Beranda » Opini » Jihad Kontitusi Itu (Menjaga) Persatuan

Selasa, 09 Januari 2018 - 00:32:14 WIB
Jihad Kontitusi Itu (Menjaga) Persatuan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 13 kali

Oleh DR Mas ud HMN*)

REFUNGSIONALISASI  paradigma makna kata persatuan  dalam masa tahun  politik ini semakin penting.Selain penting juga aktual serta persatuan adalah final. Negara ini menjadi tidak bermakna dan berantak.an jika persatuan itu hilang. Jadi bagi Republik Indonesia yang  seluas dan sebesar ini memerlukan persatuan.

Kita tidak  dapat membayangkan bagaimana Indonesia yang tidak dibingkai dengan persatuan.Keaadan demikian  menyesakkan  nafas. Karena dapat berubah menjadi  era kelam bangsa ini.

Maka tidak  terlalu keliru kalau ada pendapat yang mengatakan siapa yang merusak persatuan adalah  penghianat dan adalah sebagai musuh. Sebaliknya siapa yang menjaga dan mengawal persatuan adalah patriotik dalam setting  jiwa nasionalisme bangsa. Yaitu satu nilai moral kebersamaan yang tinggi

Sungguh amat  pentingnya persatuan itu .Argumennya  tidak tanggung tanggung dalam tanggung jawab  kollegial kita sebagai anak bangsa  .Nilai flosofis ini tertuang dalam aline ke34  dari UUD 1945. Intinya perjuangan menegkkan persatuan adalah  “jihad  konstitusional”.

Apa lagi dalam tahun politik menghadapi Pilkada serentak dan pilpres  2019,maka pantaslah menjadi tema umum dewasa ini menjaga persatuan.Mengingat kemungkinan anasir penceroboh, dan provokator memasuki wilayah politik pada waktu Pilkada 2018 dan Pilpres 2019  dilaksanakan. Perbuatan aksi mereka berpotensimenimbulkan  kerusuhan dan kegaduhan berlansung.

Untuk Indonesia  yang seluas dan sebesar ini peluang rusuh dan potensi  gaduh bukanlah mengada ada.Bayangkan Pilkada akan dilansungkan pada 17 Provinsi dan 115 daerah  serta 39  kota. Disiapakan tempat pemberian suara  serbanyak 32 ribu kotak suara.

Terbersit disitu  kekhawatiran  dalam pelaksanaan tahun politik periode ini adakah kemampuan  menjaga persatuan itu bisa  menjadi kesadaran bersama komponern bangsa ini.Atau kita tak peduli ? Hanya kita berpura pura peduli, namun sejatinya masa  bodoh belaka.

Jawab dari soalan ini  adalah kita tidak tahu persisnya solusinya seperti apa.Sebab pengalaman “budaya artifisial” atau  perilaku seolah olah memang sudah hal biasa di Indonesia. Budaya pura pura, perlaku “pepat  diluar runcing didalam” alias curang, banyak buktinya sepanjang sejarah politik di negara kita.. Perangai seperti  Itu belum hilang.

Tentu bukanlah demikian seharusnya. Kita  harus meng antisipasi jangan sampai keburukan berulang. Betapun  beratnya melawan  yang salah itu.Apalagi luasnya permasalahan Yakni mulai dari  diemnsi Sara,politik uang, masalah partai politik, dan dimensi hukum

Saya mengamati hal itu terindikasi dalam  beberapa dimensi.Entah terjadi lewat episode sejarah,atau berlansung  sebagai fenomena  dalam kenyataan sehari hari dalam masayrakat.Setidaknya ada dalam hal seperti  berikut

Dimensi Pertama ,kaitan persatuan dengan Seara,Unsur Sara yakni suku ras dan agama dapat menjadi perekat dan persatuan bangsa juga  dapat menjadi sumbu  munculnya perpecahan. Dimensi ini  hampir merata dimilki  oleh provinsi dan  kabupaten kota seluruh Indonesia

