Beranda » Opini » Ndeso Dan Harapan Masa Depan

Minggu, 24 Desember 2017 - 17:06:41 WIB
Ndeso Dan Harapan Masa Depan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 45 kali

Oleh Dr Mas ud HMN Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu Jakarta.

PRASA KATA Elit Ndeso, bermakna sebagai sosok pribadi  modern orang kota memakai  dasi berasal dari desa, namun pembawaan atau sikap  masih   tetap sebagai aslinya .Simbol tersebut kita terima penuh sukacita lantaran tersirat makna  penampilan elit kota namun masih wong adi desa. Mengapa tidak, karena  80 percent elit atau pemimpin kita  adalah orang desa.

Hanya saja masih terdapat orang  yang  kesulitan untuk otomtis begitu.Kalau sudah elit ngapain untuk (lagi)  jadi orang desa lagi. Untuk apa. Bukankah tujuan orang desa adalah menjadi “keren” jadi elit di kota. Kota lebih mencerminkan harapan, dengan iming iming peluang untuk sukses besar.

Hal itu harus diselaraskan.Karena berdasarkan  desa  kini menjadi tema besar pembangunan bangsa  kemasa depan. Artinya transformasi perubahan yang  bukan lagi  semua kemewahan milik kota.Tegasnya telah banyak dibicarakan dalam  seminar dan diskussi. Intinya  desa  menjadi titik penting.

Faktanya arti penting tentang  desa tertuang pada Peraturan Pemerintah no 7 tahun 2016 tentang pembangunan desa yang ditanfizkan (disahkan)  dalam peraturan pelaksanaan didalam  pp  no 7 tahun 2017 desa mendapatkan suntikan anggaran cukup besar. Besarannnya mencapai 60 triliyun secara  nasional . Perdesa  1milyard rupiah.

Anggaran itu dipolarisasikan dalam dua bentuk turunan pembangunan untuk bidang sarana dan pembunganan kemasyrakatan.Kebijakan  ini tentu penting dalam mengiringi sasaran mau dicapai. Juga berkaitan dengan akuntabilitas realisasi anggaran.

Mari acungkan jempol tanda setuju dan hormat.Tidak tanggung tanggung pemerintahan Jokowi  dan Yusuf Kala  membangun saana dalam skala tinggi dibanding era sebelumnya yakni pemerintahan SBY dan Boediono.Sementara era Jokowi Jusuf  Kala  sampai tahun 2016  telah dibangun jalan desa 66.884 km

Disamping  pembangunan jalan desa, jembatan juga tak dilupakan. Dalam tahn anggran bersamaan (2016)  dibangun jembatan 512 km.Meningakat 120 persent dari tahun anggaran sama sebelumnya.  

Sarana ekonomi masyrakat juga dibangun. Yaitu berupa  pasar desa. Secara quantitatif  pasar desa  telah diabangun sebanyak   1819 unit.

Bagaimanapun setting masyrakat kita berbasis pedesaan  adalah sejatinya  Indonesia.Darisinilah berjejaknya cita cita kemakmuran. Dari hamparan  tanah dan hutan dengan laut pantai luas sejauh mata memandang.

Bung Hatta melukiskan ekonomi dari basis  itu dibangun kebersamaan kolektivisme  ekonomi.Pendidikan ekonomi bagi rakyat dilakukan  supaya ada perekonomian baru  yang berdasarkan  cita cita bersama. Suatu kondisi pekerja sendiri  yang berkembang,Demikian Bung Hatta (Bung Hatta Pribadinya Dalam Kenangan  Metia Farida Hatta,298.1980)

Agaknya setting ekonomi kerakyataan seyogyanya terkait dengan pembagunan desa.Itu pun sejalan dengan spirit otonomi daerah yang terbuka, transparat dan partisipatif.Tinggal lagi pelaksanaannya di lapangan.

Diatas semua itu, pelajaran yang diberikan Bung Hatta  untuk pembangunan desa dapat kita ejawantahkan dalam pembangunan ekonomi desa, Titik fokus ekonomi kerkayatan dengan kebersamaan,Ekonomi  berdasarkan azas keleuargaaan atau koperasi.Semoga

Jakarta 16 Desember 2017

*) Dr Mas Ud HMN Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta 


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)