Beranda » Budaya » Mencari Tamaddun Baru

Selasa, 20 November 2018 - 19:49:45 WIB
Mencari Tamaddun Baru
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Budaya - Dibaca: 33 kali

Oleh Dr. Mas ud HMN, Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu Jakarta

Dengan indikasi kesempatan ekonomi bebas, serta system kekuasaan adil dapat  menjadi acuan dari  tingkat pengubah tamaddun (peradaban) dari sebuah negeri. Bila ini terjadi ekonomi yang bebas dibawah  pemerintah yang adil, agaknya  merupakan  sesuatu yang ideal .Sebuah inspirasi kearah Tamaddun baru dapat diwujudkan dengan system pemerintahan yang adil dan kesempatan ekonomi yang bebas. Inilah intinya atau teras idealisme yang dibutuhkan.

 Atau dengan kata lain diperkuatnya Takrif Tamaddun baru, yang mengedukasi  berlakunya suatu ekonomi yang bebas dan maju yang diringi dengan kawalan system kekuasaan  yang adil. Hal ini menjadi perlu dan relevant. Mengingat tiada menentunya  tatanan dunia kini terutama dinegeri  Muslim, akan membawa problem panjang.

Dalam kaitan ini menarik untuk memahami publikasi Berkley dalam study Global Economic Journal, Volume 10, 2010 tentang policy di negeri Muslim. Seperti dikutip Bachtiar Effendy (2011) dari kajian tersebut, bahwa ternyata memang  ada prinsip yang kuat atas pandangan Islam dari ajarannya, Entah dalam sistem kekuasaan dan ekonomi itu berbeda  dari Agama  yang lain.  

Namun, studi itu mengkritik subtansi ajarannya tidak terwujudkan, Padahal di  negeri Muslim apa yang menjadi symbol atau label ajarannya tidak dapat diukur, tidak cukup kondusif mengarahkan apa esensi ajaran Islam tersebut .

“Most self declared and labelled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance with Islamic  teaching at least  when it comes  to economic, financial, political, legal, social and governance policies”

(Sangatlah nyata bahwa  pernyataan  dan  wujudnya Islam dinegeri muslim tidak menpengaruhi ajaran nyata dalam  ekonomi, politik, hukum serta kebijakan soial pada umumnya).

Maka oleh karena itu antara label dan pelaksanaan belum selaras, perlu diketahui faktor yang ada yang berkaitan dalam hal ini perlu dijelaskan, kemudian diarahkan.

Pandangan Islam tentang economi mensyaratkan keadilan dengan keharusan tidak boleh  kapital  beredar dikalangan tertenu saja. Melainkan harus beredar disircle pasar perbelanjaan. Boleh dikatakan pendapatan atau faktor modal harus menjadi unsur tersebar di pasar perbelanjaan.

Artinya pasar perbelanjaan menjadi hidup dan begerak. Pada gilirannya mendorong pertumbuhan kearah  yan lebih baik. Bila pasar macet oleh karena pemilik uang menahan uangnnya, implikasinya akan luas.

Persoalan berikutnya adalah keadilan dalam kesempatan bekerja.

Inspirasi yang demikian itulah dijadikan kebisaaan, tradisi umat Islam untuk selalu  berbelanja dari  uang yang dimilikinya. Sebab, dengan  kebiasaan atau tradisi  berbelanja, membeli keperluan barang dan jasa yang diperlukan, membuat market bergerak, revolving essence market. Yang pada giliranya menjadikan ekonomi bertumbuh, dan berkembang.

Biasanya kurang disadari bagi banyak orang, jika dia tidak  berbelanja, maka pasar tidak bergerak, dan pelaku pasar  menjadi sepi. Cenderung macet, stagnant, yang  dapat membawa implikasi ekonomi yang banyak. Karena itu maka sesuai dengan pembangunan ekonomi, unsur pemerintah yang  mempunyai dana harus memberi perhatian yang cukup. Yaitu membelanjakan dana yang ada dalam rangka menmggerakkan sector ekonomi.

Akhirnya,  satu tamaddun ekonomi baru perlu diwujudkan, Ekonomi yang berkeadilan dan Revolving  market yang bergerak terus menerus. Hal itu haruslah  mencerminkan dua hal:

Pertama, pelaksasnaan ekonomi yang adil dan bertumbuh. Ini mengharuskan ada terbangunnya ekonomi itu sendiri. Yaitu pendapatan harus meningkat. Ini berangkat dari  pandangan Islam  harus lebih  baik dari  hari kemaren. Inilah prinsip progress.

Kedua, ekonomi perbelanjaan. Dana  yang ada sejauh keperluan, mestilah dibelanjakan. Tujuannya agar esensi dana tidak mandek ditempat tertentu. Juga untuk memastikan dorongan untuk sector pegerakan market. Ini menghidari ekonomi stagnant, berhenti, dan macet.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)