Beranda » Nasiional » BPN Ingatkan Masyarakat Jangan Jadi Korban Hoax Survei

Senin, 25 Maret 2019 - 14:26:46 WIB
BPN Ingatkan Masyarakat Jangan Jadi Korban Hoax Survei
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Nasiional - Dibaca: 359 kali

BPN Ingatkan Masyarakat Jangan Jadi Korban Hoax Survei 

Jakarta, Melayutoday.com,-Menyikapi hasil rilis lembaga survei, Rumah Demokrasi, BPN ( Badan Pemenangan Nasional) Prabowo Sandi,  Rizaldi Pambodo, menanggapi dengan senyuman.  BPN memiliki data survei interal yang reperesentatif dan valid, hasilnya sangat menggemberikan. 

“Karenanya kami di BPN sering senyum-senyum sendiri kalo melihat hasil survei yang dirilis belakangan ini”. Ujar Rizaldi dalam acara diskusi publik ‘Migrasi Suara Pilpres 2019, Hasil Survei vs Realitas’. Di Gado-Gado Boplo Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2019).

Hadir dalam diskusi Prof. Firman Noor, Kepala Pusat Penelitian Plitik LIPI, Ramdansyah Direktur Rumah Dmeokrasi, Aisiyah Putri (Peneliti LIPI).
 
Rizaldi mengatkan bahwa BPN Prabowo-Sandi merasakan  memang ada fenomena migrasi suara yang terjadi. Fenomena ini lebih spesifik kami sebut sebagai “hijrah suara”. Istilah “hijrah” digunakan karena  perpindahan dari yang tidak baik menuju ke yang lebih baik.

Fenomena hijrah suara ini dapat dirasakan dari kegiatan kampanye paslon 02.

Setiap kegiatan kunjungan yang dilakukan oleh capres maupun cawapres 02 dimanapun selalu membludak. Animo masyarakat menyambut capres maupun cawapres 02 begitu luar biasa. 
Kegiatan yang diadakan di dalam gedung dihadiri massa pendukung yang meluber ke halaman gedung hingga ke jalan-jalan. Jarak yang hanya puluhan meter harus ditempuh oleh mobil capres 02 selama 30 menit hingga satu jam karena “kepungan” ribuan pendukung yang ingin sekedar menyapa dan bersalaman dengan pemimpin mereka.

Pemandangan lautan massa pendukung 02 ini seolah menjadi pemandangan “monoton” yang selalu terjadi pada setiap kegiatan kampanye paslon 02. Kasarnya, tanpa dilaksanakan survey pun memang terasa ada fenomena hijrah suara.

Sebagai sebuah badan pemenangan, tambah Rizaldi,  BPN Prabowo-Sandi mempunyai mekanisme survey internal. Survey dilaksanakan secara bekala untuk mengetahui progres dan efektivitas kampanye. Survey internal ini terbatas dan tidak dipublikasikan keluar. 

Karena itulah, ketika membaca hasil-hasil survey yang dipublikasikan, tentu kami dapat membandingkan hasil-hasil survey tersebut dengan hasil survey internal BPN. 

"Pak Prabowo bahkan pernah menyatakan dalam pidatonya bahwa survey internal lebih valid daripada survey-survey yang dirilis oleh lembaga-lembaga survey,"ujar Rizaldi.

Dari beberapa kali pilkada terakhir,  seringkali hasil perhitungan suara berbeda jauh dengan hasil survey yang dirilis hanya beberapa hari sebelumnya, diantaranya:
Hoax Rlis Survei
Perbedaan yang cukup jauh antara hasil survey dengan hasil perhitungan suara dapat memberikan indikasi bahwa survey tidak dilaksanakan dengan metode yang benar. 

Selain itu, dalam berbagai pemberitaan yang lain juga dapat dilihat bahwa ada kejanggalan dalam penyampaian hasil quick count oleh lembaga-lembaga survey.

Rizaldi juga membongkar bagimana modus modus kecurangan rilis survei seperti yang terjadi kasus di Pilkada DKI Jakarta, Pikada Jateng, dan Pilkada Jabar. Ia mencontohkan kasus penetapan margin of error dari quick count yang dilakukan lembaga-lembaga survei dimana menetapkan angka 1% sementara sampelnya hanya 400 TPS.. 

"Hal ini merupakan suatu kejanggalan. Dengan populasi TPS di Jawa Barat yang berjumlah 74.942 TPS, jika kita ingin mendapatkan hasil dengan 99% confidence level dan 1% margin of error, maka dibutuhkan 13.618 TPS sebagai sampelnya. 

Jumlah TPS yang dijadikan sampel bagi lembaga-lembaga survei tersebut hanya berkisar antara 300-600 TPS. Untuk 99% confidence level, jumlah sampel 300 TPS artinya margin of error akan berada pada angka 7%, dan sampel 600 TPS artinya margin of error nya 5%. ," sambung Rizaldi serius.

Hal ini menurutnya, ada dua kemungkinan: ada kekeliruan dalam pemberitaan, atau memang publik sengaja diarahkan dengan info yang menyesatkan atau Hoax oleh lembaga-lembaga survey tersebut dengan tujuan tertentu.

"Dari beberapa kesalahan lembaga-lembaga survey itulah, kami menghimbau kepada seluruh rakyat Indonesia agar berhati-hati dalam mempercayai hasil-hasil survey yang dirilis. Jangan sampai kita menjadi korban hoax yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.  Publik juga harus lebih kritis. Jika misalnya terbukti suatu lembaga survey dengan sengaja menyebarkan kebohongan atau hoax, kita tidak boleh diam saja," tegasnya. ( M. Harun ).

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)