Beranda » Opini » Budi Dan Bahasa Sebagai Identitas

Selasa, 10 April 2018 - 01:44:21 WIB
Budi Dan Bahasa Sebagai Identitas
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 37 kali

Oleh Mas ud HMN*)

Thilah Haani Jauhar pensarah pada Univeritas Kebangsaan Malaysia Kuala Lumpur, menulis  artikel bertajuk Bahasa Membangun Jiwa bangsa.Artikel  tersebut  dimuat dalam Utusan Malaysia edisi 27 May 2017. Artikel sepanjang seribu kata itu dimuat  rubrik pendidikan dalam Utusan Melayu Halaman yang disediakan bagi  para analisis,  pemerhati pendidikan dan kebudayaan.

Tajuk penting atau teras dari pikiran Thilah yaitu kegelisahan terhadap hilangnya kebanggaan bahasa Melayu di Malaysia  ditengah gegap gempita gerak  global dengan bahasa  asing yang mengiringinya. Kata dia, mereka terbawa arus bahasa inggris, hingga meminggirkan bahasa Melayu. Demikian.tulis  Thilah Haani Jauhar.

Nampaknya tajuk tersebut  keadaan atau situasinya  serupa  pada yang berlaku di Indonesia dan  Malaysia..Disitu dipertanyakan masalah lupa diri, kebanggaan dan peduli. Siapa mau bangga siapa yang mau peduli, Rasa peduli itu sudah lama pergi..Namun apalah daya.Kita lupa diri  hanyut dalam budaya asing.

Mungkin tidak semua kita ingat pada  ungkapan menjaga dan menjujung tinggi bahasa persatuan  adalah bahasa Indonesia yang  intinya bahasa Melayu. Ini adalah petikan dari sepenggal ungkapan Sumpah Pemuda 28 September 1928.Terdapat  kandungan nilai besar yang menyertainya sebagai membangun dengan bahasa Melayu  jiwa  bangsa serumpun

Sayangnya tak banyak yang peduli.Bukan saja tidak punya rasa peduli dan menjunjung tinggi bahasa resmi terebut. Melainkan meremehkan dan merendahkannya

Kita kehilangan motivasi menggunnakan bahasa yang  baik dan benar Bahasa   bahasa Nyokap gua baru pegi.,bokap gue lagi marah.Norak amat... Dia  sudah lebai..

Seandainya Raja Ali Haji, tokoh pahlawan Indonesia masih hidup past akan tercenung lama,memperhatikan bahasa Indonesia- yang berasal bahasa melayu- semakin kacau balau.Bisa juga sedih marah atau menyesalkan mengapa ini bisa terjadi.

Raja Ali Haji seorang tokoh melayu memng meninggalkan waris budaya, tentang kebahasaan, kearipan dan simpul kutrural. Tentang kebahasaan dapat diungkap melalui karyanya Gurindam 12 yang dapat kita petik satu penggalnya

Barang siapa mengenal diri

Maka telah mengenal Tuhan  bahari

Barang siapa mengenal  dunia

Telah mengenal  pada tipudaya

 

Budaya warisan Ali Haji mncerminkan  kesungguhannya agar  mengenal diri, mengenal Tuhan. Begitu juga keharusan manusia mengenal dunia dengan  segala kewaspadaan pada tipu daya.

 Ini juga sejalan dengan metapora klasik kita   yang  menyatakan bahasa dan budi.Disitu budi bahasa bertali kelindan dengan bangsa.Semakin tinggi budi dan bahasa semakin tinggi dan kuasa  suatu bangsa. Sebaliknya runtih budi runtuh pula bangsa. Seperti metapora berikut.

Tegak bangsa karena bahasa

Tegaklah bahasa tegaklah  budi

Hancur budi hancurlah bangsa

Nampaknya,bagi Ali Haji menegakkan  bahasa dan budi itu  adalah identik menegakkan bangsa.Dengan kata lain perjuangan sesungguhnya membangun banfgsa  tidak lain dari membangun bahasa dan budi.