Seperti diingatkan oleh mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif agar  isu unsur Sara diwaspadai. Maksudnya  jangan  sampai dibawa bawa dalam kompanye politik Pilkada  atau Pilpres nanti.Meskipun demikian melarang isu  Sara dalam proses kampanye Pilkada dan Pilpres tetap saja sulit.Biasanya banyak yang dilanggar.Penulis juga tidak begitu yakin.Isu sara berlatar belakang sejarah panjang, bahkan telah dijadikan isu strategis kepentingan tertentu oleh yang menantang soal Sara itu sendiri.

 Dimensi gangguan kedua, faktor persatuan dengan politik uang.Fenomena ini amat umum, artinya membagi bagai uang untuk transaksi suara dalam Pilkada dan Pilpres. Meminjam istilah  Chusnul Mariah, dosen ilmu politik dari Universitas Indonesia, bahwa  kandidat yang tidak kredibel disatu  daerah pemilihan, tapi menebarkan uang, dan menang. Kata dia, Ini menjadi cacat besar dari demokrasi yang sehat.

Saya mengamini pendapat  bu Chusnul Mariayh diatas. Karena akibat hasil pemilihan demikian akan membawa luka, mencenderai persatuan serta berakibat jauh.Berani membayar membeli suara, atau  dengan istilah”wani piro” adalah cacat besar  demokrasi.Karena melahirkan pemimpin yang tanpa kredibel, kurang dipercaya dan lancung (imitasi)

Perpecahan tidak terjadi  sebab pebedaan pendapat.  Jamak juga  terjadi juga oleh sebab lain. Yaitu  berpecah belah karena  beda pendapatan (income) dari  politik uang.

Dimensi ke tiga adalah unsur persatuan dengan partai politik , Soal ini klasik sekali. Mengingat dari dulu dulu kala tertumpu harapan  Partai politik harus mendidik dan menjaga  anggotanya. Mengedukasi  pendukung partai  masing masing dengan  baik dan jujur.

Gejala  ketidak dsipilinn anggota partai, akibat kegagalan  sosiliasi  tentang  Pemilu berimpliksi banyak Tidak jarang terjadi perpecahan partai menimbulkan perpecahan masyrakat. Semestinya kita hindari.

PartaI  menyuburkan persatauan, melainkan membuat kita “ bersatu –satu” alias berantakan.Bahakan  lebih parah lagi bukan persatuan yang terwujud tetapi  yang terjadi “persatean” saling mennceakakan.

Keempat,dimensi  persatuan dalam penegakan  hukum.Hal itu berkaitan dengan pelaksanaan hukum yang adil dan  berkepastian.Ini menjadi unsur yang vital sekali. Masyrakat dan penegak hukum harus bersama sama melaksanakan tertib hukum. Jangan sampai “pecah kongsi ditengah perjalanan” Harus diingat tanpa kesungguhan  persatuan tidak akan tegak dan berfungsi dalam masyrakat.Sesuatu yang kita tolak

Agaknya empat dimensi ini berkorelasi kuat dengan persatuan dalam menyonsong pelaksanaan Pilkada  dan Pilpres nanti.Dengan kata lain persatuan fungsional dalam praktek amat tergantung dari unsur Sara,politik uang, kemantapan parpol dan penegakan hukum yang berkepastian dan adil,

Dapat kita simpulkan Itulah fungsi final dan  aktual  kata persatuan.Kata persatuan menjadi taruhan kebangsaan kita  kedepan. Genderang  Jihad menegakkan persatuan  seperti diamanahkan  kontitusi harus kita  tabuhkan.Tidak ada yang boleh bermain main dalam hal ini.Siapapun dia.Kita berjihad menegakkan kontitusi. Jihad kontitusi  adalah  bernama menegakkan persatuan.

 

Jakarta 4 Januari 2018

*) Penulis adalah Doktor dan  Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)