Beranda » Opini » Inovasi Realitas Studi Filsafat Kemuhammadiyahan

Senin, 12 November 2018 - 20:26:14 WIB
Inovasi Realitas Studi Filsafat Kemuhammadiyahan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 65 kali

Oleh DR. Mas ud HMN*)

GAGASAN ini sebagai bagian mengurai kebenaran filosofis gerakan Muhammadiyah. Karema itu, inovasi realitas dapat dikatakan sebagai ciri atau perbedaan daripada kajian filsafat yang ada dalam pendekatan umum. Karena pendekatan umum selalu dimulai urutan dari aspek apa, wujud (ontologies), urutan tapak intelektual, metodologi (epistomologis), dan urutan aksiologis (nilai, tujuan). Sementara, pada pendekatan pemikiran KH Ahmad Dahlan, intinya lebih mengutamakan pada pendekatan aksiologis, sebagai hal yang pertama dan utama. Menyusul kemudian aspek ontologies dan epistomologis. 

Bagi yang suka mempelajari secara serius tentang Muhammadiyah,  mungkin akan mempertanyakan apa model alam  pemikiran  Filsafat Muhamadiyah, Kontruksi Pemikiran  KHA Dahlan. Terutama dalam praktek.  Bagaimana memberikan respon teologis serta  intelektual  pada  masalah umat  yang dihadapi, Misalnya masalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya

Terhadap hal ini Kontruksi pemikiran filsafat Kemuhammadiyahan bukan dimulai dari pembelajaran teori, konsep, tetapi dari  inovasi dalam merespon realitas. Mengingat KH Ahmad Dahlan hanya memulai sekilas  tentang pembelajaran dengan masalah anak yatim dan fakir miskin. Dalam hal ini realitas jadi soal utama pendekatan yang dipakai, daripada mendahulukan  pemikiran atau konsep. Lazimnya awal untuk memulai sesuatu dari apa, wujud. Tetapi berbeda pendekatan dilakukan dengan pendekatan aksiologis, dalam arti  realitas apa yang diperlukan terhadap objek kajian.

Yang serius  itu adalah pada realitas  memberi makan  orang miskin dan anak yatim. Tamu miskin, beri makan orang miskin,  sebuah objek, lalu,  itulah dilakukan pertama tama. Hal itu yang dilakukan Ahmad Dahlan. Sekali lagi mendahulukan realitas.

Hal yang sama terjadi juga dalam konsep  bidang kesehatan,dengan mencari orang yang sakit untuk dibantu pengobatannya. Barulah kemudian didirikan lembaga pengobatan klinik; Yang pada kenyataan kini rumah sakit Muhammmadiyah menjadi andalan penting bagai masyarakat luas dalam membantu program kesehatan umat.

Karena itu maka filsafat Muhammadiyah itu adalah filsafat terapan, atau aksiologis.Ini jika ditimbang dari kontruksi kajian KH Ahmad  Dahlan membawa filsafat kedalam pemikiran yang  serius  dan mendalam pada inovasi realitas.

Berangkat dari paparan diatas  filsafat Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, dalam bidang dakwah,bidang  social, tidak bisa dilepaskan dari  kontruksi  inovasi realitas  dimaksud. Sehingga  pemikiran filsafat dalam Kemuhammadiyahan adalah merupakan bagian dari solusi masalah.

Hanya saja, ulasan  semacam ini mungkin belum banyak di kaji, termasuk dalam kuliah di Pergurauan Tinggi Muhammmadiyah, Para pemikir  filsafat memang beragam dalam  mengambil posisi  terhadap  studi filsafat pada umumnya.

Jika filsafat sebagai respon terhadap relitas, ini  merupakan telaah  pada  bagian esensi filsafat  aksiologi, Yakni sebuah telaah adalah sesuatu benar, benar jika secara aksiologis berfungsi dalam kehidupan manusia. Dengan meminjam pandangan Imanuel Kant, kebenaran itu adalah bagian fungsi nilai. Yaitu  kebenaran moral atau moral conduct.