Tidak salah lagi. Apa yang disampaikan Sultan Lingga  abad  ke 18 itu. satu penunjuk arah.Ibarat bintang dilangit gelap bagi nakhoda kapal samudera dalam belayar  mencapai tujuan.

Rosihan Anwar alm seorang wartawan terkemuka  Indonesia juadi ga sama pendapatnya yaitu mengeritik tentang kekacauan dalam bahasa.terus berlansung. Sebagai pelatih .wartawan  sering diungakapkannya.Yaitu mulai dari penalaran dan logika bahasa hingga akronim yang salah, ada pembentukan kata yang  salah. Ada pemakain kata asing yang yang keliru ini sudah menjadi  biasa pada keseharian kita

Rosihan yang sering dipanggil Haji Waang (anda haji), mengangkat sebuah  idea ekonomi kata dalam bahasa Indonesia. Sebuah petunjuk atau gagasan kelugasan dan ketegasan makan bahasa dalam komunikasi Dengan kelugasan hahasa menjadi  eknomis, tidak bertele tele.  

Bila ditinjau negara  bangsa serumpun , seperti Singapore dan Malaysia  mereka sama juga dengan kita. Mereka juga mengalami kesulitan dalam melestarikan bahasa.Antara  bahasa yang ada dalam masyarkat dan pedoman pemakaian bahasa tidak seayun selangkah, masing masing ialan sendiri, Disitu ada perbedaan

Kerajaan Malaysia dalam menetapkan dalam konstiusinya  bahasa resmi negara  bahasa Melayu.Itu dicantumkan dalam fasal 251 dan 162. Sesungguhnya itu juga  sudah j pedoman dan  untuk pemakaian dan pegunaan bahasa dalam praktik

Termasuk  Indonesia  dengan mencantumkan  pada  fasal 36 Undang undang dasar 1945. Yaitu bahasa resmi negara  adlah bahasa Indonesia. Makannya masing masing negara sudah membuat pedoman yang memungkin bahasa  resmi terkawal dengan baik

Pada  kenyataannya  bahasa yang dipakai –sekali lagi bahasa banyak menyimpang- dari pedoman yang ada- menjadi tantangan baru. Di Singapore ada kekhasannya  yakni pejabat resmi  dalam pidato memakai bahasa Melayu.

Ini tercantum  kontitusi Singapura artikel 153. Bahasa resmi bahasa melayu.Meskipun bahasa lain seperti  bahsa ingris, Mandirin dan Tamil. ada juga aturan yang memperbolehkannya

Di Malaysia  sesungguhnya  bahasa negara adalah bahasa Melayu, Tapi  bahasa  komunikasi sehari hari  dalam pergaulan dalam hubungna  bisnis ldbih  sering dalam bahasa Inggris. Bukan bahasa Melayu

Dari permasalahan diatas, masih  sepakatkah kita bahasa adalah jiwa bangsa ? Bahwa  ekpresssi, kejiwaan, maksud , azam dan filsafat kita tidak mungkin dinyatakan dengan bahasa  yang lain. Disitu komposisi kejiwaan terbentuk.

Saya kira lebih patut  kita bersikap tegas..Meskipun jiwa bangsa itu tidak  hanya   dengan simbol saja  dan  .diekpresikan dengan bahasa belaka.Dimungkinkan juga dengan gambar simbol kode tertentu.

Tetapi pembentukan  pembangunan jiwa bangsa dengan simbol atau  gambar  memiliki kelemahan karena tidak lengkap dan utuh.Akan lebih kokoh dibentuk sebagai kesatuan dengan bahasa.

Bertolak dengan pemahaman itu kita harus peduli pada bahasa .Sebagai komnukasi, sebagai  ekpresi diri dan integrasi bangsa. Bahasa yang baik dan benar .Yaitu bahasa  sebagai  bagian pembangunan jiwa bangsa.

 

Jakarta 17 November  2017

*)Penulis adalah Doktor, Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)