Beranda » Opini » Merenungi Konsep Dan Realitas Keutamaan Manusia

Selasa, 17 Juli 2018 - 14:11:12 WIB
Merenungi Konsep Dan Realitas Keutamaan Manusia
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 105 kali

Oleh Mas ud HMN*)

Adanya hubungan konsep ,moral dalam pembangunan, Muhammadiyah sudah lama mengumandangkannya.Hal itu dipandang  sebagai simbolik keutamaan  manusia. Yaitu apa yang disebut  Insaniyah rabbaniyah, kemanusiaan yang berkeTuhanan.

Haidar Nasir Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam satu kesempatan pertemuan beberapa waktu lalu yang dihadiri  ulama dan tokoh pemerintahan pernah menyatakan pentingnya unsur moral dalam pembangunan. Moral itu sendiri merupakan fungsi nurani dalam nilai kemanusiaan. Hampir tidak mungkin membangun yang benar  tanpa nilai kemanusiaan, katanya.

Ucapan Haidar Nasir di atas penekanan  Nilai insaniyah (kemanusiaan) dan rabbaniyah (iman transedental) dalam perspektif kehidupan.  Mengingat tanpa dua unsur itu manusia kehilangan fitrahnya, kesempurnaannya menjadi lenyap. Sementara  manusia menurut Al Quran telah dijadikan sebaik-baik bentuk dan kejadian.

Seperti firman Allah : “Laqad khalaqnal insani fii ahsani takwiim” (Kami jadikan manusia  dengan sebaik baik bentuk dan rupa.)/ Quran surat Attin ayat2)

Ayat ini menyatakan bahwa manusia itu dalam kedudukan tinggi. Simbol  Kebaikan bentuk dan kejadian  itu adalah karena prinsip kemanusiaannya. Karena (manusia) memberi mamfaat, keselamatan pada orang lain. Termasuk keselamatan  lingkungan alam sekitarnya.

Prinsip itu, seperti dikemukakan Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al khasais al ammmah lil Islam hal Insaniyah  menjadi penting sebagai bagian dari nilai iman yang transdental. Intinya insaniyah dan tauhid harus dalam hubungan berkelindan menjadi satu.

Cendekiawan Islam asal Mesir itu sendiri menilai bahwa  ajaran kemanusiaan dalam pandangan Islam berlevel amat tinggi. Satu keharusan yang mesti dilaksanakan sungguh-sungguh dalam masyarakat. Bahkan sampai dalam pelaksanaan dapat mendahulukan masalah kemanusiaan  atau muamalat ketimbang masalah syariat atau hukum, demikian Yusuf Qardhawi.

Apa yang dikemukakan Yusuf Qardhawi diatas sejalan dengan ilmuwan yang lain. Hal itu menarik dan menjadikan kemanusiaan sebagai inspirasi dan juga  solusi. Meminjam istilah seorang guru besar pemikiran Islam dari Bandung yaitu Ahmad Tafsir, bahwa  kemanusiaan yang tinggi bila  ada dalam kapasitasnya. Yang pada  pokoknya tidak melanggar  prinsip fitrahnya sebagai manusia. Dalam pandangan  ini sangat relevan dengan kondisi kini, karena banyak pandangan keduniaan saat ini yang menawarkan ideologi yang anti kemanusiaan.

Menurut Ahmad Tafsir, kemanusiaan dimaksud  harus sejalan dengan nilai transdental keimanan. Komunis misalnya sebagai tipe ideologi memajukan kesejahteraan yang melupakan keimanan trandental, yakni melupakan keimanan keTuhanan. Termasuk materialisme, kapitalisme  merupakan  pandangan yang keliru.

Pada kesimpulan Ahmad Tafsir, pandangan ini melanggar fitrah manusia. Sebab bagaimanapun manusia adalah mahluk juga berketuhanan, insaniaya dan rabbaniyah. Demikian Ahmad Tafsir.

Pertanyaannya bagaimana pandangan Muhammadiyah. Sebab ada juga kalangan anak muda Muhammadiyah tertarik ajaran sosialisme yang saudara kandung ajaran komunisme. Esensi yang digarisbawahi adalah soal sisi ajaran   kemanusiaannya.

Dalam hal ini paham komunisme tidak sesuai dengan prinsip Muhammadiyah. Tidak hanya karena atheisnya komunis, Tapi juga bertentangan dengan fitrah manusia. Mengingat Muhammadiyah punya prinsip tidak hanya kemanusiaan saja, tapi kemanusiaan yang rabbaniyah.

Ketegasan pandangan Muhammadiyah dalam ajaran kemanusiaan itu dapat kita lihat dari paparan Kh Hadjid yang bersumber pelajaran Ahmad Dahlan, yang disimpulkan tujuh bagian yaitu:

Pertama, pelajaran dari ulama tentang kemanusiaan dan kematian

Kedua, pembelajaran tentang  individualisme

Ketiga, Pembelajaran tentang pikiran, perasan dan perbuatan

Keempat, Pembelajaan tentang  kebenaran

Kelima, tentang keihlasan

Keenam, pembelajaran penyucian diri

Ketujuh, pembelajaran ilmu dan amal

Tujuh prinsip ini sangat fundamental dan sejatinya  lahir dari  pikiran  KH Ahmad Dahlan. Kemudian intinya  diuraikan dengan bagus oleh KH Hadjid murid dari KH Amad Dahlan. KH Hadjid dikenal oleh kalangan Muhammadiyah salah seorang diantara figur  Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan pemikiran yang mencerahkan dan brilliant. Termasuk penjelasan terhadap  pandangan Muhammadiyah tentang kemanusiaan. (Musthafa  Daran Muhanhamadiyah Sebagai Gerakan Islam 2005,Citra Karsa Mandiri, Jogyakarta)

Disitu kita temukan  konsep Kemanusiaan berdasar  tujuh prinsip di atas menggambarkan hal penting. Dengan kata lain, pandangan kemanusiaan Muhammadiyah term Jogyakarta dalam tiga dimensi. Baik  dalam dimensi keberadaan, kelanjutan ekdtensial, dan kebenaran. Hal itu kita coba uraikan dalam penjelasan berikut

Pertama, dimensi keberadaan. Ini dapat dikuak dari konsep pertama tentang indidividu dan pemikiran dan kematian.

Kedua, dimensi kelanjutan ektensial. Ini dapat digali dari butir ilmu dan amal, keikhlasan.

Ketiga, dimensi  kebenaran. Butir ini dapat dicari dari butir pencucian diri dan kebenaran.

Hal ini membawa kita kepada dua hal. Yaitu  bahwa kemanusiaan merupakan tujuh prinsip yang dapat disingkat pada tiga inti utama yakni keberadaandan  kelanjutan ektensial, dan kebenaran. Manusia ada, manusia beramal, dan manusia menegakkan kebenaran.

Akhirnya, Muhammadiyah dan Keutamaan  manusia merupakan  konsep yang menjadi tugas sejarah untuk Muhammadiyah berkemajuan. Khususnya Generasi muda amat perlu menyadari. Perlu ada respon jangan diam, Perlu ada kerja, jangan mandek. Perlu eksis, berkelanjutan ! Semoga.

Jakarta 15 Juni 2018

*) Penulis adalah pengajar Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)