Hamka juga memasukkan nilai nilai.atau unsur Islam di dalam novelnya.

Novel-novel Hamka juga bercerita tentang beberapa tempat yang memang pernah ia kunjungi. Hamka yang berasal dari Sumatera memang merantau ke Jawa dan akhirnya berkarir di Jawa. Menulis sebuah roman seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bagi seorang ulama bukanlah hal yang lazim dilakukan. Hamka juga menyadari akan hal itu. Ia mengungkapkan bahwa ia mendapatkan tantangan yang keras dari kalangan agamawan. Namun seiring berjalannya waktu, tantangan tersebut memudar dan orang-orang bisa mengerti bahwa roman juga bagian dari kesenian dan keindahan yang perlu didalami dalam hidup manusia.

Selain menulis tentang roman dan buku agama, Hamka juga pernah menulis tentang sejarah Indonesia dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama”. Di dalam buku tersebut Hamka menceritakan tentang sejarah Indonesia, tokoh-tokoh sejarah, dan juga peranan Islam di Indonesia. “Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi; kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak.” – Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. ( Sumber: www.linguistikid.com).


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)