Beranda » Opini » Label Radikalisme Kampus ?

Senin, 04 Juni 2018 - 13:32:05 WIB
Label Radikalisme Kampus ?
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 50 kali

Oleh Dr Mas ud HMN*)

Melihat tendensi  pemikiran Radikalisme di dunia  Perguruan Tinggi telah menimbulkan resah dilingkungan public. Kini pembicaraan menjadi debatebel sebab  ada  yang menyatakan pembolehan  terhadap pemikiran radikal berkembang. Bahkan sampai ada yang menerima pendapat  cara  perjuangan kelompok radikal dengan bom bunuh diri.Sementara kalangan  lain  menolak cara bunuh diri dalam perjuangan apapun,

Tidak terlalu  sulit untuk mengatakan bila dikaitkan untuk menuju kepada tujuan jalan terhalang,atau  tertumbuk buntu, macet dan sebagainya orang mencari jalan lain, Maka jalan  radikal adalah tawaran mengatasi untuk mengatasi persoalan. Soal setuju dan  tidak setuju adalah persoalan berikutnya.

Hanya sejauh ini,soal radikal itu entah mengapa selalu saja dituduhkan pada umat Islam.Lalu aroma  radikal itu  apa-apanya selau pada  kelompok Islam Entah di Perguruan  Islam maupun kampus umum.Jadi dapat dikatakan yang mendapat “bala” dari urusan radikal ini. Mengapa tidak kalangan lain. Padahal radikal itu merambah kemana mana saja dan kalangan manapun terlibat didalamnya

Bala, atau masalah  radikal itu memang mudah  untuk diarahkan kepada umat Islam mengingat dunia Islam sedang ada dalam pusaran  masalah radikal itu. Sehingga dengan menyebut Syria, Afghanistan saja telah dapat mengkaitkan  radikal dengan  umat Islam,.Ini adalah tuduhan yang mengeneralisasikan

Sungguhpun, mungkin ada yang terlibat dengan kelompok tidak tepat juga menarik kesimpulan serupa itu.Mungkin  yang lebih dekat atau sejalan dengan arus  radikal itu adalah  kelompok  anak muda, yang ada  di lembaga Perguruan Tinggi Dengan meminjam data sumber Republika disebutkan  hampir semua Perguruan Tinggi baik swasta atau PTN terlibat pada paham  radikalisme.( Republika 31 Mei 2018 hal.9)

Keterangan lebih lanjut dari  lembaga  Centre  for study of Religion and Culture (CSRC)dibawah  BNPT menyatakan bahwa  PTN dan PTS yang paling rentan adalah program studi eksakta dan kedokteran amat berpotensi  bagi infiltrasi dan penyebaran paham radikalisme.Artinya kampus memang telah dimasuki faham radikal terutama yang berada dalam program studi eksakta dan kedokteran.Tegasnya bukan pada kelompok  prodi agama Islam.

Mengapa ini terjadi ini tentu sebuah persoalan perlu dijawab.Bagaimana memahami berkembangnya  paham radikal ini mungkin dapat dipahami dari persfektif berikut .

Pertama. konsep  penyebaran  daun kering.Kondisi masyrakat yang dalam kesulitan ekonomi, dan tidak tegaknnya hukum membuat ketidak senanganya masyrakat pada pemerintah yang berkuasa.Kondisi ekonomi, politik itu ibarat daun kering mudah terbakar. Apalagi menyebarnya kesulitan tersebut menjadi lahan subur untuk faham radikal, Rasa tidak puas menjadi landasannya

Karena itu berbicara  radikalisme, tidak bisa dilepaskan dari kondisi tak puas dengan pemerintah.Semakin tidak puas rakyat pada suatu  pemerintahan radikal akan selalu ada.Sebaliknya jika  pemerintah didukung rakyat maka kelompok radikal akan hilang. dengan sendirinya,

Kedua,factor trannasional. Radikalisme masuk  bersumber gerakan luar secara global. Ini merupakan gejala trannasional yang  tidak dibatasi wilayah lagi, Tapi sudah meluas tanpa batas.Oleh karena itu dunia juga harus damai.Karena kalau tidak dapat menjadi tempat bagi berkembangnya kaum radikal tersebut,

Kita dapat membayangkan sebagai missal Negara Turki yang terletak berbatasan dengsan Syria. Jika  konflik  berketerusan sudah pasti Turki tidak bias aman. Penyusupan dari Negara  Syria tentu akan terjadi.Jadi masyrakat internasional harus secara bersama menghadapinya

Dari dua butir bahasan diatas radikal tidak sederhana,Masalahnya berkaitan dengan macam factor.Tidak dapat dilihat dari persfektif paham saja, tapi juga masalah factor lain, Yaitu  soal politik, soal kondisi yang mendukung dan soal pengaruh dari bagian wilayah lain.

Diatas semua itu radikal jika dipahami secara intrelektual dalam arti pengembangan keilmuan maka  sah dan baik baik saja. Tapi jika dipahami, pemahaman untuk pemaksaan  kehendak politik  maka  menjadi berbaya..Cara demikan berarti politisasi faham radfikal.

Perguruan tinggi kita adalah lahan berpotensi terbawa politisasi faham radikal seperti  yang muncul didunia  Arab sekarang ini,.Kewajiban kita bukan memusnahkan faham radikal, karena  ini adalah bagian bidang keilmuan atau  intelektualisme. Yakni mengawal radikal agar tidak terbawa kepada aliran politisasi pemkiran radikal. Yang memaksakan kehendak demi memperoleh kekuasaan

Rasanya, amat penting kita ingatkan  - terutama kampus mahasiswa Islam-- adanya  Perguruan Tinggi dimana  bertekun dan diisi dengan kaum muda agar mereka mengikuti keilmuan yang benar. Jangan sampai menjadi agen dan perpanjangan pengaruh paham yang tidak bertanggung jawab, Kalau intelektual demikian yang terjadi akan menjadi insan tidak bertanggung jawab dan hilang segi academicnya. Nauzubillah minzalik

Jakarta,1 Juni 2018

*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta   

 


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)