Beranda » Opini » Negara Dibawah Bayang Bayang Aristokrasi

Senin, 19 Februari 2018 - 23:35:30 WIB
Negara Dibawah Bayang Bayang Aristokrasi
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 123 kali

Oleh Dr Mas ud HMN*)

Negara dibawah bayang bayang bayang  aristokrasi judul artikel ini  berangkat dari adanya asumsi capital dan politik berkoreleasi dengan Pemilihan umum (baca Pilkada dan Pemilihan Presiden) yang akan datang. Kapital dan politik disini dimaknakan special klas yang identic aristokrasi .Mengingat aristokrasi adalah system special klas (bangsawan) atau  kekuasaan beberapa pihak.Yang kemudian dapat  jadi penompang  yang menunggangi demokrasi

Lantas,dalam hal system demokrasi kita, mungkinkah itu terjadi ? Maksudnya system demokrasi dari rakyat  untuk rakya dipilih oleh rakyat,dapat  bergeser kepada untuk kepentingan beberapa pihak lain. Sebuah kemungkinan bisa saja .

Kita tidak menghendaki.Hanya karena pemilihan umum akan berlangsung, hasil akhir kita belum tahu. kita menunggu.Semoga saja denokrasi rakyat kita cita citakan. tidak beralih kendali.Sungguhpaun demikian, sekadar pandangan kritis kita, dibawah ini penulis mengajukan anlisis  dari sudut  persfektif sejarah system aristokrasi.Kemungkinan eksisnya aliran ini dimasa depan

Bayangan masalahnya..sederhana saja.Jika  ada system yang kurang berfungsi atau tidak sukses pelaksanannya orang ingin kembali kepada system  lain.Seperti disebutkan bidal klasik yang mengatakan  kalau salah diujung jalan, kembalilah kepangkal jalan.

Artinya, secara umum titik poinnya kembali kemasa lalu.Arti lainnya  berubah menjadi surut kebelakang  seperti masa dulu. Bukannya coba  control terhadap sesuatu yang berlansung dengan  cek dan ricek pada  basis tumpuannya. Apakah jalan yang ditempuh masih sesuai tujuan.

Dari sisi pandangan  umum inilah terjadi.Yakni pola berpikirnya orang yang a historys. Tentu melanggar prinsip kajian sejarah. Padahal masa lalu itu tidak mungkin kembali.Aristokrasi berubah  menjadi demokrasi dan berubah kembali ke aristokrasi lagi atau neo aristokrasi

Penulis melihat gejala ini   makin popular. Apalagi dalam sisi pragmatis ini sangat mungkin. Dari pada demokrasi yang rumit, dan tak segera mampu memberi solusi. Disinilah aristokrasi  jilid dua ini menjadi patut dikaji

Bisa dikatakan, aristokrasi turunan atau  anti tesis dari system politik demokrasi itu,  Latar belakang lahirnya ketika. demokrasi dianggap sangat egaliter dan tak memenuhi kehendak penguasa.Karena demokrasi merupakan  kekuasaan rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat.Akibatnya kepentingan tertentu terpinggirkan. Keadaan ini  memunculkan pertentangan kepentingan.Antara lain kalangan pengusaha,elit politik, dan bangsawan.Karena sama kepentingan, dalam rangka eksistensi kelompok,munculah isu kontra terhadap demokrasi  egaliter

Isu yang diusung  adalah demokrasi itu rumit,demokrasi itu tidak mensejahterakan.Serta memunculkan ketidak stabilan Negara. Negara demoratis membawa  Negara lemah

Diajukan jawaban  dari kondisi ini—menurut penentang demokrasi egaliter— harus diganti. Gantinya adalah kekuasaan hanya  dipegang kendalinya oleh special klas atau  beberapa orang atau   aristokrasi jilid dua. Partisipasi rakyat menyerahkan kepada kelompok yang dipercaya sebagai sosok  legitimet itu. Gagasan ini dimulakan abad 19 asal di Eropah.Masa setelah demokrasi di Amerika (1776) dan Perancis  (1789) .Persisnya  adalah satu abad pasca lahirnya demokrasi

Dalam persfektif sejarah,ini menarik. Karena mengesankan perubahan sebuah peradaban.Suatu change berbasis kajian  kekuasan dan system pemerintahan yang berkaitan dengan masalah Sosial.

Seperti dikatakan  Hendrict Ibsen (1797-1876) pemikir,sastrawan dari   Denmark abad 19 bahwa demokrasi masih menyisakan masalah. “ More Democrcy cann’t solve the social question.An element of aristoracy most introduce of rill need”) Demokrasi tidak mampu memberi jawaban pada masalah social.Sementara  aristokrasi  mengusung  arti dan makna  keperluan dasar kehidupan).

Disini, Hendrict Ibsen  datang dengan  menunjukkan sikapnya kritis.Yakni sikap ditujukan terhadap demokrasi yang tak kunjung mampu menyelesaikan banyak masaalah social.Ia setuju pada gagasan aristokrasi sarat dengan unsur  kemanusiaan yang bersifat riil.Ketimbang demokrasi dengan slogan belaka.

Ia menambahkan aristocrasy  membuka kehendak bebas kita.Mengingat  aristokrasy adalah sebagai element kemauan.Hanya dengan kemauan kita akan bebas. “I mean the aristocracy of character  of will mind. That only can free us” Kritik  kerasnya dituangkannya dalam sebuah buku mounentalnya  yang berjudul Enemy of The People (1852)

Kebebasan individu baginya amat penting.Individu yang telah tercecer ditengah rezim penguasa.Individu dilestarikan dalam  “contraversi with an irony,dogmatic, interested and truth” dalam bukunya “An Enemy of The People”

Dari persfektif aristokrasi, jelas terdapat gagasan.Yakni lebih baik arisitorasi ketimbang demokrasi.Alasanya yang dikemukakan demokrasi  itu rumit, sulit serta tak kunjung memberi solusi pada keperluan masyrakat luas,Aristokrasi hanya ditangan penguasa beberapa orang,akan efektif dan tidak rumit.Hanya saja disini tidak berbicara idealisme demokrasi hak dari dan kepentingan untuk rakyat. Dari persfektif mudah tidak rumit aristokrasi memang benar.Karena component kerjasama.Namun istilah tidak rumit itu sendiri mengandung kerawanan

Bayang bayang kerawanan  aristokrasi justru terletak pada kerjasama tersebut. Mengingat tidak ada kerjasama tanpa kepentingan.Semakin erat kerjasam sebuah system akan terleminir kekuatan  unsur lain.Pokok perkaranya  adalah untuk kepentingan siapa

Sebagai bagian akhir, bayang bayang aristokrasi terlihat samar dari koalisi kini.Khususnya  dari pengaruh capital asing terhadap isu koalisi politik. Isu itu bersinggungan dengan kekuasan siapa menjadi Presiden  tahun 2019.

Semoga saja koalisi adalah koalisi rakyat.Bukan koalisi pihak yang dibawah pengaruh interest asing.Koalisi yang semata untuk kepentingan rakyat Indonesia.Tak ada kompromi dengan  dengan a nasionalis. Hanya ada kerjasama/koalisi dengan kebaikan demi kesejateraan bangsa..

Jakarta 29 Januari 2018

*) Penulis adalah Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)