Beranda » Budaya » Puisi Ekologi Sufistik

Senin, 04 Februari 2019 - 21:27:34 WIB
Puisi Ekologi Sufistik
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Budaya - Dibaca: 664 kali

Oleh Dr Mas ud HMN*)

Jika ceramah tidak lagi mampu memberi pesan yang kuat untuk perubahan  sikap dalam menjaga lingkungan, tentu harus dicarikan media altenative lain.. Mungkinkah puisi sebagai pengganti ?. Terutaama puisi bermuatan ekologi sekaligus  sufistik.Agaknya pantas untuk dipercakapkan. 

Sembilan Agustus 2016 lalu penulis diundang  menghadiri sebuah acara budaya yang jarang penulis temui.Sebab penulis bukan budayawan, bukan pengamat budaya. Apa lagi kritikus sastera.

Namun penulis  merasa beruntung dapat pencerahan atas kegiatan  ini.Lagi pula  ditaja dengan mengambil tempat pada sebuah Cafe di kawasan Arenka ,Pekanbaru Barat. tempat yang seronok. Membawa  kesan  yang intens serta religius. Dihadiri sekitar 70 orang sebagaian besar belum saya kenal.

Mereka budayawan, intelaktual, bisnismen yang potensial.  Pengusung  aktivitas  ini dibawah sponsor  sebuah  kelompok  bernama  Kelompok Bercakaplah.

Pemimpin dan sekaligus  tuan rumah tidak kepalang tanggung   adalah Dheni Kurnia, Yang melekat  pada sosoknya  wartawan senior.Ia sebagai kuli tinta dan leader pada  Halauan Riau group yang juga Ketua umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau.

Dheni Kurnia memperkenalkan saya, kemudian memberi sambutan singkat, bahwa  temu budaya itu merupakan ulang tahun kedua yang disejalankan dengan peringatan ulang tahun propvisni Riau ke 59,( 9 agustus  1958-9 Agustus 2016)

Acara  berlanjut dengan baca puisi. Salah satu puisi yang di Sampaikan dari  Menteri Kehutann RI Siti Nurbaya. Ia mengirim puisi dengan mengutus stafnya

Puisinya berdurasi delapan menit waktu baca.Isinya pesan berrmakna dalam wawasan kemanusiaan. Temanya adalah   mengangkat puisi  ecologi sufiistik ,

Inti soal ada pada realitas pejabat dan  masyrakat , tiada peduli  menjaga  lingkungan alam  Akhirnya kebakaran dan asaplah hasilnya Awalnya yang menyentakkan nurani warga kota Lancang kuning itu 

Saya  kutip sebagian penggalan awal,

Riau mu, Riauku juga  Rusak hutanmu kini aku berduka,.

Mana hutanmu, mana tanah mu, mana sungaimu.

Bumi  dan hutanmu terbakar, asap menderamu

Adakah kesadaran kita kurnia Allah harus kita jaga.

Demikian kata yang saya tangkap dari pembacaann puisi Menteri Kehutana  RI tersebut.

Tentu cakap ini tidak lancung, munafik, bohong  atau meng ada ada. Suara yang tak akan hilang  dipupus ributnya angin. Ia adalah suara ombak persada kuasa.

Mungkin Ibu Menteri Kehutanan ingin membangkitkan elan kemanusiaan  hakiki, Power luar biasa melawan  kebusukan. Kedurjanaan, kebejatan yang rakus.

Ini bersambung rasa dengan perasaan banyak orang Riau  yang tidak berdaya ditengah gelombang moderniasasi.Hutan milik siapa kini. Adakah mereka  datang dari sisi pemukim dengan  pencinta sejati negeri ini. Atau mereka hendak mengeruk laba sahaja, bukan menghitung  kerugian dan malapetaka bagi orang lain

Dalam  pandangan saya, ini benar. Intinya, bahwa memang harus disadari, kekuatan cakap ada dalam orasi dan pusisi.Semua itu termaktuf dalam bercakaplah.Bercakaplah tentang hutan tentang bumi dan ketaqwaan.

“Bepuisilah dengan seni, dan bercakaplah dengan nada sufi” Kata Afres Abeba penyair Riau terkekenal itu kepadaq saya. Sebab bagi enyair yang tahun lalu baca puisi di Meksixo, ini puisi adalah kata. Kekeuatannya  pada sufi, kadar  ketaqwaan dan kemanusiaan

Senada dengan  Aris Abeba, Dheni Kurnia Ketua Persatuan Wartawan Riau, yang juga wartwan malang melintang di Jakarta  era 80-an pada  malam itu, berkata tugas kita adalah membawa orang  supaya mau bercakap. Yang artinya  kebebasan berekpressi, mernyatakan pendapat.

Tentu saja kata dia. bercakap yang membawa makna kemajuan. Bercakap yang bermutu. Yang berazas demi berkemajuan.

Taufik Ismail yang mengatakan kemanusiaan itu adalah kehidupan. Pada  harusnya kehidupan itu menuju kekekalan. Demikian Taufik Ismail dalam sebuah perbincangan di layar  stasiun TVRI Ramadhan  lalu.

Karena itu Taufik menolak arti akhirat  adalah  akhir atau penghujung. Bagi Taufik, akhirat itu kekelan. Maka  doa hasanah fil akhirah, adalah permintaan untuk mendapatkan  hasanah yang berkekalan.

Ini pesan moral . ini orasi  atau kata . Jika  dirangkai dapat menjadi puisi.

Mungkin tiba masanya, puisi dapat berperan mengisi perubahan pada ceruk sebagian simpulan masalah  lingkungan alam .Agar menjandikan nurani masyrakat Riau khusunya, berubah  menjadi masyrakat yang menjaga lingkungan

Ajaran Islam  yang mnenyatakan terjadinya  kerusakan  dibumi adalah karena tangan manusia. adalah indikasi  banyaknya tangan perusak lingkungan alam. Kita harus mengaalangi, kita harus mencegah tangan warga bangsa  ini agar tak berbuat kerusakan.

Penulis: Ketua Umum Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM).

 


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)