Beranda » Hukum » Ada apa Dibalik Keengganan Bereaksi Presiden Jokowi Isu Pengadilan Ahok ?

Senin, 04 Februari 2019 - 21:30:17 WIB
Ada apa Dibalik Keengganan Bereaksi Presiden Jokowi Isu Pengadilan Ahok ?
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Hukum - Dibaca: 240 kali

Oleh Dr Mas ud HMN*)

Adanya keengananan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanggapi persoalan isu pelecehan  KH Mahruf Amin di Pengadilan Ahok selasa  31/1 lalu, mengherankan.Kenapa  gerangan demikian ? Apa dibalik keegganan  Jokowi terhadap isu Pengadilan  Ahok. Mungkinkah ini bagi Jokowi persoalan dianggap  sepele, alias tidak penting  dan tidak apa apanya.

Pernyataan  sepele dan tidak penting itu adalah dengan mengelak sebagai bukan urusan dirinya. Lalu mengalihkan kepada  pengadilan. Seperti dinyatakam  Presiden Jokowi bahwa itukan urusan  isu pengadilan dan bicara itu pengacara Ahok dan pak Ahok.

Sementara, dalam pandangan awam isu tersebut bukan begitu. Isu tentang pengadilan serius. Termasuk  pernyataan Bambang Susilo Yudhono (SBY) mantan Presiden RI ke 6 berpendapat begitu.Soal yang  serius.

Dalam minggu ini semua media  meliput persoalan itu,dan belum ada ada tandingannya dengan isu lain. Bayangkan mantan Presiden RI  SBY mengeluarkan pernyantaan dua kali, karena merasa dirinya  dibawa kedalam isu tersebut. Bagi SBY  sangat serius.

Bahkan  SBY merasa perlu untuk lansung  bertemu dengan Presiden Jokowi, agar  menjadi jelas, dan agar tidak saling salah faham  juga tidak saling mencurigai,seperti disiarkan  Televisi  TV One, 2/2. Pokok masaalahnya  adaalah  Mahruf Amin  pernah  ditelpon SBY minta agar anaknya  yang jadi pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Agus Haris dan Sylvi  didukung oleh warga NU

Termasuk juga mendorong KH Mahruf Amin sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan  fatwa.Dengan  alasan   bahwa  Ahok  telah melakukan  penistaan terhadap agama Islam dalam satu acar  di pulau seribu Jakarta. Hal ini dipandang sebagai berdampak mempersulitkan Ahok sebagai calon Pilgub DKI bulan Februari 2017 ini.

Singkat kata KH  Mahruf Amin telah dicecer pertnyaan oleh pengacara Ahok, dihadapan Majlis Hakim pengadilan negeri selam 7 jam. Yaitu pertranyaan berkisar benarkah ada komunikasi  KH Mahruf Amin dengasn SBY tentang fatwa MI dan dukungan kepada  Agus Silvi. Ketika jawababan KH Mahrauf Amin tidak benar, pengacara ngotot dengan mengulang pertanyaan yang sama  sampai tiga kali.

Artinya pengacara tetap tidak mau menerima  kebenaran jawaban KH Mahruf Amin dan mengingatkan kata bohong dalam keteranganya. Yang diancam dengan mengadukan  kepada pihak berwenang untuk mengusut lebih lanjut. Kata kebohongan , ini kemudian menjadi persoalan lain. Ahok dan pengacaranya telah menciptakan kerusuhan baru dengan kata kebohongan dari jawaban Kh Mahrus Amin.

Singkat kata, pembentangan diatas  menyimpulkan terdapat  3 masalah , yaitu (1) ada ucapan Ahok dan pengacaranya di Pengadilan,(2)  melibatkan SBY dan Mahruf Amin dalam fatwa MUI dan (3) muncul ketersinggungan publik . Persoalannya  merupakan rangkaian sukar dipisahkan satu dengan yang lain. Besaran persoalan inilah yang nampaknya mau  tidak mau  melibatkan  Presiden Jokowi.

Intinya dua masalah adalah soal  isu pengadilan yaitu tentang kesaksian KH Mahruf Amin tentang fatwa MUI dan  komunikasi dengan SBY. Persoalan ini jelas namun perlu ditegaskan. Tetaspi soal ketiga ketersinggungan publik warga  NU dan masyrakat Islam lainnya ini serius. Ini menjadi pemicu persoalan, yaitu Ahok dan pengacara Ahok memeng mencari fasal konflik dengan pihak warga NU dan kelompok Islam lainnya. Yaitu mereka tersinggung  lantaran menghina dan menyepelekan KH Mahruf Amin  yang nota bene tokoh ulama dan Ketua MUI.

Perlu disadari  lidah boleh berbicara. Tapi bicara yang meretakkan hati dan perasaan umat  Islam mestu dipertnggungjawabkan dan  tak mungkin ditutup tutupi.

Terhadap  pertanyaan mengapa  Presiden Jokowi enggan menanggapi persoalan isu persidangan Ahok tersebut, kita  coba mencari menjawab sebagai berikut

Pertama, aspek penghindaran (avoidness) persoalan Ahok. Agar tidak  menjadi beban Presiden Jokowi dan jajarannya.

Kedua, persoalan  Ahok  adalah kendala yang akan  dijadikan  peluang (blessing indiguss).Dapat  memukul lawan politik, agar dapat mudah mepersiapkan diri  jadi Capres 2019 yang tidak berapa lama lagi. Misalnya dengan mengangkat isu intoleransi yang harus dilawan dengan isu bhinneka tunggalika.Melabelkan isu ideologi inclusif, untuk dilawan. Semua ini adalah isu yang bila diteruskan akan memenangkan atau menguntunghkan  posisi  Jokowi dan  jajarannya.

Ketiga,logika simbolik.Jika A sama dengan B dan B sama dengan C maka A sama dengan C. Siapa yang berkawan dengan musuh maka ia adalah musuh juga.

Kebijakan dengan teori logika simbolik  ini bagi  Jokowi dalam rangka membela  groupnya, ia harus menjauh dari  orang yang menentang terhadap dia dan grupnya.Tujuannya untuk saling merapatkan barisan.Denga kata lain pihak yang  non PDIP group harus diabaikan.Termasuk bertemu  dengan SBY dan umat Islam tidak yang  mendukung.

Dalam persfektif itulah kita dapat memandang  sikap Jokowi yang enggan bereaksi.  Tentu saja ini dengan sengaja. Mungkin untuk meperkecil ruang ( skop) , meminimalkan bobot isu yang datang.

Meskipun kita tahu juga bahwa Jokowi faham. Keadaan sesungguhnya yaitu banyak pihak yang tidak mendukung  jika kembali menjadi calon Presiden nanti. Itu diabaikan  sementara, dengan mengokohkan lebih dahulu  pembelaannya kepada Ahok dan grupnya.

Ini adalah dugaan berdasar  relaitas yang ada.Apa sesungguhnya kita tidak tahu.Yang tahu tentu Presiden Jokowi sendiri.

Seperti tergambarkan dalam ucapan Jokowi, yang mengabaikan untuk menanggapi serius isu pengacara Ahok yang menekan dan mencecer KH Maaruf Amin  di sidang pengadilan. “itu isu pengadilan tanyakan kesana. Tanyakan. Yang bicara tanyakan dibawa ke saya. Yang bicara  itu isu  pengadilan” kata  Jokowi ( Kedaulatan  Rakayat Jogyakarta,3/2)

*)Penulis adalah Dosen  Pasca sarjana  Universitas  Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)