Kalau memberi makan anak yatim,dalam realitas KHA Dahlan maka langkahnya memberi makan. Nilai moral ada disitu. Bersama Praktek dan lansung. Kontruksi tentang pemikiran kemiskinan, setelah dilaksanakan  barulah dicari,  Mana ayat ayat  Al Qur an tentang kemiskinan, Inilah kemudian dikemas dielaborasi, menjadi pandangan ideology  Muhammadiyah dalam mengatasi  masalah kemiskinan.

Implikasi dari pandangan ini sangat significant dan efisien  dalam  kenyataannya. Gaya kerja  Muhammadiyah lansung bergerak pada  inti masalah, menanganinya, mengaturnya. Barulah kemudian disusulkan dengan kajian hakikat masalah atau pokok persoalan teori pendukung , serta  pola strategi pelaksanaannya.

Disamping  itu, dengan respon  cepat  pada realitas, maka terjadi ketepatan dalam  menanggapi persoalan .Menjadi tindakan yang tepat guna dan relevant.Terbukti dengan  sekolah  dan  klinik Muhammadiyah di pedesaan, meski fasilitas yang sederhana  tapi langsung dapat berfungsi mengatasi  soala pendidikan dan kesehatan.

Penulis berpandangan, bahwa pemikiran filsafat Muhammadiyah dari kontruksi  cara K H.Ahmad Dahlan  adalah inovasi realitas. Agaknya persoalan  pendekatan Muhammadiyah dalam gaya demikian patut  dikaji  mendalam. Mengingat hal ini akan membangun sebuah pemikiran  filsafat yang  diperlukan memecahkan  masalah kehidupan pada umumnya, Mungkin dapat kita ikhtisarkan  butir  pendekatan ini  sebagai berikut:

Pertama, dengan  pendekatan realitas itu,menjadi bersesuaian atau relevant dengan perkembangan waktu. Praktikkan dulu, laksanakan dahulu, barulah segi segi landasan tori dilakukan belakangan.Persoalannya dimulai dari berpikir sederhana dan praktis.

Kedua, tindakan itu ini dilanjutkan dengan menyempurnakan dalam proses  perkembangan yang berjalan.Inovasinya dikukuhkan dengan teori dan penagalaman lain, dan realitas hakiki dijadikan  rumusan aksiology filosofis itu. Dalam Muhammadiyah diterapkan pola pengembangan, pembaharuan yang beketerusan ( tajdid muamalah). Point kedua ini, adalah wujud dakwah Muhammadiyah dalam rangka mencapai  Islam berkemajuan.

Ketiga, filosofi  inovatif realitas  Muhammadiyah berfungsi sebagai basis metodologi. Dapat disempurnakan terus implementasinya. Rokemendasi kita  adalah perlu komite terpadu dalam kajian filsafat kemuhamadiyah an, yang inovatif secara konsep filosofis dan inovatif juga dalam membangun metode yang semakin menjadikan keilmuan  epistomologis dengan metodologi  relevant untuk masa depan.

Dari perspektif itu, filsafat keMuhammadiyahan sebenarnya, merupakan pembangunan kontruksi berpikir yang sesuai, efektif dan efisien. Membangun Islam yang berkemajuan dalam tata kelola ideology pandangan hidup Muhammadiyah. Yakni memberikan solusi nyata pada  masalah yang dihadapi oleh umat pada umumnya.

Pada akhirnya, memang  tidak boleh pencampur-adukan antara  ontologi dalam membahas apa, lalu epistomologi dalam kajian metode tapak intelektual dan aksiologi tentang nilai , manfaat  atau tujuan. Islam  berkemajuan itu bagian dari nilai,tujuan. Hal itu ada dalam aplikasi  (1) konsep amal, perbuatan dan (2) kajian  intelektual serta (3) tata kelola  ideology, cita cita hidup sebagai muslim. Sesuai dengan  petunjuk  al Qur an.

“Hendaklah ada diantara kamu yang  menjadi umat yang terbaik dengan  berbuat makruf dan mencegah yang mungkar  (al Imran 3:110).”

Jakarta 11 November2018

*) Mas ud HMN adalah Doktor dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)